Posted by: akhdaafif | November 14, 2008

Artikel September 08

Mencari Pahlawan Muda Indonesia

Krisis bangsa saat ini memang telah menggurita. Krisis yang diawali dari terpaan badai ekonomi 10 tahun silam. Lantas disusul dengan tersingkapnya krisis politik, budaya, sosial, dan moral. Kita seharusnya tidak terbenam dalam keterpurukan dengan senantiasa mengutuk keberadaan permasalahan bangsa seperti yang terjadi saat ini. Krisis adalah takdir semua bangsa, sebagaimana perjalanan hidup manusia, adakalanya berada dalam kejayaan, dan suatu waktu ia terjatuh dalam keterpurukan.

Hal yang seharusnya kita khawatirkan adalah belum lahirnya sosok-sosok pahlawan dari berbagai krisis multidimensi itu. Krisis identitas bangsa ini 80 tahun silam jauh lebih berat. Namun, generasi saat itu berhasil mengilhami solusi identitas tersebut dengan lahirnya Sumpah Pemuda. Sebuah pernyataan kesepakatan yang menyingkirkan berbagai perbedaan dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa. Atau kita dapat merefleksikan diri pada momentum 10 November di Surabaya, saat fragmen semangat dan keberanian tersinergi dalam perjuangan mengangkat senjata.

Sejarah telah mencatatkan bahwa sosok-sosok pahlawan lahir dari para generasi muda. Berbagai peristiwa bersejarah di Indonesia dan juga di berbagai penjuru dunia lainnya telah membuktikannya. Maka ketika muncul kekeringan sosok pahlawan di negeri ini, berarti ada sesuatu yang keliru dalam diri para pemudanya.
Ada banyak faktor yang mempengaruhinya. Di satu sisi dapat dilihat bahwa telah terjadi distorsi makna kepahlawanan. Bagi beberapa komunitas pemuda, menjadi pahlawan adalah dengan berjuang mendapat wanita pujaannya, meskipun harus beradu fisik dalam perebutannya. Dalam komunitas yang lain, pahlawan adalah mereka yang siap bertarung dengan rekan sekampus lainnya demi gengsi fakultas. Atau bisa jadi, pahlawan adalah mereka yang hidup layak berkecukupan, meskipun untuk menggapainya tak segan main sikut kanan maupun kiri.

Mungkin pula jenak idealisme dan perjuangan telah terkikis seiring berjalannya waktu. Nilai-nilai kepahlawanan telah asing dalam keseharian kita. Para pemimpin tidak mampu mencontohkannya karena sibuk berkutat dengan agenda kekuasaannya sendiri. Adapun kita, yang menisbatkan diri sebagai rakyat, tidak mampu menjadi inisiator keteladanan tersebut.

Sosok pahlawan tidaklah datang tiba-tiba dari langit. Ia dibentuk dan dibina dalam kerasnya persaingan hidup. Baik dalam kehidupan pribadi maupun sosial. Ia juga seperti kita, manusia biasa. Salah satu hal yang membedakannya dengan yang lainnya adalah naluri yang terhujam kuat dalam pikiran dan sanubarinya, bahwa hidup haruslah berkontribusi. Memberikan seluruh kemampuan terbaik yang dimilikinya untuk kebermanfaatan orang banyak di lingkungannya.

Momentum 10 November adalah saat yang tepat bagi para pemuda Indonesia untuk tidak sekedar melihat rekam jejak para pahlawan bangsa. Yang lebih penting adalah bagaimana karakteristik para pahlawan tersebut dapat diteladani dan diterapkan dalam keseharian kita.

Bagaimanapun juga, bangsa ini masih butuh banyak lahir sosok pahlawan muda untuk berpadu menyelesaikan berbagai krisis bangsa. Seperti apa yang disampaikan oleh seorang penulis, “mereka bahkan sudah ada di sini. mereka adalah aku, kau dan kita semua. mereka hanya belum memulai untuk merebut takdir kepahlawanan mereka”.

Posted by: akhdaafif | October 30, 2008

Punctuation is Powerfull

An English professor wrote the words:

“A woman without her man is nothing” on the chalkboard and asked his students to punctuate it correctly.

All of the males in the class wrote:
“A woman, without her man, is nothing.”

All the females in the class wrote:
“A woman: without her, man is nothing.”

Therefore “Punctuation is powerful”

dikutip dari sebuah milis

Posted by: akhdaafif | October 22, 2008

Artikel Agustus 08

Peduli Apa dengan Pornografi!!

Kalau saya ditanya apakah senang kalau melihat wanita setengah bugil, misalnya cuma berpakaian bikini seperti yang umum terlihat di pantai-pantai, dengan penuh semangat, hati dan kepala saya akan mengiyakan tanda sepakat. Tak perlu berkilah ataupun membantah karena memang kenyataannya naluri kelelakian saya berujar demikian. Apalagi kalau ada di antara wanita-wanita itu yang mau menemani saya jalan-jalan sebentar di mall. Betapa semakin girang bukan main hati saya ini. Mungkin sampai seminggu setelahnya, tiap malam saya akan memimpikan wajahnya.

Demikian juga dengan judi, togel, atau apapun yang secara substantif bermakna seperti itu. Judi sama menariknya sebagaimana wanita karena judi adalah gunung harapan, bukit angan-angan, dan juga mimpi indah masa depan. Di tengah himpitan kepenatan hidup sekarang ini, entitas judi laksana obat mujarab. Dibandingkan mendengarkan luapan janji petinggi negeri yang tak terbukti, betapa sulitnya mencari penghidupan yang layak, serta repotnya mencari biaya untuk membeli baju sekolah anak-anak, ikut andil berjudi membuka harapan solusi dari berbagai problem tersebut. Dan selaku manusia, mari kita jujur pada masing-masing kita sendiri, bukankah harapan itu seringkali lebih menyenangkan dibandingkan kenyataan?

Apalagi tentang khamr (minuman memabukkan), ganja, ekstasi, sabu-sabu, pil koplo. Segala macamnya adalah pelarian dari berbagai nasib buruk kaum papa, golongan marginal, serta ribuan anak-anak yang broken home dari keluarganya. Saat mabuk, mereka merasa telah berada di alam lain. Seolah-olah tetek bengek yang membebani kepalanya itu terpinggirkan, entah di kolong langit sebelah mana, untuk sementara waktu. Dan kemudian muncul perasaan lega, free, merdeka meskipun di dalam relung sanubarinya mereka mengimani sepenuhnya bahwa setelah efek obat-obatan itu habis, mereka akan kembali ke nerakanya. Nyatanya mereka tetap apatis.

Lantas mengapa agama kemudian melarang sesuatu yang menyenangkan seperti itu bagi manusia? Karena agama memang tidak bermain dalam tataran senang ataupun benci. Suka atau tidak suka. Agama adalah kajian teologis yang membingkai manusia dalam kerangka baik dan buruk. Sementara alat ukur kesenangan manusia sendiri adalah nafsu, bukan nilai norma, kultur sosial, boro-boro aturan Ilahiah. Dan di dalam dunia manusia, sesuatu yang menyenangkan nafsu acapkali berada dalam kuadran ketidakbaikan. Begitu pula sebaliknya.

Menjadi produser film porno itu sangat menguntungkan. Tak perlu keluar banyak ongkos untuk kostum dan make-up artisnya, tapi jaminannya berpuluh-puluh lipat keuntungan. Apalagi bagi redaksi, wartawan, agen, artis hingga loper dari majalah, koran dan tabloid porno. Begitu pula aksi goyang ngebor, ngecor, kayang, sanca adalah aktivitas yang bisa menghibur orang sekaligus cara instan memperoleh popularitas dan imbalan yang tinggi.

Jangan tanyakan kepada mereka tentang konsekuensi aktivitas itu dengan potensi perusakan mentalitas anak bangsa atau generasi penerus masa depan negeri ini. Itu urusan keenam ratus lima puluh tiga. Bisa jadi malah sekedar onggokan kertas yang sudah digulung-gulung lantas ditendang-tendang atau dilemparkan ke tong sampah dengan gaya lay up shoot ala Michael Jordan atau Tim Duncan. Prioritas yang paling utama tentu saja seberapa gepok rupiah yang bisa masuk ke kantong atau rekeningnya di luar negeri.

Mungkin suatu waktu Anda iseng bertanya kepada mereka, “Bukankah kalian-kalian ini adalah orang beragama, yang diperintahkan harus mencintai Tuhan dan Nabi kalian? Kok Anda tidak menaati perintah untuk menjaga aurat dan memuliakan kehormatan wanita?”

“Tentu saja kami mencintai Tuhan dan Nabi kami, tapi mbok ya tolong beri dispensasi kami sedikit saja biar tetap bisa goyang ngebor, bikin majalah ataupun film porno. Cuma itu kok…”, jawab mereka.

* tulisan ini dibuat sebagai kado untuk rekan-rekan yang berjuang untuk meluluskan RUU Pornografi

Posted by: akhdaafif | October 13, 2008

Renungan Syawal

Entah harus bersikap apa setelah Ramadhan tahun ini selesai. Haruskah sedih? Ataukah bergembira? Sedih karena berpisah dengan bulan yang begitu mulia. Bulan penuh barokah. Bulan yang menjadi latihan terbaik bagi jiwa-jiwa yang mengaku bahwa di dalam hatinya, meskipun cuma sebiji atom, percaya bahwa Allah itu ada beserta segala kekuasaan-Nya. Sedih karena ternyata ternyata ada tuntutan di bulan-bulan berikutnya untuk bisa membuktikan hasil pelatihan Ramadhan.

Apakah tilawah yang dulu berjuz-juz di Ramadhan akan terus berlanjut di Syawal ini? Akankah infaq ataupun shadaqoh itu masih tetap istiqomah? Yakinkah penjagaan diri dari berprasangka itu menjadi salah satu jalan hidup kita? Ataukah semuanya itu cuma sekedar numpang lewat? Cuma sebulan. Hanya ketika Tuhan menjanjikan begitu banyak balasan, sedangkan di bulan lain tidak?

Ah, begitu kapitalisnya kita seandainya demikian. Dengan Tuhan pun kita berhitung. Makhluk macam apa kita jadinya? Kalau begitu, tidak jauh bedalah kita dengan keledai di mana dia terperosok jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Bahkan mungkin kita lebih hina darinya karena ternyata Ramadhan ini bukanlah Ramadhan yang kedua dalam hidup kita. Sudah berkali-kali. Bahkan mungkin berpuluh kali.

Dan bisa jadi pascaRamadhan tahun ini bagi kita adalah kegembiraan. Karena toh, Tuhan masih memberikan kita kesempatan untuk melebur sekian banyaknya dosa yang telah kita lakukan. Karena Tuhan begitu welas asihnya dengan menjadikan kita sempat beramal, mudah-mudahan dengan sebaik-baik amal, di bulan itu. Dan Dia ingin supaya kita dapat membuktikan kepada-Nya bahwa kita akan menjadi hamba yang bisa menerapkan pelajaran Ramadhan di sebelas bulan lainnya.

Kalau kemudian di bulan Syawal ini, aktivitas sebelum Ramadhan kita ternyata tidak ada bedanya dengan sekarang, kemungkinan besar ada yang salah dengan pemahaman kita terhadap Ramadhan itu. Kalau faktanya keseharian kita lebih diisi dengan banyak aktivitas yang tidak bermanfaat, apalagi sia-sia, sepertinya perlu ada evaluasi besar, sebenernya sudah ngapain aja kita di Ramadhan kemaren. Seandainya kualitas kesalehan kita setelah Ramadhan ini masih sebatas pada kesalehan individu dan belum beranjak menuju kesalehan sosial, lupakan saja Ramadhan yang lalu.

Segera perbanyaklah istighfar karena bisa jadi hati kita sudah tertutup. Atau mungkin ditutup. Karena kesombongan di hati kita nampaknya sudah terlalu besar. Menyangka kebahagiaan yang kita terima adalah rahmat. Padahal, Tuhan sedang meng-istidraj-kan kita. Mengulur pelan-pelan. Semakin lalainya kita, semakin diulurlah benang istidraj itu. Dan suatu masa, ditariknyalah semua dalam sekejap. Dan kita hanya terpaku. Terlambat menyadari. Semuanya telah sirna. Astaghfirullah…

Posted by: akhdaafif | October 6, 2008

Memori Wisuda Fakultas

Hmm, sebenernya pengen posting ini dari lama. Tapi, baru bisa terealisasi sekarang karena kendala teknis dan nonteknis, hehehe… Jadi ceritanya gini, waktu saya dan temen2 fasilkom wisuda tingkat fakultas kemaren 29 Agustus 2008, saya diberikan tugas nih sama panitia (tepatnya sih Arya hehe…) buat ngasih sambutan sebagai perwakilan wisudawan/wisudawati.

Pertama kali baca sms itu, shock juga. Sapa sih saya?? Kenapa bukan Mahendra misalnya. Dia kan Mapres Utama Fasilkom 2008. Atau mungkin temen2 lain yang sudah punya prestasi di tingkat nasional dan internasional. Dan jumlah mereka tidak sedikit. Tapi, kemudian saya menyadari bahwa ini adalah amanah. Lantas saya buang semua pikiran prasangka itu. Apapun alasannya, masa bodo lah. Yang paling penting adalah saya sanggup menyelesaikan tugas ini dengan sebaik-baiknya.

Maka, mulailah saya membuat poin-poin penting apa saja yang akan saya sampaikan. Di tengah-tengah proses adaptasi magang, saya susun kerangka tulisan dan tulisan itu sendiri. Alhamdulillah, lebih kurang selama dua atau tiga hari, sambutan itu bisa selesai. Tepat sebelum gladi bersih wisuda fakultas dimulai :).

Dan ketika dibacakan, sungguh saya sangat terkejut dengan sambutan dari audiens acara wisuda lewat tepuk tangan, yang menurut saya sangat luar biasa. Dan saya lebih terkejut lagi, ketika bapak Dekan ternyata menyejajarkan sambutan saya dengan sambutan Barrack Obama ketika konvensi partainya (berlebihan tuh Pak, hehehe). Alhamdulillah, komentar-komentar dari beberapa orang juga terlihat sangat baik. Padahal, saya mengira sambutan itu terlalu gimana gitu…

Dan di akhir perjalanan saya sebagai seorang mahasiswa di Fakultas Ilmu Komputer UI, ada kegembiraan dan kebanggaan yang terhujam dalam di sanubari. Bahwa paling tidak, saya telah berkontribusi di kampus ini. Sangat sedikit memang. Tapi, tak apalah. Toh, saat masuk pun saya bukan siapa-siapa. Terima kasih untuk semuanya, untuk segalanya… Oh ya, saya tampilin juga sambutan wisudanya. Mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi yang membacanya.

NB: Maaf Bu, Pak, Zoel. Mas sengaja tidak memberitahukan bahwa akan maju memberikan sambutan. Mudah-mudahan itu bisa jadi kado kecil buat kalian di hari wisuda ananda. :)

———————————————————————————————————————————————————–

Yth. Bapak T Basaruddin, Dekan Fakultas Ilmu Komputer UI
Yth. Bapak/Ibu Pimpinan di Fakultas Ilmu Komputer UI
Yth. Bapak/Ibu Staf Pengajar Fakultas Ilmu Komputer UI
Yth. Bapak/Ibu Staf Karyawan Fakultas Ilmu Komputer UI
Yth. Bapak/Ibu Orang Tua/Wali dari Wisudawan/Wisudawati
Dan yang saya cintai dan banggakan, rekan-rekan Wisudawan/Wisudawati

Sambutlah salam hormat saya,
Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Segala puja dan puji hanya milik Allah, Rabb Yang Maha Menciptakan dan Memelihara alam semesta ini. Sepatutnyalah pula, ungkapan syukur juga kita panjatkan ke hadirat-Nya karena berkat karunia dan keridhoan-Nya, pada kesempatan yang berbahagia ini, kita dipertemukan dan dikumpulkan di ruangan ini dalam acara pelepasan wisuda Fasilkom UI semester genap 2008.

Sholawat dan salam bagi teladan terbaik umat manusia, Rasulullah Muhammad SAW. Seorang panglima perang yang berani, tetapi juga adalah ayah dan suami yang penyayang dan lembut bagi keluarganya. Seorang lelaki yang tegas dan keras terhadap kedzoliman, namun terkenal akan kesantunan dan kedermawanannya. Dan dunia pun mengakuinya sebagai tokoh nomor satu yang paling berpengaruh dalam sejarah peradaban dunia.

Hadirin yang berbahagia,
Sungguh merupakan suatu kebanggaan dan kebahagiaan luar biasa bagi kami, yang sekarang berada di ruangan ini, karena acara ini adalah suatu seremoni yang menandai telah berakhirnya tugas kami dalam menempuh pendidikan di kampus Fasilkom UI. Kami bangga menjadi anggota dari keluarga besar kampus ini. Kampus yang punya visi besar. Kampus yang dikenal karena keramahan warganya. Kampus yang memiliki kualitas, integritas, dan moralitas yang tidak hanya diakui dalam skala nasional, tetapi juga oleh dunia internasional.

Perkenankanlah saya dalam kesempatan ini, mewakili rekan-rekan wisudawan/wisudawati yang lain, untuk mengucapkan rasa terima kasih kami pertama kali kepada ibu dan bapak kami. Terima kasih atas lantunan doa yang tiada henti di akhir shalat fardhu dan di tengah keheningan tahajud. Terima kasih pula atas segala kerja keras yang tak kenal lelah, sejak kami berada dalam kandungan, dilahirkan, mulai sekolah di SD, kemudian masuk ke SMP, beranjak ke SMA, hingga di bangku kuliah. Kami sadar bahwa kami tidak mampu membalas balas budi itu. Namun percayalah, bahwa kami selalu ingin memberikan yang terbaik dari segala hal yang kami lakukan, sebagai ungkapan terima kasih atas pengorbanan kalian berdua. Termasuk gelar sarjana yang saat ini telah kami raih.

Kami juga ingin memberikan penghargaan setinggi-setingginya kepada kepada Bapak/Ibu Pimpinan; Bapak/Ibu Staf Pengajar dan Karyawan; Bapak/Ibu Janitor; Bapak-bapak Satpam; rekan-rekan kuliah, dan keluarga besar Fasilkom UI yang lain. Betapa kehidupan kami di sini telah menggoreskan memori yang amat mengesankan, penuh tawa dan canda, dan penuh dengan suasana kegembiraan. Inilah salah satu episode hidup yang tidak akan kami lupakan, kapanpun, dan di manapun kami berada.

Dari lubuk hati kami yang paling dalam, izinkanlah kami dengan tulus memohon maaf kepada seluruh keluarga besar Fasilkom UI. Kami menyadari bahwa dalam keseharian kami di kampus ini, ada perkataan yang menyinggung hati, ada sikap dan perbuatan kami yang tidak berkenan di hati. Insya Allah, ketidaknyamanan itu terjadi karena ketidaksengajaan kami sebagai manusia yang merupakan tempatnya salah dan lupa.

Mengutip kalimat yang sering diucapkan, lepas dari kampus bukan berarti perjuangan sudah selesai. Bahkan, perjuangan sesungguhnya baru saja dimulai. Berjuang dalam rimba sebenarnya, bernama komunitas masyarakat. Inilah pranata sosial yang akan menguji kita, sejauh mana idealisme yang di dalam kampus kita lantang teriakkan. Mungkin sekarang kita menyumpah-serapahi para koruptor yang tertangkap baik di layar televisi maupun lewat media yang lain, karena memang sekarang kita tidak punya kesempatan untuk berbuat seperti itu. Tapi yakinkah kita tidak akan menjadi seperti mereka ketika tandatangan kita bisa menentukan apakah suatu proyek bisa berjalan atau tidak, apakah suatu anggaran bisa dikeluarkan atau bahkan tertahan? Benarkah kita akan tetap akan berada di jalan yang benar kala istri dan anak kita meminta ini itu yang sulit terpenuhi oleh penghasilan normal bulanan kita?

Dunia pascakampus juga sering menjebak kita dalam rutinitas semu. Banting tulang dari pagi hingga malam, tiap hari dari Senin sampai Jumat. Bahkan, mungkin kita perlu tambahan waktu untuk lembur karena pekerjaan tidak sempat diselesaikan dalam waktu kerja normal. Salahkah itu? Sepintas tidak. Namun, orientasi kehidupan pribadi ataupun keluarga yang berlebihan akan melalaikan kita terhadap tanggung jawab yang lebih besar, mengabdi kepada masyarakat, kepada bangsa, dan kepada negara ini. Kampus telah mengajarkan kepada kita tentang pengabdian. Mungkin kita tidak menyadarinya karena memang kata pengabdian tidak terselip dalam jejalan padatnya kurikulum matakuliah. Ia tergambar jelas dalam realitas. Lihatlah di sekitar kita. Masih banyak kebodohan. Masih merajalela kedzaliman. Masih mengakar apa yang disebut dengan kesewenang-wenangan.

Mengapa kemudian muncul tugas pengabdian bagi kita? Karena tiap keping rupiah yang membiayai kita di kampus ini adalah kepingan harapan yang digadaikan dari mereka para penyapu jalan, bakul-bakul yang pagi-pagi hari sudah ada di pasar, petani-petani yang kini tidak lagi memiliki sawah karena digadaikan untuk makan dan sekolah anak-anaknya, serta jutaan rakyat kecil lainnya. Dan kepurnaan status kita sebagai mahasiswa tidak lantas menghapus amanah pengabdian itu. Amanah ini hanya akan tercabut seiring dengan tercabutnya ruh dari jasad ini.

Oleh karena itulah, kami para wisudawan/wisudawati memohon doa dari para hadirin, supaya ilmu yang kami pelajari di kampus dapat bermanfaat bagi kemajuan bangsa ini, supaya kerja keras dan perjuangan kami, saat ini dan nanti, tidak hanya bermanfaat bagi diri pribadi dan keluarga, namun juga membawa kemaslahatan bagi masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia.

Betapa inginnya kami agar bangsa ini mengetahui, bahwa mereka lebih kami cintai daripada diri kami sendiri
Kami tidak mengharapkan sesuatupun dari manusia, tidak mengharapkan harta benda atau imbalan lainnya, tidak juga popularitas, apalagi sekedar ucapan terima kasih.
Yang kami harap adalah terbentuknya Indonesia yang lebih baik dan bermartabat serta keridhaan dari Allah, Pencipta alam semesta.

Demikian sambutan dari saya yang berdiri di atas mimbar ini, mewakili rekan-rekan wisudawan/wisudawati yang lainnya. Mohon maaf atas kekhilafan dalam sambutan yang telah disampaikan. Semoga Allah SWT meridhoi jejak langkah kita. Aamiin…

Wassalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Posted by: akhdaafif | September 24, 2008

Artikel Juli 08

Pilkada Tegal dan PKS

Sejak Agustus hingga Oktober nanti, kota Tegal sedang punya hajat besar. Sebuah agenda demokrasi pertama bagi masyarakat kota Tegal untuk menentukan sendiri siapa pemimpinnya hingga 2013 nanti. Dalam skala nasional, momentum pilkada ini sangat menarik karena seremoni ini telah menyajikan begitu banyak hal fenomenal dalam perjalanannya. Salah satunya adalah munculnya fenomena PKS sebagai partai medioker yang mampu unggul dalam beberapa pilkada di beberapa daerah. Ketika PKS pun tidak menang dalam proses pilkada tersebut, perolehan suara calon yang diusung tersebut jauh di atas perolehan suara PKS sendiri dalam pemilu 2004 lalu di daerah itu.

Dalam ranah propinsi, tentu masih segar dalam ingatan kita bagaimana calon yang diusung PKS berhasil meraih kursi kepala daerah dengan menggusur calon dari partai besar. Jawa Barat (Jabar) dan Sumatera Utara (Sumut) merupakan bukti nyata keberhasilan PKS. Di Jabar berbekal koalisi dengan PAN, Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf sukses menjadi gubernur Jawa Barat 2008-2013. Perolehan suaranya pun relatif besar yakni 40,5 % suara. Padahal, gabungan suara PKS dan PAN di pemilu 2004 untuk wilayah Jabar tidak lebih dari  30%.

Adapun di Sumut, pasangan Syamsul Arifin dan Gatot Pujonugroho yang diusung koalisi PPP, PKS, PBB dan beberapa partai kecil unjuk gigi dengan kemenangannya. Mereka berhasil mengumpulkan 28,31 % dari total suara yang masuk. Berita yang paling hangat tentunya pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf di propinsi Jawa Timur. Pasangan yang diusung oleh PAN, Partai Demokrat, dan PKS ini mampu meraih posisi puncak dalam pilkada putaran pertama.

Memang tidak semua calon yang diusung PKS mampu memenangkan kompetisi pilkada. Kegagalan di DKI Jakarta dan Jawa Tengah (Jateng) adalah salah satu contohnya. Adang-Dani gagal meraih kursi gubernur DKI Jakarta. Mereka hanya mampu mengumpulkan 42,13% suara. Adapun di Jateng, hanya memperoleh 15,58% suara, berada di peringkat ketiga dari lima kontestan.

Namun, kekalahan di DKI Jakarta bukanlah sesuatu yang mengejutkan mengingat PKS merupakan pengusung tunggal, sedangkan Fauzi-Prijanto diusung oleh koalisi 20 partai. Sehingga muncul kesan bahwa pilkada DKI Jakarta adalah pengeroyokan terhadap PKS oleh partai nonPKS. Bahkan, muncul opini bahwa PKS boleh saja kalah pilkada, tetapi mereka telah berhasil memenangkan hati rakyat DKI Jakarta.

Sebenarnya analisis tentang munculnya kekuatan PKS ini telah terlihat dari pemilu 2004 yang lalu. Ketika itu suara PKS melonjak jauh dibandingkan pada pemilu 1999. Pada pemilu 2004, PKS memperoleh total suara nasional sebanyak 7,34 persen. Banyak pengamat terkejut dengan hasil tersebut. Namun, keterkejutan tersebut tidak lantas usai. Partai Islam ini bahkan mampu membawa kadernya sebagai ketua MPR RI 2004-2009 yaitu Hidayat Nurwahid. Kemudian, kejutan-kejutan tersebut berlanjut dalam berbagai proses pilkada di berbagai daerah.

Dalam konteks pilkada kota Tegal, DPD PKS Tegal telah memberikan rekomendasi untuk mendukung Ikmal Jaya-Habib Ali Zaenal Abidin bersama-sama. Sikap politik ini juga berarti bahwa PKS akan berkoalisi dengan PDIP, PPP, dan Partai Demokrat (PD). Langkah politik PKS ini memang cukup unik. Dalam berbagai kesempatan pilkada, PKS dapat bersanding dengan kelompok politik manapun. Boleh jadi di suatu daerah berkompetisi, tetapi di daerah lain malah berkoalisi.

Menarik pula untuk dicermati apakah calon yang diusung PKS dalam pilkada kota Tegal kali ini akan berbuah kesuksesan. Menurut analisis penulis, kemungkinannya cukup besar. Pertama, mengingat rekan koalisi PKS adalah PDIP, PPP, dan PD. PDIP notabene adalah partai yang memiliki basis massa kuat di Jawa Tengah, termasuk pula kota Tegal. Hal ini dibuktikan dengan kemenangan Bibit-Rustriningsih di kota Tegal. PPP dan PD juga merupakan salah satu kekuatan politik yang cukup diperhitungkan, baik dalam konstelasi perpolitikan daerah maupun nasional.

Kedua, komposisi ketiga partai ini merepresentasikan golongan yang heterogen. PDIP dan PD adalah basis kaum nasionalis. PPP dikenal sebagai lumbung golongan religius, khususnya dari kalangan santri dan ulama NU. Adapun PKS sendiri mewakili kelompok religius progresif yang diwakili oleh kalangan intelektual muda. Heterogenitas ideologi ini merupakan modal berharga untuk mengakomodasi massa pemilih. Apalagi kota Tegal dikenal sebagai kota yang heterogen pula.

Ketiga, adanya tren pemimpin muda yang memenangi pilkada di beberapa daerah. Munculnya kalangan muda untuk tampil sebagai calon kepala daerah dan wakil kepala daerah menjadi harapan baru bagi masyarakat. Meskipun dalam pandangan Adrinoff CH, analis politik Universitas Indonesia, tidak ada jaminan suasana baru yang dikehendaki oleh masyarakat akan terwujud. Namun, paling tidak ada nuansa optimisme yang terbangun di tengah masyarakat.

Namun, PKS tidak semestinya berbangga diri dengan besarnya peluang tersebut. Disadari atau tidak, keberpihakan PKS ini juga memiliki ekses yang perlu diperhatikan oleh para elite PKS. Kader, bahkan konstituen, PKS akan mempertanyakan komitmen terhadap ideologi partai mengingat PDIP dan PD merupakan partai berideologi nasionalis sekuler. Sangat bertolak belakang dengan misi da’wah Islam yang menjadi pondasi PKS. Hal ini bisa menjadi bumerang bagi kader ataupun konstituen yang memilih PKS karena alasan ideologi atau platform.

Sikap politik PKS di pilkada kota Tegal ini memungkinkan munculnya tafsiran bahwa PKS adalah partai yang oportunis. PKS berkoalisi dengan PDIP, PPP, dan PD karena ketiga partai tersebut merupakan partai besar di kota Tegal. Adapun figur Ikmal sendiri dikenal sebagai tokoh yang memiliki kapasitas dana mumpuni. Kedua faktor tersebut tentunya akan memperbesar peluang kemenangan. Ini berarti PKS akan masuk ke dalam lingkaran kekuasaan. Sikap oportunis tersebut dikhawatirkan akan memunculkan stigma bahwa PKS tidak berbeda dengan partai kebanyakan yang haus dengan kekuasaan.

Di luar konteks peluang dan hambatan tersebut, menarik pula untuk dicermati bahwa sikap PKS ini tentu saja akan berpengaruh terhadap peta perpolitikan di kota Tegal. Apalagi pemilu 2009 telah menanti. Kemenangan akan berbuah terhadap terdongkraknya suara. Begitupun sebaliknya, kekalahan akan memperbesar peluang menurunnya jumlah suara dibandingkan pemilu 2004 lalu.

Pilkada kota Tegal masih panjang. Masih banyak ujian yang harus dilalui oleh masing-masing calon. Dan seperti pengalaman di berbagai daerah, perolehan suara pada pilkada tidak selalu mencerminkan perolehan suara pemilu legislatif. Dukungan dana besar juga bukan jaminan bahwa calon tersebut akan memenangkan pilkada. Masyarakat sekarang lebih cerdas. Peluang meraih suara pemilih dari kelima calon walikota dan wakil walikota Tegal masih sangat terbuka lebar. Mudah-mudahan prosesi pilkada akan berlangsung dengan lancar dan akan melahirkan sosok pemimpin amanah yang akan membangun kota Tegal. Aamiin.

Posted by: akhdaafif | July 28, 2008

Kebersamaan Empat Tahun Itu…

Huff… Nggak ngerasa, ternyata udah 4 tahun ada di kampus Fasilkom UI. Hehehe, udah tua nih. Dan di angka ke empat ini, alhamdulillah, Allah mewujudkan salah satu cita saya. Apaan tuh?? Saya lulus kawan…!! Artinya apa?? Artinya saya sudah bukan mahasiswa lagi. Artinya tanggal 30 29 Agustus nanti insya Allah saya wisuda di Balairung dan Aula Fasilkom UI. Artinya lagi, saya sudah gak punya hak maen2 di lab lagi, hehehe.

Tapi, itu juga berarti saya harus ninggalin kampus ini. Berpisah dengan teman2 yang sudah menjadi keluarga saya sendiri, khususnya selama merantau di tanah Depok ini. Nggak ketemu pak satpam lagi. Bakal jarang makan sate di kantin Fasilkom. Yakin dah, sedih banget… Ceracauan-ceracauan itu. Ledek-ledekan itu. Nasihat-nasihat itu. Waaaa….

Ini kehilangan saya yang kedua dalam bulan Juli dan Agustus ini. Setelah kelar dari PPSDMS, sekarang giliran berpisah dari kampus UI yang saya cintai. Memang benar, ketika ada pertemuan, pasti ada perpisahan. Tapi, baru kali ini bener2 ngerasa kehilangan. Mungkin karena saya merasa di dua tempat itulah saya menemukan arti kesetiaan dan persaudaraan yang sebenarnya.

Tapi, jalan ini memang masih panjang, kawan. Kampus hanya salah satu dari episode hidupmu. Saatnya sekarang untuk berkontribusi atas segala ilmu yang telah pelajari. Biarlah nanti Allah yang mempertemukan kita kembali. Entah di area lain di dunia ini. Atau bahkan mungkin di surga-Nya nanti. Aamiin…… Terima kasih semuanya… Untuk segalanya…

–persembahan untuk semuanya, di kampus perjuangan, Fasilkom UI–

Posted by: akhdaafif | July 22, 2008

Dua Tahun Itu, Sungguh…, Sangat Indah

Akhirnya kebersamaan kita di asrama itu berakhir sudah. Waktulah yang akhirnya membentangkan kita dalam jarak. Tidak ada lagi tawa, canda, teriakan, ledekan yang mewarnai derap hari kita. Aku masih ingat saat kita berkumpul bersama di depan TV. Menertawakan tingkah pola tokoh-tokoh politik yang sedang bersilat lidah. Atau terbahak-bahak melihat film lucu, bahkan sekedar extravaganza di tengah-tengah kesibukan kuliah, organisasi, dan berbagai aktivitas lainnya.

Saat awal kita masuk, kita bukan siapa-siapa. Masing-masing kita membawa ego dan identitas masing-masing. Namun kini, kita adalah satu keluarga. Berada dalam bendera PPSDMS Angkatan III Regional I Jakarta. Telah kita lalui bersama manis dan pahitnya kebersamaan itu. Berdiskusi di tengah keletihan. Entah hanya sekedar mengeksplorasi informasi, mengadu argumentasi, hingga mencari solusi.

Entah kenapa, ketika meninggalkan asrama dan berada di tempat kos baru, aku merindukan kembali masa-masa itu. Saat hampir setiap jam 8 malam kita setia menunggu di aula atau ruang rapat eksekutif, menanti datangnya pembicara yang telah dijadwalkan. Saat di Sabtu sore berbarengan teriak sambil menggerakkan seluruh raga kita dalam latihan taekwondo. Saat tiap Senin pagi, kita bergegas saling membangunkan satu sama lain supaya tidak ada yang terlambat apel pekan itu. Saat … Ah, terlalu banyak kenangan itu kawan. Saat-saat yang sudah begitu membekas dalam di relung hatiku.

Sungguh, aku bersyukur kepada Allah yang telah memberiku kesempatan untuk bergabung di keluarga ini. Keluarga yang penuh dengan orang-orang sholih, berprestasi, dan berintegritas. Alhamdulillah… Terima kasih kawan. Terima kasih untuk semuanya. Dua tahun itu, sungguh…, sangat indah.

—persembahan untuk keluarga angkatan III—

Older Posts »

Categories