KAUST dan Kebangkitan Ilmuwan Muslim
Tepat pada tanggal 23 September 2009, telah diresmikan sebuah universitas baru berskala internasional di Arab Saudi yang dihadiri oleh puluhan perwakilan negara dari berbagai penjuru dunia. Universitas megah ini bernama King Abdullah University of Science and Technology (KAUST). Terletak di dekat laut Merah, kota Thuwal, 80 km di sebelah utara kota Jeddah, KAUST menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dan memiliki laboratorium berkelas dunia di lahan seluas 36 km2. Di kompleks kampus juga tersedia berbagai fasilitas lainnya seperti apartemen dosen dan mahasiswa, tempat hiburan, restoran, kafe, supermarket, pom bensin serta fasilitas olahraga yang lengkap.
Kampus ini adalah realisasi terhadap visi jangka panjang raja Abdullah, raja Arab Saudi saat ini. Beliau ingin menciptakan “Baitul Hikmah” (House of Wisdom) baru. Baitul Hikmah adalah sebuah tempat yang berperan sebagai perpustakaan, pusat riset, dan biro penerjemah di Baghdad pada abad 9 s.d. 13 Hijriah. Dibangun atas kerja keras Harun Ar Rasyid dan Al Ma’mun, tempat itu telah menjadi motor kebangkitan intelektual muslim dan memberikan kontribusi yang sangat besar dalam dunia kedokteran, ilmu pelayaran, pertanian, dan astronomi.
Mencari Sebuah Masjid (karya Taufiq Ismail)
Aku diberitahu tentang sebuah masjid
Yang tiang-tiangnya pepohonan di hutan
Fondasinya batu karang dan pualam pilihan
Atapnya menjulang tempat tersangkutnya awan
Dan kubahnya tembus pandang, berkilauan
Digosok topan kutub utara dan selatan
Aku rindu dan mengembara mencarinya
Aku diberi tahu tentang sepenuh dindingnya yang transparan
Dihiasi dengan ukiran kaligrafi Quran
Dengan warna platina dan keemasan
Berbentuk daun-daunan sangat beraturan
Serta sarang lebah demikian geometriknya
Ranting dan tunas jalin berjalin
Bergaris-garis gambar putaran angin
Aku rindu dan mengembara mencarinya
Awal di Tanah yang Diberkahi
Tulisan ini, insya Allah, mengawali tulisan-tulisan berikutnya yang akan menceritakan pernak-pernik harian saya di tanah yang diberkahi, Arab Saudi. Dan di bagian ini, saya pengen cerita tentang proses nyampenya saya di sini (Jeddah) dan aktivitas awal sebelum kuliah. Tiket udah dipesen untuk pemberangkatan dari Soekarno Hatta, Jakarta. Secara, gak ada bandara di Tegal!! Masa harus nglemparin tali ke atas biar dikerek ama pesawat??? hahaha… Karena itulah, akhirnya diputuskan untuk transit di Jakarta, sehari sebelum keberangkatan.
Oh ya, sebelumnya harus berjuang keras buat mberesin bawaan. Info pertama yang didapet, maksimal bawaan yang masuk bagasi, 20 kilo. Wah, sampe dibela-belain tuh nimbang di tukang jual besi tua, hahaha… Ternyata beratnya 23,5 kilo. Waduh… berabe nih!!! Mana kelebihan per kilonya kena bayar 48 dolar!! Tapi ternyata, info terakhir yang didapet, maksimal beratnya jadi 30 kilo. Duh, senengnya!!! Gak jadi nombok cing, hahaha…
Risalah Paris (Part IV-Final)
Setiba di Sorbonne, kami langsung mencari “altar suci”, ungkapan yang sering dipakai Andrea Hirata di bukunya. Maka, berjalanlah kami menyusuri trotoar St Michel Boulevard. Sambil melihat peta, kami tengok kanan kiri, barangkali sudah tampak “altar suci”-nya. Setelah kurang lebih 700an meter kami berjalan, di sebelah kiri kami berdiri dengan gagahnya sebuah gereja besar. Dan itulah “altar suci”!! Sebenarnya niat kami mau menjelajah di sekitarnya, tapi apa daya perut nampaknya sudah nggak bisa berkompromi. Karena itu, kami cuma mengambil gambar di sekitarnya. Eh, ternyata ada sosok patung Auguste Comte di sekitar Sorbonne. Kalo nggak salah, beliau ini tokoh dalam sosiologi ya? Udah lupa soalnya, hehe. Mengingat kondisi perut yang sudah mencapai klimaks laparnya, segeralah mencari tempat makan terdekat. Setelah makan, ternyata jam sudah menunjukkan pukul 5an. Sudah sore. Akhirnya, terpaksa kami batalkan rencana singgah di kampus Sorbonne. Kami harus segera ke Notredame!!
Risalah Paris (part III)
Melanjutkan cerita di bagian sebelumnya, kami sudah sampai di stasiun metro. Cukup lengang saat itu, mungkin karena sudah malam, hampir jam 2. Setelah membeli tiket di mesin jual otomatis, kami langsung masuk ke peron. Baru duduk, tiba-tiba ada teriakan dari peron seberang. “Closed”, katanya. Hah?? Waduh, gimana nih?? Mana cuma tau pake kereta doang cara nyampenya. Setelah keluar, akhirnya terpikir untuk memakai taksi. Terpaksa kita jalan ke depan eiffel lagi, karena taksinya banyak ngumpul di situ. Udah coba nyetop di jalan, tapi taksinya gak mau pada minggir. Di depan eiffel, kami dapet nyetop satu taksi. Wah, ribet juga. Sopirnya gak bisa bahasa inggris ^_^ Hmm, akhirnya kami tunjukin aja lokasinya pake peta. Dan ternyata, tuh sopir gak mau. Gak tau deh alasannya. Tapi mungkin kejauhan kali ya. Di ujung selatan soalnya. Dan eiffel ada di hampir ujung barat.
Risalah Paris (part II)
Setelah beristirahat sejenak di hotel, kami putuskan untuk segera melancong. Hehehe. Soalnya, besok Minggu sudah dimulai conference-nya. Tujuan awal adalah menara Eiffel. Setelah membaca peta wisata yang diambil dari bandara, lumayan jauh jaraknya dari metro terdekat dari hotel. Ada 10 stasiun metro yang harus dilewati. Stasiun Bir Hakiem, tujuannya. Kami berangkat selepas shalat Dzuhur. Dan waktu Dzuhur di Paris adalah 13.52. Lagi summer soalnya. Ashar malah jam 6 sorean. Hehehe…
Risalah Paris (part I)
Tulisan ini adalah bagian pertama dari empat rangkaian tulisan tentang pengalaman, kesan, dan segala sesuatu yang mengiringi proses perjalanan saya ke Paris (26 Juni-3 Juli). Tujuan keberangkatan ke Paris ini adalah untuk menghadiri suatu conference tentang Knowledge Discovery yang diselenggarakan oleh ACM (Association Computing Machinery). Mengingat adanya niat, tetapi tiadanya biaya, akhirnya kami mengajukan proposal ke KAUST (kampus S2 kami) supaya mau menanggung segala kebutuhan kami menuju ke sana. Proposal diajukan pada akhir April. Dan alhamdulillah, pada pertengahan Mei mendapatkan jawaban lewat email bahwa proposal kami di-approve. Kemudian bersegeralah kami menyiapkan segala sesuatunya, mulai dari pendaftaran, pencarian hotel, visa, asuransi dan segala hal lainnya. Tantangan pertama datang dari prosesi pembayaran untuk registrasi, hotel dan asuransi. Semuanya harus dibayarkan melalui kartu kredit. Alamaaak… mana punya kita kartu kredit. Tabungan aja seada-adanya
Alhamdulillah, Allah membantu dengan mengetuk hati salah seorang keluarga untuk rela meminjamkan kartu kreditnya kami gunakan.
Bait-bait Hujan
sore ini hujan singgah di halamanku
datang dengan sejumput pesan
bukan tentang kerinduan darimu
karena lama terpisahnya kita
tapi
tentang tanya yang belum terjawab
kapankah tunainya janji pembaharu itu
yang dulu lantang kupekikkan
juga bukan tentang seonggok cinta
antara dua insan
karena cinta yang ia tagih
adalah bulir-bulir
penantian tentang tekad
bahwa hidup adalah memberi sebanyak-banyaknya
juga keliru ketika kau menganggapnya
sebagai rasa sayang
toh, hujan ini ternyata begitu menggelora
meski turun dengan lirihnya
dan hujan telah telak menohokku
dalam
menghujam
baktiku belum teruji
tekadku masih sebatas nyali
hidupku ternyata miskin arti
-sore hujan, awal juni 2009-
Buat yang Masuk UI
Ada titipan info dari rekan PPSDMS yang jadi anggota Majelis Wali Amanat UI:
“bagi teman2 yg sudah diterima masuk UI melalui jalur SIMAK dan PPKB, jangan khawatir dengan biaya yang dituliskan di web UI. teman2 hanya akan diminta membayar sesuai kemampuan. sehingga angka2 yg ada pada situs adalah angka2 untuk mereka yg penghasilan orang tuanya diatas 77juta per bulan.
hingga hari kmrn, jumlah peserta lulus SIMAK UI yg sudah menyerahkan berkas baru sekitar 50%. sementara berkas sudah harus disetor teakhir pada tgl17april2009. hal ini diantaranya disebabkan informasi pada web UI yg sgt tidak informatif sehingga mengesankan masuk UI hrs membayar UP sebesar 5-25 juta dan BOP per semester 5-7,5juta. padahal sesungguhnya peserta didik hanya diwajibkan membayar sesuai kemampuannya.
Jangan nyerah gitu aja, yah.. ^_^” (Dimas NA, MWA UM UI).
-mohon disebarkan-
Dua Buku
Jarang banget saya membaca novel. Apalagi yang berbau-bau melankolis. Alasan pertama, mungkin karena saya laki-laki. Jadi, hal-hal semacam itu, menurut saya pribadi, terlalu cengeng atau terlalu lembek. Alasan kedua, bacaan novel jarang dipakai buat referensi. Berbeda dengan buku-buku umum yang bisa jadi acuan buat karya tulis atau pas bikin tulisan-tulisan ringan. Alasan ketiga, pengalaman saya baca beberapa buku novel, sangat cepat dibaca. Gak butuh waktu berhari-hari bisa selesai. Dan selesai dibaca, buku itu tergeletak begitu saja. Sayang banget kan? Udah beli mahal-mahal, cuma digituin doang
Tapi, ada sentuhan aneh ketika saya membaca dua novel berbeda karya Tere Liye, “Moga Bunda Disayang Allah” dan “Bidadari-Bidadari Surga”. Dua novel ini berhasil menyihir, atau lebih tepatnya membobol, kerasnya hati saya. Inilah novel yang bisa kembali menyadarkan saya tentang arti hidup, kenyataan, mimpi, dan perjuangan. Empat kata yang selama ini menjadi ruh dalam setiap langkah. Kata-kata yang saya yakini, bahwa untuk itulah Allah menjadikan saya ada di bumi ini.
Comments (2)
Comments (3)
Comments (10)

