Archive for June 27th, 2007|Daily archive page
Artikel Mei 07
Membangun Tegal dengan IT
Tahun ini tepat Kota Tegal merayakan hari jadinya ke-427. Meskipun muncul kontroversi kevalidan fakta tanggal berdirinya, Tegal telah menjelma menjadi kekuatan baru di pantai utara pulau Jawa. Meningkatnya transaksi perdagangan, industri dan jasa mendorong tumbuh dan berkembangnya sektor ekonomi riil. Maka tidak salah ketika Komite Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPOD) tahun 2005, memasukkan kota Tegal dalam 20 besar kota yang memiliki daya tarik investasi tertinggi di Indonesia. KPPOD melakukan pemeringkatan daya tarik investasi daerah tersebut berdasarkan lima faktor, yaitu kelembagaan (dengan bobot penilaian 31%), sosial politik (26%), ekonomi daerah (17%), tenaga kerja dan produktivitas (13%), dan infrastruktur fisik (13%). Dalam bidang pendidikan Tegal juga tidak mau tertinggal. Pembangunan infrastruktur sekolah digencarkan. Kualitas sistem pengawasan dan pelaksanaan pendidikan terus direvisi. Demikian pula dalam sektor pariwisata, kesehatan, dan sektor-sektor lainnya. Selain berimplikasi pada meningkatnya citra Tegal, di sisi lainnya kemajuan ini memiliki dampak penting dalam perbaikan kesejahteraan masyarakat Tegal sendirinya.
Namun, di tengah menggeliatnya Tegal dalam menunjukkan eksistensinya sebagai kota maju dan modern, perhatian terhadap sektor Information Technology (IT) masih sangat lemah. Kita dapat mengamati rendahnya kultur pemanfaatan IT seperti internet, office system management, dan education information system. Institusi pemerintahan, pendidikan, dan bisnis masih menganggap bahwa browsing internet hanya membuang-buang waktu karena akan membuat efektivitas dan produktivitas pegawai ataupun siswa menjadi rendah. Sistem konvensional masih diterapkan pula pada manajemen pengelolaan kantor atau sekolah. Penggunaan mesin ketik dan pengarsipan data berbasis kertas belum tergantikan. Kebutuhan paling mendasar seperti ketersediaan komputer yang mencukupi di sekolah, instansi, maupun di rumah, juga belum terpenuhi. Indikator-indikator tersebut dapat menjadi bukti simpel yang menunjukkan bahwa kita masih tertinggal jauh di bidang ini.
Berdasarkan suatu penelitian internasional dalam World Economic Forum 2005 disebutkan bahwa ketersediaan infrastruktur IT memberikan kontribusi sekitar 17%-25% terhadap indeks daya saing suatu bangsa. Apalagi sekarang era informasi menjadi trend setter global. Siapa yang menguasai IT, ia akan menguasai dunia. Dengan fakta dan fenomena tersebut, terdengar absurd jika Tegal ingin maju, tetapi akses IT bukan menjadi prioritas utama atau bahkan sama sekali tidak pernah terpikirkan di benak pengambil kebijakannya. Padahal, dengan IT, terdapat beberapa nilai lebih yang dapat digunakan untuk peningkatan kualitas manajemen sebuah instansi atau sumber daya manusia di Tegal. Pertama, pengelolaan organisasi dengan IT akan meningkatkan efisiensi dan efektivitas. Bayangkan berapa buah lemari yang diperlukan untuk menyimpan arsip data di kantor ataupun di sekolah? Apalagi arsip-arsip tersebut rawan rusak, hilang, atau terbakar. Permasalahan lain seperti lamanya pencarian data juga menjadi hal urgen dalam menunjang kepuasan pelayanan kantor atau sekolah. Dengan sebuah server dan information system, problem-problem tersebut dapat teratasi.
Kedua, dengan terbukanya akses informasi melalui internet, berarti masyarakat akan menerima informasi lebih cepat dan aktual. Tidak hanya untuk melihat informasi ter-update, internet juga berfungsi sebagai gudang informasi terluas yang ada di dunia hingga saat ini. Tinggal membuka search engine seperti Yahoo, Google, Answers, atau eBay lalu kita masukkan keyword yang kita cari maka akan ditampilkan puluhan, bahkan ratusan, link ke berbagai portal yang menyediakan informasi tersebut. Dengan modal ini tentunya menjadi manfaat ketika informasi tersebut dapat dikelola dengan baik untuk menjadi referensi tugas sekolah, bahan tulisan, publikasi penelitian, ataupun saran dalam mengambil kebijakan. Jadi, internet dan penggunaan IT memiliki potensi besar dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di kota Tegal, supaya bisa berkembang dan tidak terlindas arus global pastinya.
Tidak perlu menunda lagi untuk merealisasikan IT menjadi salah satu prioritas dalam pembangunan kota Tegal. Ada dua hal yang dapat dilakukan pemerintah kota (pemkot) Tegal untuk mendukung terealisasinya cita-cita ini. Pertama, menyiapkan infrastruktur dalam mendukung jalannya IT ini. Contoh kongkretnya pemkot dapat membuat peraturan yang mewajibkan setiap institusi publik untuk menyediakan akses internet dengan internet service provider yang disediakan sendiri oleh pemkot Tegal. Pemkot dapat juga menetapkan standar jumlah dan spesifikasi minimal komputer yang harus ada di setiap lembaga pendidikan dari tingkat SD hingga perguruan tinggi. Untuk mendukung kebijakan ini, pemkot dapat menetapkan regulasi dalam mempermudah mekanisme pembukaan usaha dalam bidang IT atau mengurangi retribusi bagi pedagang-pedagang komputer. Hal ini jelas tidak sulit karena Tegal telah menjadi sentra bisnis di bagian barat Jawa Tengah. Selain itu, untuk memperingan beban sekolah dalam menyediakan komputer, pemkot dapat menyediakan subsidi yang besarnya ditentukan dengan persetujuan DPRD dan sekolah-sekolah tersebut.
Setelah mempersiapkan infrastruktur, langkah selanjutnya adalah dengan mendorong kulturisasi penggunaan IT dengan membuat sistem informasi untuk tiap institusi publik secara terkomputerisasi. Pada sekolah misalnya, dapat diterapkan layanan IT untuk manajemen database dan akses perpustakaan online. Pada kantor-kantor pemerintah, dapat digunakan software untuk mengelola data penduduk, menginventarisasi aset daerah, mengelola data kepegawaian dan masih banyak lagi yang lainnya. Dapat dibayangkan kemudahan dan kepraktisan yang akan diperoleh jika IT menjadi solusi dalam pelayanan publik.
Membudayakan IT memang perlu cost yang tinggi. Selain biaya besar untuk penyediaan infrastrukturnya, tantangan terbesar adalah mengalihkan budaya masyarakat untuk beralih ke IT. Mayoritas orang sudah terbiasa dengan sistem lama yang konvensional dan cenderung enggan beralih ke sistem baru berbasis IT. Dibutuhkan keseriusan dari pemkot untuk mendukungnya. Kita tidak bisa memungkiri IT telah menjadi tren global. Kemajuan kota Tegal sendiri memang tidak ditentukan oleh IT belaka, tetapi tumbuh dan berkembangnya Tegal bisa bermula dari mapannya IT di kota tercinta kita ini.
Artikel April 07
Kritik Terbuka untuk Para Orang Tua:
Apa Peran Mereka dalam Pendidikan?
Seringkali ketika pendidikan menjadi topik pembicaraan, fokus permasalahannya menuju ke anak (peserta didik) sebagai subjek pendidikan. Atau suatu waktu, sistem pendidikan yang kita kambing hitamkan. Mulai dari berganti-gantinya kurikulum, minimnya kualitas guru, hingga fasilitas pendidikan yang tidak lengkap. Kesemuanya memang menjadi permasalahan dalam carut-marutnya sistem pendidikan kita. Namun, jarang dari kita mengungkit keterlibatan orang tua sebagai komponen dari seabrek masalah tersebut.
Wacana ini menarik karena, sekali lagi, sangat jarang pihak-pihak terkait menjadikannya sebagai bahan studi. Kelalaian ini terjadi karena memang sistem pendidikan di negeri kita tidak secara eksplisit menuntut keterlibatan orang tua dalam pendidikan anaknya. Peran orang tua terbatas hanya pada kehadirannya pada rapat orang tua murid di sekolah. Atau sekedar mengambil laporan penilaian hasil belajar tiap semester. Rutinitas ini lalu telah menjadi sebuah kultur masyarakat, mengakar, sampai membiaskan makna peran mereka sebenarnya dalam dunia pendidikan.
Dalam konteks pendidikan, sebenarnya tidak hanya sekolah, sebagai representasi negara, yang menjadi penanggung jawab sentral pendidikan. Masih ada unsur lain yaitu peserta didik dan masyarakat. Orang tua adalah masyarakat sehingga turut memikul tanggung jawab terhadap proses pendidikan. Namun, nyatanya sangat sedikit orang tua yang turut serta dalam proses pendidikan ini. Bagi orang tua, dengan menyekolahkan anaknya berarti tanggung jawab pendidikan berpindah ke tangan sekolah. Para orang tua alpa menyadari bahwa pendidikan tidak hanya terjadi di kelas belajar sekolah. Di rumah, di jalan, bahkan di bus kota juga termasuk tempat belajar.
Lalu bagaimanakah seharusnya peran orang tua dalam pendidikan? Minimal ada tiga fungsi yang harus dilaksanakan orang tua. Pertama adalah fungsi motivator. Fungsi ini terkait dalam menjaga semangat belajar anak sehingga dapat stabil. Seringkali berbagai aktivitas anak di luar kelas sangat berpengaruh terhadap kondisi emosional mereka. Suatu waktu bisa dalam posisi tinggi motivasinya, lain waktu bisa jatuh, karena putus cinta atau problem dengan sahabatnya misalnya. Di sinilah kebijaksanaan orang tua diharapkan. Berbekal pengalaman hidup, orang tua bisa menyampaikan kata-kata untuk meningkatkan rasa percaya diri sang anak. Dari motivasi yang kuat inilah sebagai modal awal untuk semangat dalam belajar dan menjalani kesehariannya.
Fungsi berikutnya adalah pembimbing. Orang tua adalah contoh yang paling sering diteladani anak. Tingkah laku anak terkadang mencerminkan perilaku orang tuanya. Oleh karena itulah, bimbingan dan arahan kepada anak seharusnya menjadi prioritas. Bimbingan dalam belajar dapat dilakukan dengan membantu kesulitan anak dalam mengerjakan PR atau memahami materi pelajaran tertentu. Jika tidak bisa membantu mengajari, orang tua boleh saja memakai jasa guru privat. Akan tetapi, yang lebih ditekankan dalam proses bimbingan di sini adalah keterlibatan langsung orang tua. Jadi, meskipun dengan bantuan guru privat, orang tua tetap berada di samping anaknya ketika belajar. Bukan mengurusi pekerjaan di kantor atau malah menonton televisi.
Terakhir adalah fungsi pengawas. Setelah anak diberikan motivasi dan bimbingan, maka tahap berikutnya adalah mengawasi aktivitas anak. Jangan sampai karena kelalaian orang tua, sang anak menjadi korban narkotika atau minuman keras. Sangat disayangkan ketika bekal anak sudah baik dalam lingkungan rumah, ia terpengaruh lingkungan yang sudah amburadul. Dalam konteks inilah, orang tua memegang tugas penting untuk memantau teman rumah dan sekolahnya hingga prestasi belajarnya. Bertanya kepada anak bukanlah suatu kesalahan. Akan tetapi, seringkali dalam tahapan ini, anak merasa bahwa dirinya diinvestigasi, merasa sebagai tertuduh. Jadi, konsep yang lebih menekankan kepada keakraban dan secara halus, akan lebih diterima dan direspon baik oleh anak.
Ketiga fungsi ini masih belum dijalankan oleh orang tua sehingga pantas saja kondisi pendidikan di negeri ini berantakan. Budaya membolos di mall, maraknya rokok dan narkotika di kalangan pelajar, serta minimnya minat baca serta belajar anak timbul karena orang tua memang tidak peduli dengan pendidikan anaknya. Orang tua seringkali menuntut anaknya memperoleh rangking di kelas dengan mengabaikan bahwa keberhasilan anak-anak ini tergantung usaha orang tuanya juga.
Jika kondisi masih terus seperti ini, pendidikan di Indonesia sulit untuk banyak berubah. Di satu sisi pemerintah dan elemen sekolah giat memperbaiki berbagai sistem pendidikan yang tidak efektif. Di sisi lain dukungan dari masyarakat, khususnya orang tua siswa, ternyata tidak berjalan seiring dengan usaha pemerintah tersebut. Tentunya hal ini amat disayangkan. Masih belum terlambat untuk meningkatkan kontribusi orang tua dalam proses pendidikan anaknya. Jangan sampai tanggung jawab mendidik anak merasa sudah dilaksanakan dengan menyekolahkannya, memberikan uang saku, menyediakan fasilitas belajar dan sebagainya. Pemberhentian di batas ini berarti hanya pemenuhan atas tanggung jawab secara fisik, bukan holistik, yang mencakup mental dan spiritualnya. Semoga saja tidak.
Artikel Maret 07
Suksesi dan Pengkaderan
(dimuat di buletin BEM Fasilkom UI)
Setiap potongan zaman mempunyai pahlawannya masing-masing. Mereka adalah putra-putri terbaik yang dilahirkan pada potongan zamannya… Para pahlawan itu adalah anak-anak zaman mereka (Anis Matta)
Suksesi adalah keniscayaan. Ia berlaku pada semua tempat dan masa. Tak memandang siapa dan apa yang menjadi objeknya. Kita mengenalnya sebagai penggantian kekuasaan. Dari orang-orang yang berkuasa sebelumnya kepada mereka yang berkuasa nantinya.
Mengapa harus ada suksesi? Paling tidak ada tiga hal yang menjadi penyebabnya. Pertama, untuk meneruskan estafet perjuangan suatu komunitas. Komunitas yang dimaksud ini bisa berupa negara, organisasi-organisasi besar ataupun kecil. Seorang presiden memiliki usia yang terbatas. Begitu juga dengan ketua BEM, yang juga dibatasi oleh statusnya sebagai mahasiswa. Sedangkan negara atau BEM memiliki usia yang relatif panjang dibandingkan pelaksana-pelaksananya. Oleh karena itulah, pergantian kepemimpinan tak bisa dihindari sehingga komunitas membutuhkan orang-orang baru yang akan menjalankannya pada masa depan.
Kedua, suksesi diperlukan untuk menumbangkan kezaliman. Masih tergambar jelas saat Amien Rais dengan gagah beraninya, sendirian, mewacanakan adanya pergantian kekuasaan dari Soeharto awal 1990-an. Saat itu, beliau lantang menyuarakan telah banyak terjadi penyalahgunaan kekuasaan negara. Maka, tidak ada jalan lain selain mengganti penyelenggara negaranya. Lalu, dimulailah episode suksesi yang berakhir tahun 1998 tatkala Soeharto mengundurkan diri sebagai presiden RI.
Ketiga, suksesi adalah cara untuk menyegarkan suatu komunitas. Sebuah amanah yang dipegang terus menerus menciptakan kejumudan dalam komunitas itu sendiri. Pergantian personel dengan amanah baru dapat menjadi salah satu solusinya. Dengan menempatkan tenaga segar, kreativitas dan aktivitas dari komunitas itu lebih teroptimalisasi.
Suksesi adalah sebuah proses, bukan peristiwa. Ketika suksesi dianggap sebagai peristiwa, kondisi yang terjadi seperti yang menimpa bangsa kita. Betapa sulitnya mencari pemimpin-pemimpin yang kompeten dan dikenal rakyatnya. Fakta ini terungkap dalam sebuah jajak pendapat yang disiarkan di salah satu program televisi swasta. Prediksi nama-nama calon presiden pilihan rakyat pada tahun 2009 tidak akan berbeda jauh dibandingkan nama-nama pada pemilu 2004 lalu. Indikasi lainnya terlihat pada hasil raker sebuah partai besar yang masih tetap mencalonkan orang yang telah terbukti gagal saat pemilihan presiden sebelumnya.
Maka, layaknya sebuah proses, suksesi harus melalui tahapan-tahapannya. Tahapan ini bermuara kepada lahirnya generasi penerus yang berkualitas. Di bahu merekalah, tersandar kelanggengan komunitas itu. Dalam konteks kekinian dan kedisinian, komunitas itu adalah lembaga-lembaga formal di kampus kita.
Jika ingin melihat keberhasilan suksesi, Rasulullah SAW telah membuktikan berhasil meninggalkan kader-kader besar yang masih dikenang dunia sampai sekarang. Dari masyarakat Arab primitif, lahirlah pemimpin-pemimpin, pemikir dan ilmuwan besar. Abu Bakar, Umar, Ali, dan Ibnu Abbas adalah sampel kecil dari populasi orang-orang luar biasa.
Demikan pula yang semestinya terjadi di kampus kita. Metode suksesi harus benar. Periode 2006-2007, para petinggi lembaga tampaknya telah menyadari suksesi sebagai proses. Maka, dimulailah agenda besar pengkaderan. BEM dengan magangnya. FUKI dengan AM/FM-nya.
Pengkaderan merupakan salah satu langkah strategis dalam pengelolaan lembaga formal pada masa-masa berikutnya. Yang terpenting dalam pengkaderan adalah muatan-muatan yang disampaikan. Sejauh mana implikasi dari muatan tersebut kepada orang-orang yang dikader dari sisi implementasi kepemimpinannya, manajemen organisasinya, bahkan interpersonalnya.
Begitulah seharusnya sebuah proses suksesi. Ia mengkader calon-calon pemimpin secara sempurna dan menyeluruh. Dilatih untuk bisa mendayagunakan seluruh potensinya. Dibekali pengetahuan managerial dan teknis sehingga tidak canggung berhadapan dengan masalah-masalah besar. Diajarkan cara berkomunikasi dengan lingkungannya.
Melalui tahap inilah, lembaga formal di kampus kita akan mampu menciptakan pahlawan-pahlawannya. Telah tiba saatnya bagi lembaga ini untuk lebih menunjukkan siapa dirinya sebenarnya setelah lama terkungkung dalam paradigma ketidakkuasaan dan ketidakmauan. Bukankah ada pahlawan di tiap masanya? Kader-kader inilah pahlawannya. Potongan zaman telah memilihnya untuk berkontribusi dalam panggungnya.
Adalah sangat tidak bertanggung jawab manakala suksesi meninggalkan penggantinya tanpa bekal memadai. Atau terkesan seadanya dalam proses penyiapan para penggantinya. Jika demikian, berarti suksesi telah gagal. Ia hanya berhasil menempatkan orang baru dalam tatanan lembaga formal kampus. Orang-orang yang tidak memahami untuk apa ia berada di sana.
Artikel Februari 07
Strategi Awal Membuat Website bagi Pemula
Seiring dengan berkembangnya teknologi informasi, akses internet telah berubah menjadi kebutuhan primer bagi mayoritas orang. Internet memang memudahkan kita dalam banyak hal. Mulai dari mengirim surat dengan cepat lewat email, ngobrol santai berbiaya murah via chatting, atau memperluas jaringan pertemanan dengan friendster atau multiply.
Demikian pula dengan kebutuhan untuk membuat situs, baik untuk pribadi ataupun perusahaan, saat ini terasa sangat penting. Dengan adanya situs tersebut, terbukti banyak keuntungan yang diperoleh. Pasar promosi perusahaan jadi lebih luas karena dapat diakses banyak orang melalui internet. Secara finansial juga lebih murah karena cukup mengeluarkan biaya sedikit untuk pembelian domain dan maintenance.
Untuk kalangan sendiri, pembuatan situs juga dapat digunakan sebagai repositrori seperti menyimpan foto dengan keluarga, diari elektronik, dan juga sarana berkreasi. Kita dapat mendesain sendiri website yang kita inginkan seperti apa. Mulai dari desain menu, fungsi, dan juga komposisi warnanya. Bahkan, kegunaan situs pribadi yang sekarang mulai muncul adalah untuk menyimpan file-file tugas sekolah atau kuliah.
Dalam tulisan ini akan diuraikan tentang strategi awal membuat sebuah website. Kita belum memasuki bagian praktis kode website karena seringkali pembuat situs sering mengabaikan tahapan pra-coding. Padahal, tahapan inilah yang menjadi pondasi utama website itu nanti. Ibaratnya, sebuah gedung yang tinggi harus memiliki pondasi kokoh sehingga tidak mudah roboh. Begitu pula dengan website.
1. Tentukan tujuan website
Ini prinsip awal yang harus dipastikan oleh pembuat situs. Sebenarnya, untuk apa website ini kita buat. Seringkali suatu website memuat banyak fungsi yang seharusnya tidak perlu dicantumkan. Contohnya sistem informasi suatu perusahaan tidak perlu mencantumkan data seluruh karyawannya. Selain tidak berguna, aspek sekuritasnya tidak terjamin karena website biasanya diletakkan di domain hasil pembelian.
Untuk website pribadi juga harus demikian. Sehingga teman-teman yang mengunjungi situs kita tidak akan mengunjungi halaman website yang penuh dengan menu-menu aneh. Sebaiknya website pribadi hanya memuat informasi diri dan hal-hal di sekitar lingkungan kita. Tidak perlu diisi dengan info-info berat tentang politik dan sebagainya.
2. Pilih script language yang tepat
Sangat penting menentukan script language yang akan kita pakai dalam membuat website ini. Jika kita ingin memiliki dynamic content website, kita bisa mengkolaborasikan bahasa PHP dan MySQL. Selain mudah, referensi tentang keduanya banyak ditemui di internet ataupun buku. Kalau kita ingin website sederhana, gunakan saja bahasa HTML. Untuk membuat tampilan website kita lebih halus, dapat dipakai JavaScript, image berbasis Flash, atau Cascading Style Sheet (CSS).
Pemilihan bahasa berpengaruh juga terhadap tampilan website kita di beberapa browser. Mozilla Firefox di bawah versi 1.5 tidak mendukung aplikasi Flash. Internet Explorer (IE) lebih sensitif terhadap kesalahan-kesalahan script dibandingkan Firefox. Akibatnya, interface yang muncul dengan baik di Firefox, bisa berantakan posisinya di IE. Jadi, nggak bisa sembarangan dong! Makanya harus hati-hati.
3. Cari referensi yang mudah dan membantu
Bagi kita yang awam dalam hal pembuatan website, bahasa-bahasa tersebut tentunya terasa asing bagi kita. Lewat internet kita bisa men-download referensi berbagai bahasa pemrograman website. Jika ingin referensi berbahasa Indonesia, dapat di-download gratis di www.ilmukomputer.com, misalnya.
Akan lebih baik jika referensi berupa manual dari pembuat bahasa tersebut, misalnya PHP Manual atau MySQL Manual. Caranya? Tinggal masuk Google lalu ketik phpmanual atau manual yang lain. Mungkin pada awalnya terasa agak susah karena memakai bahasa Inggris. Akan tetapi, jika dilihat dari kualitasnya, jauh lebih baik. Bagi yang ingin belajar melalui buku, juga tersedia banyak referensi dari berbagai penerbit. Selain isinya lengkap, terkadang ada bonus CD aplikasi untuk memudahkan pemahaman kita.
4. Membuat work schedule
Untuk memastikan proses pembuatan website ini lebih terarah dan teratur, sangat penting membuat jadwal kerjanya. Contohnya pekan ini kita menargetkan membuat header-nya dan menu home. Pekan depan menu profilnya sudah diselesaikan. Demikian seterusnya hingga semua bagian website selesai dikerjakan.
Yang lebih penting lagi adalah menaati jadwal tersebut. Komitmen dan konsistensi kita diuji dalam membuat website ini. Hasil yang baik tentunya merupakan realisasi dari rangkaian proses yang baik pula.
Empat langkah tersebut merupakan modal awal dalam membuat website. Tidak sulit membuatnya. Kita hanya memerlukan strategi yang tepat. Penting diperhatikan bahwa ketergesaan adalah sesuatu yang harus jauh-jauh disingkirkan. Seringkali orang awam yang baru belajar meembuat website menginginkan hasil yang bagus dengan proses sesingkat mungkin. Sangat kecil sekali kemungkinannya. Insya Allah di tulisan berikutnya akan ditampilkan tips-tips praktis membuat website sederhana. Selamat belajar.
Artikel Januari 07
Mengelola Teknologi secara Tepat
Patut disyukuri ketika para pemimpin negeri ini mulai memperhatikan pengembangan teknologi bagi rakyatnya. Beberapa waktu lalu pemerintah telah membuka jalan bagi berdirinya PLTN di Indonesia dengan menandatangani MoU dengan pemerintah Korea Selatan untuk mensosialisasikan rencana pembangunan PLTN. Kerjasama ini patut disyukuri karena dengan sosialisasi, masyarakat akan lebih mengetahui manfaat, efisiensi dan efektivitas nuklir dibandingkan batubara dan minyak bumi yang sekarang dikonsumsi.
Tidak hanya terbatas dalam teknologi nuklir, teknologi informasi dan komunikasi juga menjadi fokus lain pemerintah. Program pengadaan internet di sekolah-sekolah adalah contohnya. Dengan PT Telkom Indonesia sebagai pelaksananya, program ini menargetkan sekolah-sekolah di seluruh daerah, baik kota dan desa, tersedia akses internet bagi peserta didiknya. Diharapkan dengan adanya internet ini, siswa akan memperoleh informasi yang lebih luas dan lengkap untuk mengembangkan kreativitas belajarnya. Dari akses komunikasi, handphone dan media elektronik seperti televisi bukanlah sesuatu yang mewah karena hampir tiap orang memilikinya. Kepemilikan keduanya menunjukkan bahwa masyarakat tidak asing lagi berinteraksi dengan teknologi.
Namun, di tengah situasi menggembirakan ini tersimpan suatu kekhawatiran. Masyarakat Indonesia faktanya belum dapat menggunakan berbagai hasil tekonologi ini secara baik. Televisi yang seharusnya menjadi sumber informasi, karena berita-berita dari dalam dan luar negeri dapat disaksikan secara aktual, ternyata tidak digunakan sebagaimana mestinya. Masyarakat lebih senang menonton acara sinetron, infotainment, film, ataupun reality show. Bukan berarti keliru menyaksikan tayangan bukan berita, melainkan masyarakat kita faktanya tidak memberikan proporsi yang tepat untuk tiap acara tersebut.
Pengawasan juga menjadi problem lain dalam pemanfaatan media berbasis teknologi di Indonesia. Orang tua kurang bisa mengawasi anak-anaknya dalam menonton televisi. Sang anak terkesan dibiarkan saja melihat berbagai acara yang dia suka. Padahal, selektifitas tontonan sangat penting. Apalagi, bagi anak yang masih dalam proses pengenalan lingkungan. Akibat dari salah pengawasan ini adalah maraknya aktivitas anak-anak yang meniru apa yang ia tonton di televisi. Kasus Smack Down, bunuh diri, pelecehan seksual adalah contoh kasus karena televisi. Fakta ini sangat mengagetkan karena hampir semua orang tidak menyangka efek tayangan di televisi sangat fatal.
Tidak hanya televisi ternyata yang disalahgunakan. Alat komunikasi handphone pun ditambahkan fungsinya oleh masyarakat kita. Tidak hanya untuk berkirim SMS dan menelepon, handphone adalah sarana yang cukup representatif untuk merekam adegan mesum dan menyebarkannya lewat bluetooth maupun infrared. Hal ini sangat mungkin terjadi karena tidak ada pembatasan penggunaan handphone. Dari berbagai media yang ada, mungkin internet yang paling riskan disalahgunakan. Ada dua penyebabnya, pertama internet dapat diakses kapan saja dan kedua, internet tidak mengenal batasan usia dalam penggunaannya. Bukan menjadi rahasia umum lagi ketika anak-anak muda yang datang ke rental warnet sering mengunjungi situs-situs porno, sekedar melihat gambar hingga men-download foto-fotonya untuk koleksi.
Tampaknya, masyarakat kita begitu kreatif dalam menggunakan media teknologi. Namun, kreatifitas ini salah jalur. Dari berbagai contoh kasus di atas, jelas tercermin pemahaman pengelolaan teknologi belum sepenuhnya dipahami oleh masyarakat. Padahal, poin inilah yang seharusnya menjadi prioritas. Komunitas yang mengerti teknologi tapi tidak mampu mengelolanya dengan baik, maka tekonologi itu akan menjadi pedang yang akan memusnahkan komunitas itu. Faktanya, bangsa ini sedang mengikuti arus tersebut.
Memang tidak mungkin pemerintah membatasi penggunaan handphone, televisi, bahkan internet. Akan tetapi, pemerintah juga tidak boleh diam berpangku tangan menyaksikan rakyatnya tertelan oleh teknologi itu sendiri. Ada beberapa hal konkret yang bisa dilakukan pemerintah, paling tidak meminimalkan dampak buruk dari teknologi. Secara umum, masyarakat harus disadarkan dengan sosialisasi secara intensif bahwa teknologi harus dikelola supaya bermanfaat. Mekanismenya melalui tingkatan struktur yang paling dekat dengan masyarakat yaitu RT. Pemilihan RT ini mengingat RT adalah komunitas komunikasi yang paling sering digunakan warga. Gerakan ini akan lebih efektif ketika sifatnya nasional yang menunjukkan bahwa pemerintah memang benar-benar serius memperhatikan pengelolaan teknologi secara tepat. Secara lebih spesifik, jika pemerintah serius dalam program ini, akses internet di Indonesia dapat dilakukan pemblokiran massal untuk seluruh situs-situs yang diindikasikan menyebarkan pornografi. Untuk pengelolaan televisi dan film dilakukan sensor yang lebih ketat serta penjadwalan ulang seluruh acara di televisi.
Banyak orang mungkin menganggap bahwa solusi di atas mungkin terlalu ketat dan tidak sesuai jika diterapkan karena mengganggu kebebasan pribadi dan mengurangi pendapatan pengelola televisi serta produsen film. Namun, dengan langkah ini, sekali lagi, paling tidak meminimalkan kekeliruan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi, khususnya di bidang informasi dan komunikasi. Tentunya ini tanggung jawab ini tidak terletak di bahu pemerintah saja. Selaku masyarakat, kita juga memiliki peranan dalam menyukseskan program ini. Seketat apapun aturannya, perlu diketahui pula, akses pemanfaatan teknologi secara benar tergantung dari penggunanya. Individu-individu yang tidak menyadari pentingnya memanfaatkan teknologi secara tepat akan terkesan cuek dan mengacuhkannya. Jadi, tidak ada kata tunda lagi untuk menyadarkan masyarakat tentang pemanfaatan teknologi secara tepat selain saat ini juga.
Artikel Desember 06
Perjalanan USB Flash Drive Sampai Sekarang
Flash disk atau USB saat ini tengah menjadi media yang sangat dikenal publik. Sebenarnya penggunaan kedua kata tersebut kurang tepat. Penulis baru menyadari ketika melakukan searching informasi flash disk atau USB di internet tidak menemukan data yang diinginkan. Ternyata bahasa baku atau istilah yang tepat untuk mengacu kepada benda tersebut adalah USB flash drive. Memang benar antara keduanya, flash drive dan USB, tidak dapat terpisahkan. Flash drive ada karena USB telah muncul terlebih dahulu.
USB sendiri adalah singkatan dari Universal Serial Bus, merupakan suatu teknologi yang memungkinkan kita untuk menghubungkan eksternal device seperti scanner, printer, dan flash drive ke komputer. USB merupakan terobosan strategis dalam pembuatan interface komputer yang dapat digunakan untuk semua platform, baik untuk Macintosh, Linux/UNIX, dan semua versi Windows pasca Windows 98. Saat ini USB telah diterima sebagai standar interface untuk computer device sehingga sekarang untuk beberapa device kita tidak memerlukan CD instalasi atau driver. Kita tinggal memasukkan device-nya dan komputer akan langsung mengenali kemudian meng-install-kan driver-nya secara otomatis.
Teknologinya telah berkembang sedemikian rupa. Ketika awal muncul adalah versi 1.0 dengan kecepatan transfer data 1,5 Mbps, lalu berkembang menjadi versi 1.1 yang data transfer rate-nya meningkat yaitu 12 Mbps. Adapun versi terkini adalah USB versi 2.0 (High Speed USB) dengan kecepatan transfer yang lebih mengagumkan, dapat mencapai 480 Mbps.
USB flash drive, selanjutnya kita sebut flash drive, adalah salah satu media yang menggunakan USB interface. Belum dapat dipastikan siapa yang mengembangkannya pertama kali karena ada tiga perusahaan yang memperselisihkan yaitu M-Systems, Netac, dan Trek 2000. Flash drive mulai dipasarkan pada tahun 2001 di Amerika oleh IBM. Ukuran data yang dapat disimpan pada waktu itu adalah 8 MB, lalu pada tahun 2003 sudah mencapai 64 MB.
Seiring bertambahnya waktu dan kebutuhan penggunanya, flash drive juga terus berkembang. Data terakhir yang penulis terima tercatat bahwa kapasitasnya sudah ada yang mencapai 64 GB. Kapasitas yang populer, dalam artian terjangkau harganya dan banyak dipakai pengguna, berkisar hingga kapasitas 4 GB. Tidak hanya ukurannya saja yang berkembang, tetapi bentuk dan fungsinya juga mengalami perubahan. Ada flash drive yang memakai rotary design sehingga kita tidak perlu khawatir kehilangan penutupnya. Tersedia juga flash drive yang dilapisi karet supaya tahan air atau dilengkapi dengan clip carabineer sehingga mudah digantungkan. Bahkan telah dibuat flash drive berbentuk model kartu kredit. Namanya wallet-friendly USB. Ukurannya hanya 86 x 54 x 1,9 mm. Jadi, dapat disimpan dengan aman di dalam dompet.
Fungsi standar sebuah flash drive adalah menyimpan data. Namun demikian, beberapa tambahan fungsi baru sudah melekat. Kita telah mengenal MP3 player dan iPod sebagai media untuk mendengarkan lagu. Perkembangan terbaru adalah MP4 yang mampu menampilkan screen gambar. Fungsi lain yang jarang disadari penggunanya adalah flash drive sebagai mode. Indikasinya adalah di kampus-kampus sering dilihat mahasiswa yang mengalungkannya ke leher dan juga bervariasinya bentuk beserta keunikan dan warna flash drive.
Untuk mengukur kualitas suatu flash drive baik atau tidak, dapat dilihat beberapa parameter. Parameter-parameter tersebut adalah transfer rate average, access tume, burst rate, read, dan write. Sejauh ini informasi mengenai hal-hal tersebut tidak terfasilitasi dari produsen flash drive. Penulis melihat sebuah produk kemudian mengamati informasi tentang flash drive tersebut ternyata hanya tercantum high transfer USB dan lifetime warranty. Biasanya data mengenai kualitas flash drive dibahas di media informasi tentang komputer. Akan tetapi, tentu saja tidak semua flash drive ditampilkan uji kualitasnya. Hal ini seringkali menyulitkan konsumen dalam membeli flash drive.
Biasanya orang menggunakan flash drive karena dua tujuan. Tujuan pertama adalah untuk menyimpan data dalam jumlah banyak dan aman di flash drive. Inilah yang mendorong pemakaian floppy disk sebagai media penyimpanan berangsur-angsur berkurang. Sebagai perbandingan, ukuran sebuah floppy disk kurang lebih 1,44 MB. Ukuran ini 88 kali lebih kecil daripada ukuran minimum flash drive sekarang (128 MB). CD ataupun DVD memang dapat menyimpan data yang sama atau bahkan lebih besar dari sebuah flash drive. Namun, portabilitasnya kurang begitu baik. Apalagi, kedua kepingan itu amat rentan terhadap goresan sedikit yang bisa merusak data.
Untuk masalah keamanan memang penulis belum menemukan ada penelitian ilmiah yang menguji sekuritas sebuah flash drive dari serangan virus, warm, ataupun trojan. Bisa saja hal ini merupakan strategi pemasaran seperti penulis lihat dalam promosi penjualan flash drive di asrama UI beberapa waktu lalu. Sekuritas yang dimiliki flash drive saat ini sebatas melindungi data yang ada supaya tidak terakses oleh orang yang bukan pemiliknya. Cara kerja yang dipakai saat ini antara lain menggunakan full disk encryption atau physical authentication tokens. Sistem terbaru yang diperkenalkan tengah tahun 2005 lalu adalah biometric fingerprinting. Akan tetapi, metode sekuritas ini sangat mahal karena menggunakan teknologi tinggi.
Adapun tujuan kedua adalah memanfaatkan flash drive sebagai digital audio players. Kemarakan MP3 dan MP4 players serta iPod membuat kita dapat leluasa mendengarkan lagu yang kita sukai. Jika kita bosan mendengarkan lagu, ada fasilitas radio yang bisa digunakan. Bahkan, untuk keperluan tertentu, kita dapat merekam suara dengan MP3 ataupun MP4.
Pada kenyataannya pemanfaatan flash drive telah berkembang untuk berbagai hal. Contohnya di sebuah artikel diuraikan langkah-langkah men-setting flash drive untuk mem-boot Windows XP. Syarat utamanya memang motherboard dan BIOS dari komputer kita dapat mendukung manajemen booting dari flash drive. Beberapa aplikasi juga dapat dijalankan dari flash drive tanpa harus meng-install-nya terlebih dahulu ke komputer.
Pada masa mendatang fokus dari perusahaan produsen flash drive adalah minimalisasi biaya komponen seiring dengan optimalisasi kapasitas datanya. Sekarang kita dapat merasakan harga sebuah flash drive jauh lebih murah dibandingkan dua tahun lalu dengan ukuran sama. Begitu juga dengan perkembangan ukurannya. Kita berharap produsen flash drive akan lebih memiliki inovasi dan kreativitas sehingga pendayagunaan atau pemanfaatannya lebih luas dan memuaskan pemakainya.
Artikel November 06
Membiasakan Mempersiapkan Diri
Kondisi negeri ini sedang dalam ujian yang begitu berat. Berbagai pemasalahan datang silih berganti. Ada banyak orang yang berpendapat tentang peristiwa-peristiwa itu. Di antara mereka ada yang berkata bahwa inilah ujian Allah terhadap bangsa ini supaya bisa bangkit dari keterpurukan. Setelah sekian lama berkubang dalam lautan krisis sejak moneter kita hancur lebur, inilah momentumnya untuk menyatukan komponen bangsa, bersama-sama menyatukan pikiran untuk memperoleh solusi terbaik. Namun demikian, tidak sedikit yang berpendapat bahwa Allah sedang marah karena bangsa ini terlalu banyak berbuat dzolim. Kemaksiatan dilegalkan, rakyat disengsarakan, bahkan kemusyrikan pun dijadikan aset daerah dengan dalih pelestarian budaya. Belum lagi eksploitasi alam yang tidak mengindahkan lingkungan. Dengan demikian, kedzoliman-kedzoliman tersebut efeknya terakumulasikan menjadi musibah yang menimpa kita saat ini.
Kasus lumpur Sidoarjo adalah salah satu dari bencana kekinian yang belum tertuntaskan. Apalagi, jika kita menengok kembali ke belakang, masih terpatri dalam benak kita suara jerit tangis, tumpukan mayat, dan hancur leburnya Aceh karena tsunami. Belum tuntas tahap pemulihannya, negeri ini kembali berduka dengan gempa Yogyakarta. Namun, perlu disadari ternyata berita-berita yang menjadi headline media hanya bencana-bencana besar yang menghancurkan infrastruktur fisik. Padahal, di negeri ini masih begitu banyak bencana yang efeknya jauh lebih besar karena menghancurkan masa depan generasi bangsa. Negeri ini terancam kehilangan generasinya ketika narkoba telah mencandu anak-anak SD, gedung-gedung sekolah terbiarkan roboh, atau sekolah ternyata hanya menjadi mimpi panjang bagi rakyat bawah karena mahalnya buku dan biaya sekolah.
Dalam skala kecil, peristiwa-peristiwa itu seharusnya menjadi bahan refleksi bagi kita. Seringkali kita merasa bahwa hidup ini terasa sangat berat. Dengan aktivitas kuliah yang sudah menumpuk, kita masih terbebani dengan tugas-tugas kuliah. Bagi yang aktif di organisasi, mereka harus menyisihkan waktu untuk agenda rapat dan kepanitiaan. Belum lagi problem dengan teman, di rumah, dan di lingkungan kos. Kompleksitas hidup itu seringkali kita hadapi dengan keluhan. Jadi, semakin berat yang kita hadapi, semakin sering kita berbagi keluhan dengan teman, meratapi nasib diri yang tampaknya begitu malang.
Padahal, nasib kita masih lebih beruntung, bahkan jauh lebih beruntung, dibandingkan negara kita saat ini dengan berbagai musibah yang telah disebutkan. Kita jarang berusaha untuk menyadarinya. Pembangunan kesadaran ini memang belum menjadi kultur karena terbentur dengan paradigma lama yang telah mengakar. Kita sering kewalahan menghadapi masalah demi masalah karena kita memang sengaja tidak mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Bukankah Allah sudah mengingatkan kita dalam firman-Nya untuk mempersiapkan diri dengan apa saja yang kita miliki, untuk menghadapi tantangan yang ada di depan kita, apapun itu (Al Anfal: 60)? Supaya tidak terkena depresi berat, bentuklah mental yang kuat dengan sholat. Agar kita memenangi pertandingan sepakbola, tempalah fisik secara rutin dengan berlari pagi atau berlatih passing. Menghadapi UTS juga harus kita persiapkan dengan belajar rutin jauh-jauh hari dan menjaga kesehatan. Untuk menghadapi konflik dengan keluarga, teman, dan lingkungan, bisa kita bekali diri dengan intens berinteraksi untuk menambah pemahaman kita tentang karakter orang lain. Peluang masalah akan terselesaikan jauh lebih optimal, otomatis akan jauh lebih besar jika kita sudah mempersiapkan diri menghadapinya, bukan?
Tentunya bukan langkah solutif apabila kita hanya bisa mengutuk, menghujat, atau meratapi tiap masalah. Adalah tindakan sia-sia jika sekarang kita masih berkeluh kesah tanpa kongkret mengatasi. Tak sesulit yang kita bayangkan untuk menjadi lebih baik. Dengan mulai mempersiapkan diri untuk menghadapi masalah, pribadi yang siap dengan solusi-solusi tepat dan kreatif untuk tiap problem akan terbentuk.
Artikel Oktober 06
Berlebaran atau ber-’Idul Fitri?
Entah berapa kali kita telah melewati Ramadhan dalam masa hidup kita sampai sekarang. Dari awal masih kecil ketika kita masih belum paham benar tentang Ramadhan. Kemudian, menginjak baligh orang tua melatih kita untuk berpuasa penuh selama satu hari. Saat ini tentunya sebagai seorang muslim yang sudah baligh dan berakal, kewajiban puasa telah bisa penuh dilaksanakan.
Yang menarik terjadi di negeri kita adalah fenomena satu Syawal. Jutaan orang bersama-sama mempersiapkan diri dengan berbelanja di pasar ataupun supermarket. Barang yang dibeli pun bervariasi, dari pakaian untuk keluarga, ketupat sayur, hingga kue-kue seperti nastar. Inilah rutinitas hampir seluruh muslim Indonesia. Tidak hanya menimpa orang-orang yang mampu secara ekonomi, tetapi juga mereka yang ada di kalangan bawah. Mereka pun tidak ingin ketinggalan dalam merayakan hari istimewa itu. Diusahakanlah segala upaya agar bisa turut larut, menjadi bagian dari kecitaan massal. Inilah fenomena lebaran.
Pernyataan besarnya adalah apakah memang demikian yang dituntunkan oleh Islam ketika memasuki satu Syawal? Satu syawal adalah hari sukacita dan dukacita muslim yang telah melaksanakan Ramadhan secara maksimal. Mereka gembira karena inilah saatnya mereka menjadi orang yang kembali suci setelah menempuh proses madrasah terbesar. Dosa-dosa mereka diampuni dan kualitas serta kuantitas ibadahnya meningkat. Mereka bersedih karena meninggalkan bulan yang sangat mulia. Bulan istimewa yang dicintai Allah SWT. Satu syawal seharusnya menjadi momentum untuk perbaikan dan peningkatan kualitas amal pada masa-masa mendatang. Inilah waktu untuk mengukur keberhasilan Ramadhan kita dan apakah akan ada perubahan dalam hidup kita nantinya.
Inilah hakikat satu Syawal sesungguhnya, menjadi manusia yang fitrah, ‘Idul Fitri. Bukan berarti tidak boleh merayakan ‘Idul Fitri seperti yang terjadi saat ini. Permasalahannya adalah konsep fundamentalnya belum bisa kita hayati dan dilaksanakan sepenuhnya. Bukti kongkretnya bisa kita lihat di lingkungan. Pasca Ramadhan tingkah laku dan sikap sebagian besar masyarakat yang menjalani Ramadhan tidak berubah dibandingkan sebelum Ramadhan. Meskipun Ramadhan rutin terjadi, korupsi masih membudaya, kesenjangan belum bisa hilang, anak yatim dan orang miskin bertambah jumlahnya, dan kesejahteraan bagi rakyat masih jauh panggang dari api. Belum lagi masih rentannya konflik horizontal karena masih sensitifnya kita dengan perbedaan-perbedaan yang ada.
Maka, revisi awal yang harus dilakukan supaya pasca Ramadhan bisa muncul perubahan adalah perubahan mental berpikir. Sikap seseorang ketika meninggalkan Ramadhan dipengaruhi perspektifnya dalam menyikapi Ramadhan. Paling tidak ada dua makna pokok yang harusnya kita tanamkan dalam Ramadhan. Pertama, adalah pemahaman bahwa Ramadhan adalah waktu peningkatan ibadah. Inilah saatnya untuk memperbanyak amal kebaikan karena Allah telah menjanjikan balasan yang berlipat. Jadi, sangatlah keliru kalau kita memahami Ramadhan hanya sebagai bulan berpuasa. Padahal, berpuasa yang dipenuhi berdusta, menggunjing, terlalu banyak bercanda dan tidur bisa mengurangi pahala puasa. Jadi, amalan ibadah yang kita lakukan juga bisa kita ambil esensinya. Puasa sebagai pengendali hawa nafsu dan pelatih kejujuran, shalat untuk bisa menjaga diri dari perbuatan maksiat, serta shadaqah atau zakat sebagai pelatih sense of charity. Selepas Ramadhan, amalan-amalan yang telah diperbuat insya Allah bisa mengakar, bukan lenyap tak berbekas.
Kedua, memahami benar bahwa Ramadhan sebagai bulan taubat. Allah telah mendesain Ramadhan untuk melebur dosa bagi setiap muslim. Rasul bersabda barangsiapa berpuasa ramadhan karena iman dan mengharap pahala Allah, niscaya ia diampuni dosanya yang telah lalu (Muttafaq ‘Alaih). Salah satu syarat taubat itu diterima oleh Allah adalah tidak akan mengulanginya lagi. Apabila hal tersebut tidak terpenuhi maka taubatnya tidak sah. Mereka yang memahami benar makna kedua ini akan mengurangi begitu banyak kebobrokan di negeri ini karena rasa takut taubatnya ditolak oleh Allah SWT.
Kedua konsep inilah yang belum dipahami oleh sebagian besar muslim negeri ini. Orientasi yang terbentuk hanya memahami Ramadhan sebagai rutinitas berpuasa sebagaimana telah disebutkan di awal. Akhirnya pengisian Ramadhan hanya dimaknai sebagai tidak makan dari Subuh hingga azan Maghrib berkumandang. Entah apa yang harusnya dilakukan dalam interval waktu tersebut tidak diperhatikan.
Dengan demikian, ketika Ramadhan usai, yang menjadi fokus bukanlah penjagaan dan peningkatan amal yang telah dilakukan ketika Ramadhan. Malah bersenang-senang seakan terbebas dari belenggu keterkungkungan selama berpuasa. Ini bukan khayalan, bukan pula gurauan, melainkan benar-benar terjadi di lingkungan kita, atau bahkan kita sendiri pelakunya. Wallahu ‘alam bishawab.
Artikel September 06
phpBB, Forum Pengganti Milis
Internet sudah menjadi kata yang tidak asing lagi kita dengar. Dari orang-orang tua hingga golongan muda, dari para eksekutif muda hingga anak-anak di bangku sekolah dan kuliah. Meskipun harus kita akui, persebarannya masih belum merata karena perhatian terhadap teknologi di tiap daerah berbeda. Sejarah internet dimulai pada 1969 ketika Departemen Pertahanan Amerika memutuskan untuk mengadakan riset bernama ARPANET tentang bagaimana caranya menghubungkan sejumlah komputer sehingga membentuk jaringan organik (Kompas, 2002).
Umumnya para pengguna memanfaatkannya untuk mencari data dan sebagai surat elektronik atau lebih dikenal dengan nama email. Email begitu populer karena merupakan sarana komunikasi yang mudah diakses dan sangat hemat. Dalam hitungan detik seseorang sudah dapat menerima dan mengirim email ke mana pun di dunia ini (Bob Julius Onggo; 2005). Email diciptakan tahun 1971 oleh Roy Tomlinson. Setahun berikutnya ia berhasil menyempurnakannya. Pada tahun yang sama, icon @ juga diperkenalkan sebagai lambang penting yang menunjukan “at” atau “pada”.
Sampai saat ini jumlah pengguna email di seluruh dunia diperkirakan melonjak sekitar 138% dari 505 juta di tahun 2000 dan meningkat menjadi 1,2 miliar di tahun 2005 (riset Jupiter Media Metrix). Faktor pendukung perkembangan email lainnya adalah semakin booming-nya internet khususnya dengan tersedianya Top Level Domain yang baru, seperti .info, .biz, dan .pro. Selain itu, berbagai perusahaan teknologi telah mengembangkan email viewer ke berbagai peralatan, seperti PDA, WinCe, Palm, dan Psion (http://www.bjoconsulting.com)
Dengan begitu banyaknya pengguna email maka terbentuklah komunitas-komunitas yang membentuk mailing list (milis). Motivasi membentuk milis ini dikarenakan perlunya wadah untuk memfasilitasi para pengguna email yang memiliki kesamaan kepentingan, bisa berupa hobi, pekerjaan, ataupun untuk organisasi. Kelebihan milis adalah massive. Maksudnya, jika kita berkirim ke alamat suatu milis maka akan terkirim ke semua alamat email yang tergabung di dalam milis itu. Sejauh ini milis lebih banyak digunakan untuk diskusi, menyampaikan informasi, meminta pendapat ataupun yang lainnya.
Sejarah milis di Indonesia berawal sekitar tahun 1987 s.d. 1988. Pada waktu itu internet masih belum terbentuk seperti sekarang ini. Sekelompok kecil mahasiswa Indonesia di Berkeley, Amerika Serikat membentuk milis Indonesia yang pertama dengan alamat email indonesians@janus.berkeley.edu. Persatuan komunitas pelajar dan mahasiswa Indonesia di luar negeri terbentuk dengan adanya fasilitas diskusi maya ini.
Namun demikian, milis kurang praktis untuk beberapa hal. Misalnya, setiap email yang terkirim ke milis akan terkirim ke email kita. Apabila kita jarang membacanya, maka inbox kita penuh terisi milis. Padahal, kapasitas email sangat terbatas. Full inbox juga dapat membuat pesan-pesan non milis terselip sehingga tidak terbaca. Padahal, pesan tersebut bisa jadi sangat penting.
Milis juga tidak interaktif untuk diskusi karena kita tidak dapat mengklasifikasikan pesan berdasarkan temanya. Contohnya saja untuk komunikasi internal sebuah organisasi, kita memerlukan semacam folder sehingga wacana atau informasi untuk bidang humas tidak bercampur dengan kesekretariatan. Atau agenda-agenda yang menjadi program humas dapat dibahas lebih detail.
Milis juga merepotkan user jika harus me-reply suatu pesan karena harus menyertakan pesan sebelumnya yang kita reply. Jika tidak, sulit bagi orang lain untuk mengetahui pesan mana yang sedang kita respon. Karena saat ini pengguna milis terpusat pada jasa yahoogroups.com, pengaksesan menjadi sangat lambat. Banyak bandwidth internasional tersedot karena hal tersebut.
Berdasarkan berbagai fakta tersebut, saat ini sedang marak penggunaan forum berbasis phpBB untuk meminimalisasi kekurangan milis. Proyek phpBB pertama kali dikembangkan oleh James Atkinson. Ketika itu pada pertengahan Juni 2002 memang masih begitu minim forum berbasis PHP. Maka dimulailah proyek tersebut. Akhirnya, untuk pertama kalinya pada 16 Desember 2000 forum tersebut dirilis dengan label phpBB v1.0.0. Kemudian Paul dan Frank bergabung dalam rangkaian perbaikan phpBB dan dirilislah versi 2.0 pada 4 April 2002.
phpBB sangat sesuai digunakan untuk wahana diskusi dan bertukar informasi. Tidak seperti milis, phpBB tidak mengganggu space email kita. phpBB hanya perlu diinstall di sebuah web hosting berbasis mySQL dan PHP. Memori penyimpanan yang dipakai adalah web hosting tersebut. Untuk ikut berpartisipasi juga mudah. Setiap calon user tinggal melakukan registrasi seperti mengisi data pribadi. Setelah itu ia akan mendapatkan account dan password untuk bergabung. phpBB membutuhkan seorang user untuk bertindak sebagai admin. Tugasnya melakukan managemen baik user maupun desain content. Salah satu forum berbasis phpBB yang saat ini marak dikunjungi adalah www.kaskus.com. Bahkan, beberapa vendor GSM juga sudah memakainya untuk diskusi para pengunjungnya seperti klubmentari.com dan m3-access.com.
Manfaat lain dari phpBB adalah kita dapat membuat klasifikasi diskusi dengan mudah. Contohnya, kita sedang membuat sebuah forum BEM fakultas. Kita dapat membuat kategori berdasarkan masing-masing bidang. Kemudian, di masing-masing kategori juga dapat dibuat forum baru. Jadi, pengaturan file akan tercipta sehingga dapat membantu user untuk pencarian data. Jika user ingin me-reply posting-an, istilah pesan dalam phpBB, tidak perlu disertakan posting-an sebelumnya. Inilah kekhasan phpBB di mana setiap posting-an akan di-list dengan menampilkan waktu dan username pengirimnya. Dengan berbagai kelebihan tersebut, mungkin telah tiba waktunya bagi browser internet, khususnya pecinta diskusi, untuk mengubah penggunaan media milis ke forum phpBB.
Artikel Agustus 06
Pembelajaran Berbasis Multimedia Animasi
Seiring dengan meningkatnya pemberdayaan teknologi oleh manusia, maka tidak bisa dipungkiri bahwa hampir di setiap aspek kehidupan teknologi menjadi media bantu. Ada beberapa keunggulan teknologi yang menyebabkan menjadi pilihan manusia.
ertama adalah karena nilai kegunaan tinggi. Pemakaian telepon untuk berkomunikasi atau bahkan email untuk bertukar informasi lebih menjadi prioritas saat ini. Selain itu, nilai efisiensi dari pemanfaatan teknologi juga tinggi. Sepeda motor, bahkan mobil tentunya memiliki nilai lebih cepat dan efisien untuk mencapai suatu lokasi yang jauh dibandingkan dengan sepeda. Salah satu teknologi yang sering dibicarakan saat ini adalah teknologi informasi. Teknologi informasi tidak sebatas penggunaan internet saja, tetapi juga media-media yang membantu kelancaran informasi, seperti teknologi presentasi, multimedia, dan e-books.
Pendidikan adalah salah satu aspek penting dalam pembangunan suatu bangsa. Pengelolaannya tidak bisa dilaksanakan sembarangan karena terkait dengan kualitas sumber daya manusia suatu bangsa dan keberlangsungan generasinya pada masa depan. Di negara kita, Indonesia, pengelolaan pendidikan belum terlaksana secara optimal. Penulis menganalisa hal tersebut dari sudut pandang pemberdayaan teknologi di dalamnya.
Selama ini, belajar hanya diartikan sebagai proses penyampaian ilmu dari guru kepada siswanya. Umumnya media yang digunakan adalah mendengar, mencatat, dan mengerjakan tugas dari buku paket atau lembar kerja. Budaya seperti ini cenderung mendorong siswa bersifat pasif, maksudnya mereka tidak bisa membangun pemahaman sendiri. Untuk proses belajar tersebut diperlukan aktivitas berdiskusi intensif dan pengkaitan kongkret antara ilmu yang diajarkan dengan realita di lapangan. Dapat juga terjadi keengganan siswa dalam mencatat karena materi pelajaran yang tidak dikemas dengan menarik, hanya mendengarkan dan mencatat.
Oleh karena itulah, sistem pengajaran yang ada harus dibenahi. Dari awalnya sistem konvensional seharusnya menjadi sistem modern. Penulis mengajukan multimedia animasi sebagai media untuk membantu penyampaian materi dari guru ke siswa. Jenis multimedia lainnya adalah teks, gambar atau citra, audio dan video. Penggunaan multimedia animasi dipilih karena memperhatikan aspek kemudahan dalam pembuatannya bagi guru. Dibandingkan jenis multimedia lain, animasi memiliki keunggulan untuk bisa divisualisasikan dengan efek menarik, tetapi proses pembuatannya tidak begitu rumit.
Secara umum, multimedia ini juga bermanfaat untuk siswa dapat mengulang materi pelajaran dari sekolah dengan bahan yang sama. Siswa tinggal meng-copy dari komputer guru atau men-download dari situs khusus yang dibuat sekolah. Waktu belajarnya pun bisa disesuaikan dengan kondisi siswa bersangkutan. File-file tersebut juga bisa dijadikan sebagai repositori data. Artinya ketika nanti akhir semester siswa ingin me-refresh materi, dapat langsung membuka di komputernya dan melihat kembali materi yang pernah diajarkan. Sebagaimana telah disebutkan di atas, siswa perlu membangun pemahamannya sendiri terhadap suatu materi yang diajarkan. Multimedia animasi dapat menyajikan materi konsep awal saja, tetapi menjadi modal pokok bagi siswa untuk mengembangkan pemahaman sendiri. Di animasi itulah nanti siswa diberikan pertanyaan untuk tugas dan diskusi.
Bagi guru sendiri, adanya animasi dapat membiasakan guru menmbuat konsep pengajaran yang lebih terstruktur. Berdasarkan studi kasus yang ada, pernah dibuat sebuah animasi materi limit untuk mahasiswa oleh sebuah perguruan tinggi di Amerika. Materi awalnya adalah pemahaman konsep tentang kontinuitas dari sebuah kurva dengan analogi mobil yang mengikuti alur jalan. Dengan analogi tersebut, mahasiswa dapat lebih memahami prinsip kontinuitas tanpa perlu mendengarkan penjelasan panjang lebar dari dosen. Penulis kira hal ini pun dapat diterapkan kepada mahasiswa karena materi yang diajarkan pun merupakan materi yang ada pada siswa SMA.
Untuk mengawali budaya belajar berbasis multimedia animasi, memang diperlukan waktu dan usaha yang sungguh-sungguh dari semua pihak, khususnya dari pihak pemerintah dan guru pengajar. Guru pengajar inilah yang akan membuat sendiri media animasi karena tiap sekolah memiliki karakteristik yang berbeda. Kendala yang masih umum terjadi saat ini adalah masih terbatasnya sarana komputer dan minimnya kemampuan guru dalam pembuatan animasi. Akan tetapi, jika hal ini yang terus menjadi alasan maka percepatan pendidikan sulit untuk menjadi realita.
Comments (4)
Leave a Comment
Leave a Comment

