Archive for December, 2007|Monthly archive page

Sabtu Ceriaku

Hari Sabtu ini sangat menyenangkan, bagi saya khususnya. Dimulai dengan aktivitas rutin yang tidak terjadwal (he…he… gimana ceritanya ya??), qiyamul lail bersama di asramaku. Ini kayaknya QL pertama yang bareng2 setelah lama tenggelam dalam kesibukan tidur malamnya masing2, he…he… Jam 3.30 QL dimulai.

Oh ya, sebelumnya antara setengah sadar, saya bangun dari tidur yang baru saya mulai 3 jam sebelumnya. So pasti, ngantuk abisz….Tapi ngeliat bang Ai, supervisor kami, dengan semangat militansi BEM-nya membangunkan kami, langsung semangat dueh…. Oh ya, tau Bang Ai kan?? Wah, patut dipertanyakan ke-UI-annya kalo gak kenal dia nih!! Itu lho, ketua BEM UI 2006-2007!!

Abis bebersih dengan wudhu, langsung ngacir ke tempat QL deh!! Udah mulai ternyata. Tapi gak papa, baru sedikit yang dateng, he…he… Setelah selesai QL, agenda dilanjutkan dengan shalat Subuh berjamaah di masjid dan tausiyah. Eh, ternyata ada kejutan abis tausiyah. Pertama, ada pengumuman tentang mekanisme baru pencatatan kehadiran dan nginep di asrama. Wah, tambah mantep aja nih!! Sampe ngetungnya aja ribet!! Tapi gak papa, biar lebih tertib aja kali ya!! Ternyata emang susah juga ngatur para “pemimpin masa depan” ini! Makanya aturannya diketatin abiszzz!!! He…he… Kejutan kedua adalah pembagian beasiswa bulan Desember. Horeeeee……. Akhirnya keluar juga tuh duit, he…he…

Selesai pembagian beasiswa, langsung terpikir bahwa inilah waktu yang tepat untuk segera kembali ke tempat tidur, he..he..he.. Eits, baru mau ngabur dari musholla asrama, anak2 udah pada teriak aja, “Sekarang waktunya maen bola!! Tunjukkan komitmen kita dengan menjalankan kesepakatan kita tadi malem! Kagak ada yang boleh tidur!!”. Wadow… gawat nih!! Udah ngantuk gini, suruh maen bola??? Males banggetzzzz….. Tapi, emang tadi malem pas Forum Lelaki (FL) udah sepakat sih mau maen bola bareng paginya. Ya, karena sudah komitmen, berarti harus konsekuen dong!

Ternyata man bolanya seneng bener!!! Rame bangetzzz!!! Gila abiszzz!!! Man of the match-nya adalah Kamil (Metalurgi 04), yang selalu menendang bola dengan sangat ngaco (udah dua kali keluar ke jalan raya depan asrama) dan menghadang setiap penyerang lawan dengan berbagai macam cara (termasuk dengan handsball-nya). Maka, jadilah pertandingan futsal ala anak PPSDMS itu menjadi rame rasanya. Ngakak, nggemesin, nafsu saling ngalahin, sampe teriak-teriak nggak karuan yang kedengeran sampe jarak 300an meter!! Untungnya tim saya yang menang!! Hore…. Lha iya lah, wong bareng ama Kamil, hwakakakakkk……

Maen bola ngaco ini kelar jam 7.15. Niatnya sih pengen beli ketoprak di halte UI trus tidur deh. Tapi, apa daya. Ternyata keinget janji lagi mau maen futsal di Dekan Cup Fasilkom. Ya udah, segera beberes dan langsung berangkat ke lapangan Poltek dengan bikun tercinta. Ternyata tim saya, 2004, gagal memenangkan pertandingan. Meskipun udah unggul 4-1 di babak pertama, kami harus mengakui keunggulan tim 2005 dengan skor 4-7. Itu setelah kita tarung abis-abisan sampe 2 kali extra time. Abisnya skor imbang 4-4 di akhir babak kedua. Terus terang, masalah utama 2004 adalah stamina yang udah pada abis. Anak2 2005 sih enak, pada banyak yang dateng. Jadi, bisa gonta-ganti gitu deh! Nah kalo kita mah yang dateng cuma dikit. Gak pada fokus deh akhirnya. Tapi, gak papa. Seperti kata Krisna, yang penting hepi2 aja!! Good, Bro!!

Akhirnya setelah dua kali maen futsal, langsung menuju asrama lagi. Kali ini targetnya jelas. Tidur!!! Dan akhirnya, terwujudkanlah hasrat itu, hwe..he…he.. Bangun cukup siang. Baru inget harus nyuci dan ada tamu dateng dari IKJ. Yo wis, beberes lagi deh! Jam 1/2 3 akhirnya bisa ketemu temen SMA dari IKJ itu. Dan momen hari ini ditutup dengan latihan taekwondo yang juga luar biasa. Gak tau kenapa, cuma kayaknya kerasa semangat aja. Mungkin karena yang dateng banyak kali ya! Hampir semua anak dateng. Edwin juga dateng lho setelah sekian lama gak latihan, sibuk ngurusin kampanye dan tetek bengek lainnya, he…he…

Otre deh… Betapa menyenangkan hari Sabtuku ini. Moga aja berlanjut ke hari2 berikutnya deh ya!!!

Widget baru

Alhamdulillah, berkat bantuan seorang temen di ITB, mas Aji namanya, akhirnya terpasang fasilitas widget baru buat sharing2 file bareng2. Kalo mau ngeliat di side kanan paling bawah, Selamat menikmati, he…he…he…

Adekku……

Hari ahad kemaren diajak ketemuan sama adekku. Katanya penting banget!!! Makanya dari Sabtu kemaren, dia sms+nelepon mulu. Ya udah, sebagai kakak yang baik (hwakakakakkk), saya sms aja, kasih tau jam 4 sore kosong, ntar saya maen ke kosannya. Tapi apa mau dikata, jam 2 siang saya ketiduran. Kecapekan kayaknya. Abis, dari Sabtu kemaren ada “Workshop Kepemimpinan Pemuda dan Mahasiswa se-Jawa”. Keren kan??? He…he…. Tempatnya di Asrama PPSDMS kami. Bareng-bareng anak-anak Bandung dan Bogor. Luar biasa!!! Dapet lawakan gratis dari pak Adhyaksa Dault (Menpora RI). He…he….he…. Ternyata menteri jago abis nglawaknya!!!

Wah, kok jadi ngaco gini ya???!!! Back to the main topic. Karna ketiduran tadi, saya telat dateng ke kosan si Zoel, adekku ini. Bangun2 langsung liat hp. Astaghfirullah….. Udah jam 16.15. Langsung sms Zoel, ngasih tau kalo saya ketiduran. Takut ngecewain. Langsung mandi, shalat trus langsung meluncur ke sana deh!!

Seperti diduga, ternyata adekku ini memang dalam suatu tantangan (bukan masalah lho!!) pelik.  Dan diapun cerita semuanya. Dari awal. Sampe akhir. Sangat jelas. Terbuka. Dan hasilnya adalah luar biasa! Aku sampe terkagum-kagum dengan ceritanya. It’s beautiful acceleration, Bro!! You’ve done so well!!

Gak bisa komentar banyak buat dia. Cukup memotivasi dan meyakinkan. Bahwa memang tidak ada pilihan lain. Selain mempersiapkannya sebaik mungkin. Mulai sekarang!! Gak ada tawar-menawar lagi. Cukuplah pelajaran-pelajaran dari pengalaman yang dulu. Saatnya berbenah.

Have a nice struggle, Bro!! I just can pray for your best!!

Ternyata dirimu memang benar-benar sudah dewasa, he…he…he…he…

Artikel Oktober 07

Kesalehan*

dimuat dalam buletin LemTaqwa, milik Rohis Fasilkom, edisi Desember 2007

 

Dalam salah satu kumpulan cerpen sosio religi karya AA Navis, ada sebuah kisah menarik yang terdapat di salah satu cerpennya yang berjudul Robohnya Surau Kami. Haji Saleh, tokoh ilustratif dalam cerpen tersebut, diceritakan masuk neraka, meskipun pekerjaan sehari-harinya beribadah di masjid. Ia melakukan semua ibadahnya itu dengan tekun. Maka Haji Soleh yakin bahwa pahala ibadahnya itu akan mengantarkannya ke surga. Akan tetapi, ketika yaumil akhir tiba, Haji Soleh diputuskan masuk neraka oleh Allah SWT. Tentu saja, Haji Soleh tidak terima. Bagaimana mungkin dia bisa masuk neraka? Padahal di dunia, track record ibadahnya bisa dibilang luar biasa. Maka, proteslah dia kepada Allah, memperkarakan keputusan yang dirasanya tidak adil itu.

Mendengar keberatan yang diajukan Haji Soleh, Allah Yang Maha Adil itu pun menyampaikan alasan-Nya, “Kamu tinggal di tanah Indonesia yang mahakaya raya, tapi kamu biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadah saja, karena beribadah tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang”.

Cuplikan kisah tersebut bisa jadi menggambarkan kondisi riil sebagian besar masyarakat muslim Indonesia yang masih terjebak dalam bias keliru pemahaman agama dan ibadah. Masyarakat hanya memaknai kesalehan sebatas kesalehan ritual, jenis kesalehan yang diukur berdasarkan legal formal ajaran agama. Seberapa sering shalatnya, seberapa lama dzikirnya, mungkin juga seberapa sering pergi hajinya, Ibadah hanya dianggap sebagai ritualisasi, gerak fisik semata, atau tradisi rutin yang terus berulang.

Kesalahan menginterpretasikan ini lalu menimbulkan implikasi yang begitu dahsyatnya. Dengan jumlah warga yang mengaku beragama Islam lebih dari dua pertiganya, negara ini dinobatkan ke dalam kelompk negara terkorup terbesar di dunia. Meskipun bangunan masjid megah yang berdiri tidak sedikit jumlahnya dan lantunan tilawah menggema dengan lantang melalui pengeras suaranya, kriminalitas menjadi menu utama berita tiap harinya. Walaupun jamaah haji yang diberangkatkan lebih dari 200.000 orang per tahunnya, jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan masih begitu banyak jumlahnya.

Ketika lantas kita menuduh Barat dan kroni-kroninya sebagai “bapak moyangnya” sekulerisasi karena berorientasi pada kehidupan dunia dengan melupakan akhirat, berarti pula Haji Soleh dalam cerita ini, maupun Haji Soleh-Haji Soleh lainnya yang muncul di dunia nyata, juga sekuler tulen karena hanya memprioritaskan kehidupan akhirat dirinya tanpa memperdulikan realitas sosial di sekelilingnya.

Islam bukanlah agama individual karena ia datang untuk menjadi rahmat bagi semesta alam. Agama ini mengedepankan adanya tawazun (keseimbangan) antara kebutuhan pribadi dan kemaslahatan sosial. Islam tidak bisa didikotomisasikan, apalagi diparsialisasikan. Melakukan kedua hal tersebut berarti tidak mengakui Islam sebagai ajaran yang syamil, kamil, dan mutakamil.

Dalam sebuah hadits dikisahkan ada seorang sahabat yang memuji kesalehan seseorang di depan Rasulullah. Lalu Rasul bertanya mengapa sahabat itu menyebutnya saleh. Lalu ia pun menjawab, “Ketika saya baru masuk masjid ini, aku melihatnya sedang shalat dengan khusyuk. Dan ketika aku pulang, dia masih saja khusyuk berdoa.”. Kata Rasul, “Lantas, siapa yang memberinya makan dan minum?” Sahabat itu menjawab, “Kakaknyalah yang memberinya makan dan minum”. “Kakaknya itulah yang layak disebut saleh”, sahut Rasul.

Sebuah dimensi baru tentang makna kesalehan menjadi lebih tepat ketika ditempatkan pada tindakan nyata. Lebih jelasnya ketika terlihat dampak nyatanya dalam konteks sosial kita. Tentu saja, hanya kesalehan sosial yang dapat dikur dengan parameter itu. Kesalehan ritual lantas bukan menjadi sesuatu yang salah. Bahkan, ia adalah syarat utama bagi seorang muslim untuk menunjukkan identitas kemuslimannya. Namun sayang, banyak orang kemudian terhenti pada level ini. Padahal, saleh ritual adalah tahap awal dari saleh sosial.

Ruhnya shalat berarti kita mampu menghentikan kekejian dan kemungkaran di lingkungan kita. Kalau di kampung kita, masih banyak anak sekolah yang suka membolos dan nongkrong di jalanan, berarti shalat kita baru sampai pada saleh ritual.

Esensinya zakat, infak, dan shadaqoh artinya tingkat kepekaan dan kepedulian sosial kita berada pada level yang sangat sensitif. Jika lantas masih ada tetangga kanan kiri atau depan belakang yang kelaparan atau anaknya putus sekolah, perlu dipertanyakan kembali efek sedalam mana pemahaman kita tentang zakat, infak dan shadaqoh itu.

Puasa itu dikatakan berhasil jika kita bisa mengerem perilaku nafsu kita. Kalau ternyata di bulan lainnya, kita masih menggunjing, dengki, dan mengambil sesuatu yang bukan hak kita, maka Ramadhan hanya sebagai cuti paruh waktu dari kesewenang-wenangan kita.

Kesalehan ritual dan sosial bukanlah kemestian yang perlu ditawar. Secara normatif, keduanya haruslah terintegrasi dalam diri setiap muslim. Artinya, secara ritual kita haruslah saleh, secara sosial pun kita mestinya saleh. Jika kesalehan ritual kemudian kita tinggalkan, amalan kita akan kehilangan ruhnya. Lalu, bila kesalehan sosial yang kita pinggirkan, nasib kita bisa jadi sama seperti Haji Soleh. Merasa dirinya layak ke surga, tetapi malah masuk ke neraka akhirnya.