Archive for April, 2008|Monthly archive page

Akhirnya, Amanah Itu Kelar Juga…

Alhamdulillah wa syukurillah. Kayaknya nggak ada kata yang lebih tepat yang terucap dari lidah ini selain kedua kata tersebut. Allah telah mengangkat salah satu amanah yang membebani pundak saya selama kurang lebih 10 bulan. Dimulai dari bulan Juni 2007 lalu, amanah ini mulai membebani ketika saya diangkat menjadi seorang ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Fasilkom UI. DPM ini adalah lembaga legislatif dan yudikatif seminar di fakultas saya.

Tugasnya luar biasa berat. Apalagi setelah pada periode sebelumnya lembaga ini sudah kehilangan integritasnya di mata mahasiswa fasilkom. Ya! Benar-benar kehilangan integritasnya! Apalagi, sempat ada wacana untuk membubarkan DPM karena lembaga tersebut hanya menambah runyam koordinasi di Fasilkom. Nggak perlu berbicara tentang berkontribusi karena memang tidak ada sesuatu yang dikerjakan oleh DPM tersebut.

Dengan beban yang sedemikian beratnya, ditambah dengan hutangnya untuk segera melaksanakan hasil musyawarah mahasiswa (musma) pada tahun 2006 lalu, maka saya memutuskan untuk segera bertindak taktis, bukan teoritis. Cukup pragmatis sih pada awalnya. Tapi, itu yang menurut saya lebih realistis. Daripada kita sok idealis, ujung-ujungnya hasilnya juga gak efektif. Nah lo!!!

Hanya ada dua orang di DPM Fasilkom ini, termasuk saya. Tapi, rekan saya yang satu ini, Arudea namanya, bener2 mantep. Kita saling melengkapi, mendukung, memotivasi, dan mengkritisi satu sama lain. Kami menyadari bahwa secara kuantitas kami sangat kesulitan melaksanakan semua tugas dan beban untuk mengembalikan citra DPM Fasilkom itu sendiri. Seperti sudah disebutkan sebelumnya, tindakan kami lebih bersifat pragmatis. Intinya, gimana lembaga ini supaya bisa jalan. Minimalis banget lah. Pokoknya biar orang-orang fasilkom pada tahu ternyata DPM masih ada. Just simple…

Maka, berjuanglah kami berdua. Tidak hanya 100%, tetapi 200% kami berikan tenaga dan pikiran untuk lembaga ini. Inilah kontribusi! Ketika kita bisa memberdayakan seluruh potensi yang dimiliki untuk semaksimal mungkin kebermanfaatan orang lain. Prinsip inilah yang kami pegang. Sangat erat. Dan hasilnya, sungguh luar biasa. Pencitraan DPM mulai tumbuh, meski masih sangat sedikit. Tapi, bagi kami minimal ada lah! Kami juga berhasil membuat berbagai terobosan seperti pembuatan ketetapan baru untuk mengesahkan anggota aktif IKM Fasilkom dan mekanisme rekomendasi anggota aktif IKM Fasilkom. Kami juga berhasil menjadi perintis dan pelopor Majelis Mahasiswa (MaMa). MaMa ini berisikan seluruh anggota DPM ditambah dengan seluruh ketua lembaga formal mahasiswa di lingkungan Fasilkom UI. Tidak cukup sampai di situ, kami juga berhasil memelopori adanya LPJ publik bagi seluruh lembaga mahasiswa di Fasilkom. Ini merupakan momen pertama di lingkungan Fasilkom di mana seluruh lembaga melaporkan LPJ-nya dalam satu forum, dan dalam satu waktu bersamaan.

Tapi kami menyadari, masih banyak celah-celah ketidakmaksimalan kontribusi kami. Khususnya pada pengambilan dan penjaringan aspirasi mahasiswa Fasilkom UI. Bukannya kami mau berapologi, tetapi kondisi lembaga yang hanya ada dua orang menyebabkan kami harus “memprioritaskan” hal-hal yang kami anggap lebih urgen. Oleh karena itu, kami memohon maaf sebesar-besarnya kepada rekan-rekan mahasiswa fasilkom selaku konstituen kami. Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa-dosa ketidakmampuan dan ketidakberdayaan kami.

Terakhir, kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh elemen mahasiswa Fasilkom, seluruh lembaga formal kemahasiswaan, pihak dekanat Fasilkom, serta pihak-pihak yang tidak dapat kami sebutkan sat persatu di sini. Sungguh, amal ini menjadi lebih ringan dengan adanya bantuan itu, kerja ini menjadi lebih baik ketika ada rekan-rekan yang mengingatkan, dan pengabdian ini menjadi lebih bermakna dengan dukungan dan motivasi dari semuanya. Terima kasih banyak. Semoga Allah SWT memberikan balasan yang lebih baik (khoirul jaza).

–selesainya amanah ini tidak lantas membuat kami tidak lagi berkontribusi. akan ada banyak ranah lain yang menunggu kerja keras kami di sana–

SMS Aneh :)

Masih ada kaitannya sama mapres dan adek saya, hehe… Selain mengirimkan sms yang nyuruh saya mbuka blognya, ternyata dia jug ngirim sms yang bunyinya seperti ini.

Aslm.nang,cb baca 3 koran top nasional hr ni..tempo,kompas,republika.ada berita yg muncul serentak d 3koran tu.soal kemenangan pilkada jabar&prbhn peta politik nasional k dpn…
-analis&pakar media,zulhanief matsani-
Then,nang,ente 11thn maning nyalon bae dadi walikota tegal!
IAllah menang!partai pendukunge pks+pan.unang,s.kom,m.sc. duet karo kopral sigit prasetiadi
Haha,ngko olih testimoni saka Dr.Zulhanief Matsani, S.E., Ak, M.Ec., menteri muda keuangan RI bidang ekonomi Islam
Hehe,drpd stress ora menang mapres!

Oh ya, karena banyak isi smsnya dalam bahasa Tegal, saya terjemahin nih biar temen2 nonTegal ngerti maksudnya :) .

Aslm.nang,cb baca 3 koran top nasional hr ni..tempo,kompas,republika.ada berita yg muncul serentak d 3koran tu.soal kemenangan pilkada jabar&prbhn peta politik nasional k dpn…
-analis&pakar media,zulhanief matsani-
Then,nang,ente 11thn lagi nyalon aja jadi walikota tegal!
IAllah menang!partai pendukungnya pks+pan.unang,s.kom,m.sc. duet dengan kopral sigit prasetiadi
Haha,ntar dapet testimoni dari Dr.Zulhanief Matsani, S.E., Ak, M.Ec., menteri muda keuangan RI bidang ekonomi Islam
Hehe,drpd stress nggak menang mapres!

Hahahahahaha, waktu itu sih saya jawab, kayaknya yang stres bukan saya nih, tapi adek saya ini yang ngirim sms! Oh ya, Sigit itu temen SMA saya, sekarang lagi ikut pembinaan di Akademik Angkatan Laut. Btw, Zoel, usulan jadi walikota boleh juga. Insya Allah, 2018 atau 2023, saya jadi walikota Tegal!! Aamiin……

Cukup Sentilan Kecil

Huff,,, lama nggak nulis lagi di blog. Nah, kali ini coret-coretan yang akan menghiasi blog saya adalah tulisan dari adek saya. Jadi, ceritanya gini. Beberapa waktu lalu, saya mengikuti Seleksi Pemilihan Mahasiswa Berprestasi tingkat Fasilkom UI 2008. Ini merupakan salah satu kompetisi paling bergengsi bagi kamu-kamu yang ngaku mahasiswa dengan prestasi bejibun, jago nulis, dan mantep cas cis cus bahasa inggrisnya. Tahun lalu saya juga ikut. Hasilnya ya, sebatas finalis. Makanya tahun ini bertekad habis-habisan. Revenge dari tahun lalu sekaligus untuk menunjukkan kontribusi terakhir kepada kampus sebelum wisuda Agustus ini (insya Allah…)

Target tinggi dipasang sebelum lomba ini. Apa itu?? Jadi Mahasiswa Berprestasi Utama tingkat Fakultas!! Namun, setelah perjuangan yang sangat-sangat maksimal, ternyata Allah memberikan hadiah lain untuk saya, yaitu menjadi juara III di kompetisi ini. Kecewa?? Iya. Tapi, setelah menelepon adek untuk memberitahukan hasil ini dan memohon maaf karena tidak bisa memenuhi untuk menjadi juara 1, tiba-tiba dia mengirimkan SMS supaya saya membuka blognya. Dan, saya pun menemukan tulisan di bawah ini, di pistingan paling awal di blognya. Sekali lagi, tulisannya memang sangat menginspirasi!! Setelah puisi senandung hujannya, kini coretannya kembali menyemangatkanku tentang arti kontribusi dan berprestasi.

Matur nuwun Bro!! Tiada yang lebih menyenangkan ketika kita hidup bersama orang-orang yang tidak risih mengingatkan kita ketika senang, menyemangati kita ketika sedih, dan mau mengulurkan tangannya untuk membantu kita berdiri saat jatuh.

—————————————————————————————————————————————-

Prestasi Itu, Apaan Sich??

Kalau yang seperti itu sich (kompetisi mahasiswa berprestasi-pen) artifisial bro! Yang namanya prestasi itu ya pengabdian dan kontribusi…
(disarikan dari pemikiran Guru Bangsa “The Arista Institute”)

Dua pemandangan yang berbeda di malam itu. Di satu sisi, seseorang memberikan definisi tentang prestasi kepadaku berupa pengabdian dan kontribusi tanpa henti, plus dengan pengorbanan. Dia sampaikan itu lewat diskusi denganku menjelang isya di kamarnya yang penuh penuh dengan buku plus alunan musik jazz. Sisi akademiknya ‘begitu hancur’ karena kelulusannya mungkin akan sampai batas akhir paling lama seorang mahasiswa S1 reguler diperkenankan kuliah di kampusku. Namun, sejarahnya sebagai seorang ketua di lembaga publik eksekutif di kampus ini begitu menyejarah.

Di lain sisi, seorang yang lain memberikan gambaran mengenai prestasi kepadaku lewat foto di hp-nya. HP yang baru ia perbarui beberapa waktu yang lalu, setelah dia mendapat gelar sarjana ekonominya. Foto itu bergambar sebuah piagam bertuliskan “Juara II Mapres” (mapres=mahasiswa berprestasi).

Aku terbangun, sadar, dan kemudian merenung. Renungan yang begitu lama sampai aku mengacuhkan berkali-kalinya panggilan membagi ilmu. Sampai aku kemudian mencoba merangkai rangkaian definisi prestasi yang menurutku bisa membuat kata itu jauh lebih berarti.

Rangkaian itu kemudian kutelisik dalam beberapa buku yang pernah kubaca: Menjadi manusia pembelajar oleh Andreas Harefa, Menjadi Muslim Prestatif oleh Aa Gym, Novel-novel best seller Habiburrahman El-Shirazy yaitu Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih beserta ceramahnya dalam dua kali bedah buku di Aula Student Centre kampus kami.

Dalam buku yang pertama, aku mengambil intisari bahwa siapapun bisa belajar dan kemudian berprestasi, tanpa bantuan bangku sekolah yang menyiksa. Bahwa belajar bisa terus dilakukan di universitas kehidupan bernama hidup yang kita alami itu sendiri.

Dalam buku yang kedua, aku dapat mengerti bahwa sebagai seorang muslim, berprestasi adalah dengan mengerjakan apa yang memang Allah perintahkan kepada kita. Kerjakan itu dengan sebaik-baiknya dan kemudian optimalkan potensi yang ada pada diri kita. Itulah salah satu esensi kesyukuran.

Dalam buku yang ketiga sekaligus ceramahnya, aku pun menemukan dua hal tentang prestasi yang lebih beragam lagi. Fahri itu, bisa lulus S1 dan kemudian S2 dengan predikat sangat baik, itu prestasi. Azzam juga. Ia bisa menamatkan kuliahnya walaupun tidak tepat waktu, tetapi mampu membiayai adik-adiknya di Indonesia sampai semuanya bisa bersekolah, itu juga prestasi. Dalam ceramahnya juga ditambahkan, “Yang penting itu berani hidup! Ada seorang mahasiswa di Solo yang gak mau lulus-lulus. Ketika ditanya kenapa dia menjawab seperti ini: kalau mau lulus mau jadi apa? Cari pekerjaan sulit, wirausaha gak ada modal. Mendingan jadi mahasiswa, masih punya status.”

Kembali ke definisi prestasi. Aku mencoba menarik benang merah seperti ini. Prestasi itu (barangkali) adalah sebuah capaian yang menurut diri itu berarti. Tak perlu harus dikuantifikasi, karena tidak semuanya mesti tercatat dalam lembaran ketikan prestasi di cv. Tak perlu pula dibanggakan, karena sejatinya semua hanya anugerah dari Tuhan, dan kita hanya objek yang sedang ditakdirkan menjalaninya.

Namun, bukan berarti kita harus menjadi orang ‘phlegmatic’, yang hanya bisa pasrah dan menunggu ‘keberuntungan zaman’. Tetaplah mendayung karena kita sekarang memang sedang hidup di samudra kehidupan. Atau mengutip kata-kata puitis dalam majalah Economica “Dayung terus sampanmu! Hingga langit kelam berganti biru, sampai bertemu pulau harapan!”

Dan bukan pula kita menjadi orang yang oportunis. Mengklaim segalanya prestasi kita dan berusaha mencapai sebanyak mungkin prestasi lewat unethical attitude. Meraih sebanyak mungkin kursi-kursi formal dengan meminimisasi pengorbanannya. Duh, alangkah tidak kontributifnya kita.

Kemudian, mengutip dari artikel ‘since good leaders are not enough’ di website (bukannya seharusnya paham dengan makna ini, kan?) tentang bagaimana seharusnya seseorang itu mencapai prestasinya “Collins menggambarkan kombinasi yang seolah-olah paradoksal antara kegigihan profesional (professional will) dengan kerendahan hati personal (personal humility)”.

Ya, di satu sisi kita berjuang sebaik mungkin untuk apa pun (dengan segenap tumpahan pikiran, kerja keras, dan determinasi yang begitu tinggi) yang kita ingin capai. Dengan bagaimanapun caranya, selama masih dalam rule of the game (of our life) yang kita jadikan pegangan.

Di sisi lain, kita harus mengakui, bahwa capaian itu bukan wilayah kita. Maka tak perlu ada rasa kecewa. Yang seharusnya ada adalah rasa malu, bahwa potensi ini belum sepenuhnya keluar untuk sebuah amal yang nyata dalam hidup. Tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang lain di sekitar kita, tetangga kita, kampung kita, desa kita, dan umat kita.

Terakhir, tetaplah dalam track orang yang selalu berorientasi pada prestasi: “Alladzii khalaqal mauta wal hayaata liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala”
-yang menjadikan kematian dan kehidupan, supaya dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya-
(Q.S.67:2)

-for my brother-

Artikel Februari 2008

Reformasi Tata Kelola Birokrasi
Berbasis Teknologi Informasi

( ikhtisar karya tulis Seleksi Mahasiswa Berprestasi Fasilkom UI 2008 )

Dalam konteks negara Indonesia, institusi pemerintahan memiliki target untuk mencapai empat poin tujuan yang tertulis dalam pembukaan UUD 1945. Keempat tujuan tersebut adalah untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.

Namun, institusi pemerintahan tersebut ternyata belum mampu menjalankan fungsi dan wewenangnya dengan baik. Alih-alih mempermudah dan membantu masyarakat dalam menyelesaikan permasalahannya, institusi-institusi tersebut seringkali merepotkan masyarakat dengan berbagai pelayanan yang buruk, seperti lamanya proses administrasi, mahalnya biaya pelayanan, hingga maraknya praktek suap, korupsi, dan kolusi di dalamnya.

Menurut penelitian The Asia Foundation, pengusaha Indonesia harus melalui rata-rata tujuh sampai sebelas prosedur yang memakan waktu hingga 128 hari untuk mendapatkan surat izin usaha. Tidak hanya dalam perizinan bisnis yang memerlukan waktu lama dalam pengurusannya. Dalam sektor pelayanan publik juga sering ditemui kasus serupa. Misalnya dalam pembuatan Kartu Tanda Penduduk (KTP), Kartu Keluarga (KK), akta lahir, dan dalam layanan kesehatan bagi warga miskin. Bobroknya birokrasi di negeri ini juga tercermin dari laporan Transparency International (TI) pada tahun 2007 yang menyatakan bahwa corruption perception index Indonesia turun menjadi 2,3 dibandingkan tahun sebelumnya pada angka 2,4.

Polemik birokrasi ini menjadi hambatan pertumbuhan Indonesia dalam skala makro dan mikro. Pengelolaan birokrasi menjadi tidak efektif dan efisien. Pelayanan publik menjadi tidak optimal karena prosedur birokrasi yang berbelit, tingginya korupsi dan pungutan liar, serta ketiadaan transparansi dan akuntabilitas. Kondisi ini diperparah dengan fakta bahwa citra tersebut telah melembaga dan mengakar di berbagai institusi pemerintah yang seharusnya menjadi pelayan publik.

Bobroknya birokrasi di Indonesia memerlukan reformasi yang bersifat komprehensif, strategis, dan praktis. Komprehensif berarti perbaikan yang nantinya dilakukan harus menyentuh seluruh aspek dari mulai kebijakan, sistem, hingga keterlibatan orang-orang yang terlibat dalam rantai birokrasi tersebut, baik dari sisi pemerintah maupun masyarakat. Strategis berarti penerapan reformasi tersebut harus disesuaikan dengan kebutuhan saat ini dan tantangan pada masa datang. Adapun praktis berarti ide dan gagasan yang telah dirumuskan harus dapat diimplementasikan dalam merombak birokrasi di Indonesia.

Oleh karena itu, tidaklah mungkin suatu kebijakan diklaim sebagai sau-satunya solusi untuk memperbaiki permasalahan birokrasi. Ada beberapa variabel lain yang juga menentukan keberhasilan penataan birokrasi. Namun demikian, memang harus ada satu kebijakan yang menjadi sentral dari berbagai kebijakan yang lain karena memiliki kelebihan nilai strategis. Selain itu, kebijakan tersebut memiliki peluang tinggi berperan sebagai policy catalyst dalam mempercepat terjadinya reformasi birokrasi. Berdasarkan pertimbangan itulah, penulis mengajukan ide untuk menerapkan teknologi informasi dalam memperbaiki tata kelola birokrasi di Indonesia.

Wacana e-government sebenarnya bukanlah hal yang baru. Sudah banyak beberapa negara yang telah menerapkannya. Demikian juga dengan beberapa daerah dan instansi di Indonesia. Namun, institusi-institusi tersebut ternyata belum dapat memahami e-government dalam konteks kerangkanya yang utuh. Fenomena yang terjadi mengesankan bahwa e-government tidak lebih dari sekadar menggunakan komputer di kantor untuk mengetik dan mencetak atau membuat aplikasi di internet yang dapat dinikmati oleh publik. Pemahaman tersebut hanya merupakan bagian dari kerangka e-government. E-government harus dipandang sebagai sistem birokrasi yang menuntut transparansi, akuntabilitas, dan perubahan pola pikir untuk memberikan pelayanan publik yang berkualitas.

Kabupaten Sragen di bawah pimpinan Untung Wiyono telah membuktikan bahwa teknologi informasi sangat membantu kinerja birokrasinya. Dalam periode 2002 sampai dengan 2006, dengan menggunakan teknologi informasi penyerapan tenaga kerja di sektor industri menunjukkan peningkatan dari 40.785 jiwa menjadi 58.188 jiwa. Begitu juga dengan investasi yang meningkat dari 592 miliar menjadi 1,2 triliun. Peningkatan juga terjadi pada jumlah perusahaan yang memiliki perizinan (legalitas usaha) dari 6.373 perusahaan menjadi 10.293 perusahaan. Demikian pula dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang jauh melesat dari 7 miliar menjadi sepuluh kali lipatnya.

Sudah tidak tepat lagi kita memperdebatkan apakah e-government ini akan berhasil diimplementasikan di Indonesia yang masih banyak birokratnya buta tentang teknologi. Faktanya, tren globalisasi dunia semakin menguatkan posisi teknologi informasi dalam berbagai sektor. Kita tidak mungkin lagi menghindarinya. Inilah momentum yang tepat bagi kita untuk belajar dan mengembangkan kualitas masyarakat kita dengan teknologi informasi. E-government, sekali lagi, bukanlah cara yang paling efektif. Namun demikian, metode ini terbukti dapat mengurangi banyak hambatan birokrasi yang terjadi dalam suatu sistem pemerintahan. Jadi, kenapa tidak segera mengimplementasikannya?

Artikel Januari 2008

Hakikat Syukur dan Sabar
(
dimuat dalam buletin LemTaqwa LDF Fasilkom UI)

Rasulullah SAW kagum kepada orang mu’min. Golongan ini, kata Rasul, memiliki dua keistimewaan. Ketika karunia datang kepadanya, mereka tidak lantas pongah dan membusungkan dada. Yang dilakukannya adalah mensyukurinya. Ungkapan syukur yang tidak terbatas lisan, tetapi juga melibatkan rasa dan raganya. Maka, Allah pun menambahkan karunia-Nya kepada mereka. Keistimewaan kedua dari orang-orang beriman adalah respon sabar jika musibah, ujian, atau cobaan menerpanya. Mereka yakin sebenar-benarnya bahwa sesungguhnya segala sesuatu milik Allah SWT dan akan kembali kepada-Nya. Bagi mereka, dunia dan segala isinya cukup diletakkan di tangan sehingga itu tidak mengganggu hatinya.

Memaknai kesyukuran dan kesabaran memang harus dilihat dalam perspektif yang sangat luas. Pemaknaan kita terhadap makna mensyukuri umumnya terbatas dalam tataran segala sesuatu yang membuat kita merasa gembira, senang, ataupun nyaman. Adapun hal-hal yang membuat kita menjadi sedih, kehilangan, atau kecewa kita persepsikan sebagai sesuatu yang harus direspon dengan kesabaran.

Paradigma berpikir seperti ini lantas membuat kita merasa menjadi sok tahu dengan kondisi kita saat ini. Merasa yakin bahwa kebahagiaan ini adalah karunia Allah atas segala amal yang kita perbuat sebelumnya. Atau juga kita merasa kesedihan ini menjadi bukti bahwa Rabb tidak menyayangi kita dengan membiarkan kita terpuruk dalam romansa kekecewaan.

Sabar dan syukur bukanlah sisi-sisi dari sekeping mata uang. Ketika satu sisi muncul, maka sisi yang lainnya tertutup. Ketika ada suatu peristiwa yang menimpa diri kita, seolah-olah kita hanya diberikan satu pilihan, bersabar atau bersyukur. Keliru besar apabila kita memiliki pola pikir seperti itu. Oleh karena itulah, agama tetap menganjurkan kita untuk bersabar baik ketika kita miskin ataupun kaya. Dalam konteks yang lain, Islam juga tetap memotivasi umatnya untuk selalu bersabar dalam menghadapi ujian dan beribadah.
Konteks bersabar saat miskin dan bersyukur saat kaya mudah dipahami dalam perspektif berpikir masyarakat umum. Akan tetapi, seringkali kita lupa bahwa dalam posisi kaya pun seharusnya kita bersabar. Sabar dalam kondisi kaya memiliki makna bahwa pemilik harta itu mampu menjaga hartanya supaya dapat dikelola dan dipergunakan bukan pada hal-hal yang tidak diridhoi oleh Allah SWT.

Pada ujian kemiskinan, kesabaran acapkali lebih mudah untuk direalisasikan. Ini karena dalam konteks kemiskinan, ketiadaan harta membuat seseorang lebih sedikit memiliki pilihan dalam menggunakan hartanya. Beda halnya bagi orang kaya. Mereka memiliki lebih banyak pilihan dalam membelanjakan hartanya. Oleh karena itulah, ketika kesabaran tidak terintegrasi dalam jiwanya, menjadi bumeranglah karunia titipan harta itu. Dan tidak sedikit orang-orang gagal bersabar dalam kelebihan harta. Bahkan tragisnya, mereka malah terjebak dalam perangkap hina kekayaan.

Demikian pula dalam konteks beribadah. Sabar dalam beribadah mengharuskan kita untuk selalu beristiqomah melaksanakannya, menjaga keikhlasan, serta tidak berhenti untuk memahami makna yang terkandung di balik ritual ibadah tersebut. Ketidaksabaran dalam beribadah akan memunculkan ketergesaan dan mereduksi penghayatan pada proses ibadah yang dilakukan. Itulah mengapa Rasul pernah mengingatkan akan munculnya orang-orang yang intensitas membaca Al Qurannya luar biasa, tetapi bacaan tersebut tercekat di tenggorokan mereka. Hal ini disebabkan mereka tidak sabar untuk memahami apa yang dibacanya.

Dalam konteks yang lebih luas, kondisi itulah yang sedang terjadi dalam komunitas masyarakat muslim, khususnya di Indonesia. Begitu paradoksnya, banyaknya penduduk muslim negeri ini ternyata tidak diiringi dengan kualitas ibadah yang dilakukan. Beberapa indikasi minimnya kualitas tersebut dapat dilihat dari maraknya korupsi dan orang-orang yang terdzolimi di negeri ini. Begitu mudahnya pula masyarakat menipu saudaranya yang lain. Bahkan, tidak segan membunuh untuk hal-hal sepele.

Permasalahan yang pada umumnya menimpa umat ini adalah ketidakmampuan mengelola sabar dan syukur sehingga dapat terintegrasikan dalam pola pikirnya. Menjadi orang yang mampu mengelola keduanya harus diakui tidaklah mudah. Kuncinya adalah dengan membiasakan diri kita untuk menerapkan keduanya dalam aktivitas keseharian. Dalam konteks kita, bersabar dan bersyukur bisa dilatih dalam kuliah, melaksanakan tugas organisasi, menaati nasihar orang tua, dan berbagai hal lainnya.

Sejatinya, Islam telah menyediakan sarana untuk melatih rasa syukur dan sabar. Keduanya dapat diasah dengan shalat dan shaum. Shalat merupakan momen yang mengantarkan kita kepada kedekatan hakiki dengan Allah. Inilah sarana komunikasi vertikal di mana tidak ada dinding penghalang antara makhluk dengan penciptanya. Adapun shaum akan membangun karakter syukur dengan munculnya rasa qanaah terhadap kondisi saat ini yang masih lebih beruntung dibandingkan jutaan orang papa dan lapar. Shaum juga akan menata kembali kesabaran kita karena esensi shaum adalah menahan diri. Menahan diri dari berbagai belenggu ego duniawi dan dari nafsu batiniah yang tidak seimbang. Jika kita berhasil menempa sabar dan syukur melalui dua mekanisme ini, kedua sifat tersebut akan terbingkai secara otomatis dalam pola pikir kita.

Syukur ibarat aspek ekspansif dalam garis kehidupan dan sabar adalah aspek defensifnya. Keduanya ibarat rahim seorang wanita. Dari syukurlah akan lahir sikap qanaah, tawadhu, dan keberanian. Adapun dari sabar akan melahirkan kesantunan, kelembutan, kesungguhan, serta ketenangan. Keduanya adalah entitas berharga yang harus kita jaga jika sudah dimiliki. Jika kita belum memilikinya, menjadi tugas kita untuk menumbuhkannya dengan mekanisme yang semestinya.