Archive for November, 2008|Monthly archive page
Short Story from My Trip, In Singapore
Saya mau sharing-sharing pengalaman saat melancong ke Singapura nih selama kurang lebih 4 hari, 7-10 November 2008. Sebenernya tujuan keberangkatan saya ke sana ada dua. Pertama adalah buat wawancara beasiswa KAUST. Kedua adalah menghadiri recognition event para penerima beasiswa KAUST dari asia pasifik. Undangan ke Singapuranya sih udah dari lama, sekitar awal Oktober. Tapi, kepastian berangkatnya baru awal-awal November. Nggak tau kenapa, tapi konfirmasi e-ticketnya baru awal November gitu.
Saya berangkat ke bandara hari jumat jam 3 siang bareng temen dari Fasilkom UI. Sampe bandara Soekarno Hatta sekitar jam 5 sore. Macet banget jalan ke bandaranya. Kami turun di terminal 2, di pintu D2. Sudah menunggu di sana 6 orang teman. Kami sholat ashar dulu. Sebelum masuk boarding, penyakit narsisnya pada muncul. Biasa, foto2 gak jelas di bandara. Hehehe…
Kami berangkat pake pesawat Malaysia Airlines jam 18.30. Transit dulu di Kuala Lumpur buat ganti pesawat, sekitar jam 21.30 waktu setempat. Kita sama Malaysia dan Singapura beda 1 jam. Mereka lebih cepet dari kita. Jadi, kalo WIB jam 8, di sana jam 9. Aneh sih sebenernya karena secara posisi, seharusnya kita lebih awal dari mereka. Entahlah… Akhirnya, kita sampe di Changi Airport Singapura jam 23.30. Udah ditunggu sama perwakilan KAUST yang mau nganterin kita ke hotel.
Artikel September 08
Mencari Pahlawan Muda Indonesia
Krisis bangsa saat ini memang telah menggurita. Krisis yang diawali dari terpaan badai ekonomi 10 tahun silam. Lantas disusul dengan tersingkapnya krisis politik, budaya, sosial, dan moral. Kita seharusnya tidak terbenam dalam keterpurukan dengan senantiasa mengutuk keberadaan permasalahan bangsa seperti yang terjadi saat ini. Krisis adalah takdir semua bangsa, sebagaimana perjalanan hidup manusia, adakalanya berada dalam kejayaan, dan suatu waktu ia terjatuh dalam keterpurukan.
Hal yang seharusnya kita khawatirkan adalah belum lahirnya sosok-sosok pahlawan dari berbagai krisis multidimensi itu. Krisis identitas bangsa ini 80 tahun silam jauh lebih berat. Namun, generasi saat itu berhasil mengilhami solusi identitas tersebut dengan lahirnya Sumpah Pemuda. Sebuah pernyataan kesepakatan yang menyingkirkan berbagai perbedaan dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa. Atau kita dapat merefleksikan diri pada momentum 10 November di Surabaya, saat fragmen semangat dan keberanian tersinergi dalam perjuangan mengangkat senjata.
Sejarah telah mencatatkan bahwa sosok-sosok pahlawan lahir dari para generasi muda. Berbagai peristiwa bersejarah di Indonesia dan juga di berbagai penjuru dunia lainnya telah membuktikannya. Maka ketika muncul kekeringan sosok pahlawan di negeri ini, berarti ada sesuatu yang keliru dalam diri para pemudanya.
Ada banyak faktor yang mempengaruhinya. Di satu sisi dapat dilihat bahwa telah terjadi distorsi makna kepahlawanan. Bagi beberapa komunitas pemuda, menjadi pahlawan adalah dengan berjuang mendapat wanita pujaannya, meskipun harus beradu fisik dalam perebutannya. Dalam komunitas yang lain, pahlawan adalah mereka yang siap bertarung dengan rekan sekampus lainnya demi gengsi fakultas. Atau bisa jadi, pahlawan adalah mereka yang hidup layak berkecukupan, meskipun untuk menggapainya tak segan main sikut kanan maupun kiri.
Comments (34)
Comments (4)

