Archive for the ‘Diary’ Category

Awal di Tanah yang Diberkahi

Tulisan ini, insya Allah, mengawali tulisan-tulisan berikutnya yang akan menceritakan pernak-pernik harian saya di tanah yang diberkahi, Arab Saudi. Dan di bagian ini, saya pengen cerita tentang proses nyampenya saya di sini (Jeddah) dan aktivitas awal sebelum kuliah. Tiket udah dipesen untuk pemberangkatan dari Soekarno Hatta, Jakarta. Secara, gak ada bandara di Tegal!! Masa harus nglemparin tali ke atas biar dikerek ama pesawat??? hahaha… Karena itulah, akhirnya diputuskan untuk transit di Jakarta, sehari sebelum keberangkatan.
Oh ya, sebelumnya harus berjuang keras buat mberesin bawaan. Info pertama yang didapet, maksimal bawaan yang masuk bagasi, 20 kilo. Wah, sampe dibela-belain tuh nimbang di tukang jual besi tua, hahaha… Ternyata beratnya 23,5 kilo. Waduh… berabe nih!!! Mana kelebihan per kilonya kena bayar 48 dolar!! Tapi ternyata, info terakhir yang didapet, maksimal beratnya jadi 30 kilo. Duh, senengnya!!! Gak jadi nombok cing, hahaha…
Akhirnya, masa itu pun tiba, untuk meninggalkan Indonesia, tanah dan orang-orang yang dicinta. Ada isak haru di bandara, tapi ada sorot harapan yang mengiringinya. Terasa sesak, namun terselip lega karena gembira melihat binar bangga di mata mereka. Berangkat bareng 5 orang temen Indonesia yang lain. Transit di Abu Dhabi. Gile, lama bener di sini. Lebih dari 6 jam!! Mana dingin banged!! Tuh bandara apa kulkas ya??? hehehe… Bener-bener manteb dah. Dibela-belain mondar-mandir, tetep gak ngaruh ke badan. Yang ada malah nambah linu aja, hahaha…
Alhamdulillah sampe Jeddah jam 4 pagi sebelum subuh. Udah ditungguin sama orang KAUST. Abis pengecekan visa yang lama, akhirnya kita keluar bandara. Ada jemputan mobil yang mau nganter kita ke Intercontinental Hotel. Ya Allah, pas ngeliat papan suhu, ternyata suhu Jeddah abis subuh udah 31. Mantabs!! Gimana siangnya tuh!! hahah.. Nyampe hotel langsung beberes bawaan bentar, dan tidur pulas. Capek banget belasan jam perjalanan. Dan ternyata tidur bikin saya melewatkan sesi poto buat syarat tes kesehatan, hahaha… dodol nih…
Hari-hari di sini kadang menyenangkan, kadang membosankan. Seneng karena banyak ketemu teman dari banyak negara, jalan-jalan, ngobrol-ngobrol, sampe maen ke kampus KAUST. Kadang bosen soalnya kegiatannya banyak di kamar dan “internet connection unavailable”. Hahaha,,, Oh ya, pas maen ke kampus KAUST, manteb banget dah!! Kampusnya luas bener. Teknologinya canggih-canggih. Kelasnya keren. Subhanallah dah. Ya, emang masih banyak bangunan yang belum jadi sih. Tapi, it’s ok lah. Namanya aja kampus baru. Buat yang pengen liat detailnya, silakan maen ke album poto di fesbuk, nggih ^_^
Dan Kamis ini dikasih kesempatan buat buka bareng di Konjen RI Jeddah. Seneng banget. Dijemput ama Pak Abdullah pake mobil. Soalnya, total kita ada 16 orang dan kita juga gak tau jalan ke Konjen, jadi ya mesti dijemput, hehe. Kirain bisa makan kolak di situ, eh ternyata bukanya pake korma ama pastel, hiks. Padahal, dah ngebet pengen kolak, hehehe… Luar biasa gedungnya. Orang-orangnya juga. Ramah ala Indonesia. Sempat ngobrol ama Pak Lama, kepala sekolah Indonesia yang ada di Jeddah. Asik dah. Banyak dapet info sama wejangan juga. Sayang gak lama di situ. Abis makan malam, langsung ke hotel. Padahal pengen ngikut tarawih di situ, hiks…
Oh ya, mulai Sabtu ini, mahasiswa KAUST udah mulai program orientasi sebelum ngampus 5 September. Mohon doanya nggih ^_^. Insya Allah, kisah orientasi bakal ditulis. Pantengin aja, bro/sist ^_^….

Tulisan ini, insya Allah, mengawali tulisan-tulisan berikutnya yang akan menceritakan pernak-pernik harian saya di tanah yang diberkahi, Arab Saudi. Dan di bagian ini, saya pengen cerita tentang proses nyampenya saya di sini (Jeddah) dan aktivitas awal sebelum kuliah. Tiket udah dipesen untuk pemberangkatan dari Soekarno Hatta, Jakarta. Secara, gak ada bandara di Tegal!! Masa harus nglemparin tali ke atas biar dikerek ama pesawat??? hahaha… Karena itulah, akhirnya diputuskan untuk transit di Jakarta, sehari sebelum keberangkatan.

Oh ya, sebelumnya harus berjuang keras buat mberesin bawaan. Info pertama yang didapet, maksimal bawaan yang masuk bagasi, 20 kilo. Wah, sampe dibela-belain tuh nimbang di tukang jual besi tua, hahaha… Ternyata beratnya 23,5 kilo. Waduh… berabe nih!!! Mana kelebihan per kilonya kena bayar 48 dolar!! Tapi ternyata, info terakhir yang didapet, maksimal beratnya jadi 30 kilo. Duh, senengnya!!! Gak jadi nombok cing, hahaha…

Read more »

Risalah Paris (Part IV-Final)

Setiba di Sorbonne, kami langsung mencari “altar suci”, ungkapan yang sering dipakai Andrea Hirata di bukunya. Maka, berjalanlah kami menyusuri trotoar St Michel Boulevard. Sambil melihat peta, kami tengok kanan kiri, barangkali sudah tampak “altar suci”-nya. Setelah kurang lebih 700an meter kami berjalan, di sebelah kiri kami berdiri dengan gagahnya sebuah gereja besar. Dan itulah “altar suci”!! Sebenarnya niat kami mau menjelajah di sekitarnya, tapi apa daya perut nampaknya sudah nggak bisa berkompromi. Karena itu, kami cuma mengambil gambar di sekitarnya. Eh, ternyata ada sosok patung Auguste Comte di sekitar Sorbonne. Kalo nggak salah, beliau ini tokoh dalam sosiologi ya? Udah lupa soalnya, hehe. Mengingat kondisi perut yang sudah mencapai klimaks laparnya, segeralah mencari tempat makan terdekat. Setelah makan, ternyata jam sudah menunjukkan pukul 5an. Sudah sore. Akhirnya, terpaksa kami batalkan rencana singgah di kampus Sorbonne. Kami harus segera ke Notredame!!

Read more »

Risalah Paris (part II)

Setelah beristirahat sejenak di hotel, kami putuskan untuk segera melancong. Hehehe. Soalnya, besok Minggu sudah dimulai conference-nya. Tujuan awal adalah menara Eiffel. Setelah membaca peta wisata yang diambil dari bandara, lumayan jauh jaraknya dari metro terdekat dari hotel. Ada 10 stasiun metro yang harus dilewati. Stasiun Bir Hakiem, tujuannya. Kami berangkat selepas shalat Dzuhur. Dan waktu Dzuhur di Paris adalah 13.52. Lagi summer soalnya. Ashar malah jam 6 sorean. Hehehe…

Read more »

Risalah Paris (part I)

Tulisan ini adalah bagian pertama dari empat rangkaian tulisan tentang pengalaman, kesan, dan segala sesuatu yang mengiringi proses perjalanan saya ke Paris (26 Juni-3 Juli). Tujuan keberangkatan ke Paris ini adalah untuk menghadiri suatu conference tentang Knowledge Discovery yang diselenggarakan oleh ACM (Association Computing Machinery). Mengingat adanya niat, tetapi tiadanya biaya, akhirnya kami mengajukan proposal ke KAUST (kampus S2 kami) supaya mau menanggung segala kebutuhan kami menuju ke sana. Proposal diajukan pada akhir April. Dan alhamdulillah, pada pertengahan Mei mendapatkan jawaban lewat email bahwa proposal kami di-approve. Kemudian bersegeralah kami menyiapkan segala sesuatunya, mulai dari pendaftaran, pencarian hotel, visa, asuransi dan segala hal lainnya. Tantangan pertama datang dari prosesi pembayaran untuk registrasi, hotel dan asuransi. Semuanya harus dibayarkan melalui kartu kredit. Alamaaak… mana punya kita kartu kredit. Tabungan aja seada-adanya :) Alhamdulillah, Allah membantu dengan mengetuk hati salah seorang keluarga untuk rela meminjamkan kartu kreditnya kami gunakan.
Tantangan tak berhenti di situ. Tantangan berikutnya adalah adanya jadwal acara ke Singapore pada awal Juni. Ini membuat kami tidak bisa segera meng-apply visa, karena passpornya dipakai dulu buat ke Singapore. Dan ketika akan mengurus visa, ternyata antrian di Jakarta sudah penuh. Kami baru bisa memasukkan aplikasi pada tanggal 17. Padahal, layanan visa adalah 10 hari kerja dan tiket pesawat sudah terpesan untuk tanggal 26. Alhamdulillah, Allah kasih bantuan lagi. Ternyata, visa bisa diurus dari perwakilan Perancis yang ada di Surabaya. Dan di sana memerlukan waktu 14 hari. Aplikasi pun masuk ke perwakilan tersebut pada tanggal 8 Juni.
Tak terasa almanak masehi sudah menunjuk tanggal 22 dan belum ada kabar tentang keluarnya visa. Sempat berkecil hati (tepatnya berputus asa). Mungkin memang belum waktunya untuk bisa menjejakkan kaki di tanah Eropa. Akhirnya dicobalah usaha terakhir, mengirimkan email kepada panitia conference untuk mengontak kedutaan Perancis di Jakarta, sekedar “mengintervensi” visa kami. Mudah-mudahan berhasil. Dan, alhamdulillah, Allah bener-bener ngasih rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka. Di hari-hari menjelang keberangkatan, ada balasan email dari panitia yang mengabarkan bahwa visa kami sudah beres dan sedang dalam proses pengiriman.
Akhirnya, Soekarno Hatta 26 Juni pukul 18.30, kami meninggalkan Indonesia menuju Malaysia. Pesawatnya transit dulu di Kuala Lumpur sebelum menuju Paris. Pukul 21.30 waktu Malaysia, kami sudah sampai. Ketika membaca tiket, kami harus segera menuju gate C15 untuk melanjutkan perjalanan. Hampir 2 jam lamanya menunggu. Dan ketika boarding, petugas yang memeriksa tiket mengatakan bahwa kami salah gate. Seharusnya kami menuju ke gate G8. What????? Pucat pasilah kami. Gimana nggak?? Wong jelas2 di tiket tuh tertulis bahwa gate ke Paris adalah C15. Akhirnya bapak petugas menelepon petugas G8 dan mengatakan kepada kami untuk segera menuju ke gate tersebut. Tanpa berpikir panjang, langsung lah kami berlari. Alhamdulillah, pas shuttle bandara sedang akan berangkat. Turun dari shuttle, langsung lari lagi. Pokoknya lari, sekencang-kencangnya. Di boarding G8, kami dipelototin sama petugas bandara. Hahahaa. Bodo amat lah. Yang penting kekejar nih pesawat. Masuk ke pesawat, masa bodo juga diliatin orang lain. Ternyata nih pesawat cuma nungguin kami buat berangkat. Hwehehe… Keren juga
Efek dari berlarian baru dirasakan saat perjalanan. Kepala ama badan masuk angin gak jelas. Mungkin karena perpindahan suhu yang ekstrim dari panas berkeringat ke dinginnya udara AC. Duduk pun rasanya gak karuan. Dibawa tidur ternyata nggak menyelesaikan masalah. Wah, pokoknya bener-bener nggak karuan!! Setelah turun dari pesawat, 11 jam perjalanan, barulah badan ini agak mendingan. Kebantu juga ama suhu bandara yang hangat (untuk tidak dibilang panas). Jam 6.10 kita sampai di Charles de Gaulle, Paris. Bonjour!!! :) Bandaranya tak terlalu istimewa. Di bawah ekspektasi kita lah. Kayaknya mendingan bandara Kuala Lumpur atau Changi. Tapi, tak apalah. Ini Paris bo!!! :D
Setelah diperiksa passpor dan visa, kami segera mencari bagian informasi, untuk menanyakan cara bagaimana kami bisa sampai ke hotel. Kami tidak berniat memakai taksi. Selain harganya lebih mahal, naik taksi malah tidak menikmati perjalanan. Kami sepakat menggunakan metro, sejenis KRL di Jakarta. Tiketnya lumayan mahal, 8,4 euro (sekitar 120 ribu). Perjalanan menuju stasiun metro terdekat hotel kami sekitar 1 jam karena harus berganti kereta. Keluar dari stasiun, kami segera mencari lokasi hotel. Kami bertanya kepada petugas stasiun dengan bahasa inggris. Eh, kok malah dijawabnya pake bahasa Perancis. Waduh… Puyeng juga nih. Mana ngerti?? Y udah lah, ambil nekat aja. Berbekal peta kami coba cari sendiri. Di persimpangan sempat bingung. Ngeliat ada bule lewat, coba nanya lagi. Alhamdulillah, bule yang ini bisa bahasa inggris. Kita ikutin deh apa yang dikatakan bule itu. Alhamdulillah, 30 menit kemudian kita sudah sampai di depan hotel. Mungkin kalo di Indonesia, lebih tepatnya disebut losmen. Ukurannya relatif kecil soalnya.
Oh ya, sempat ketemu mahasiswa S3 Indonesia di metro bandara. Beliau ini S1 Paramadina. Baru sampai ke Paris bareng istrinya. Baru menikah beberapa waktu yang lalu, katanya. Ambil geopolitik di kampus di Paris. Lupa nama kampusnya. Sempat cerita macam-macam. Dan cukup memberikan gambaran awal tentang Paris. Bahkan, sempat dikasih saran buat memperpanjang tinggal di Paris. Hwahaha, sayang gak mungkin. Masih banyak urusan yang harus diselesaikan di Indonesia. Okeh, bagian pertama cukup sekian. Kita akan berlanjut di bagian kedua, nanti :)

Tulisan ini adalah bagian pertama dari empat rangkaian tulisan tentang pengalaman, kesan, dan segala sesuatu yang mengiringi proses perjalanan saya ke Paris (26 Juni-3 Juli). Tujuan keberangkatan ke Paris ini adalah untuk menghadiri suatu conference tentang Knowledge Discovery yang diselenggarakan oleh ACM (Association Computing Machinery). Mengingat adanya niat, tetapi tiadanya biaya, akhirnya kami mengajukan proposal ke KAUST (kampus S2 kami) supaya mau menanggung segala kebutuhan kami menuju ke sana. Proposal diajukan pada akhir April. Dan alhamdulillah, pada pertengahan Mei mendapatkan jawaban lewat email bahwa proposal kami di-approve. Kemudian bersegeralah kami menyiapkan segala sesuatunya, mulai dari pendaftaran, pencarian hotel, visa, asuransi dan segala hal lainnya. Tantangan pertama datang dari prosesi pembayaran untuk registrasi, hotel dan asuransi. Semuanya harus dibayarkan melalui kartu kredit. Alamaaak… mana punya kita kartu kredit. Tabungan aja seada-adanya :) Alhamdulillah, Allah membantu dengan mengetuk hati salah seorang keluarga untuk rela meminjamkan kartu kreditnya kami gunakan.

Read more »

Buat yang Masuk UI

Ada titipan info dari rekan PPSDMS yang jadi anggota Majelis Wali Amanat UI:

“bagi teman2 yg sudah diterima masuk UI melalui jalur SIMAK dan PPKB, jangan khawatir dengan biaya yang dituliskan di web UI. teman2 hanya akan diminta membayar sesuai kemampuan. sehingga angka2 yg ada pada situs adalah angka2 untuk mereka yg penghasilan orang tuanya diatas 77juta per bulan.
hingga hari kmrn, jumlah peserta lulus SIMAK UI yg sudah menyerahkan berkas baru sekitar 50%. sementara berkas sudah harus disetor teakhir pada tgl17april2009. hal ini diantaranya disebabkan informasi pada web UI yg sgt tidak informatif sehingga mengesankan masuk UI hrs membayar UP sebesar 5-25 juta dan BOP per semester 5-7,5juta. padahal sesungguhnya peserta didik hanya diwajibkan membayar sesuai kemampuannya.
Jangan nyerah gitu aja, yah.. ^_^” (Dimas NA, MWA UM UI).

-mohon disebarkan-

Dua Buku

Jarang banget saya membaca novel. Apalagi yang berbau-bau melankolis. Alasan pertama, mungkin karena saya laki-laki. Jadi, hal-hal semacam itu, menurut saya pribadi, terlalu cengeng atau terlalu lembek. Alasan kedua, bacaan novel jarang dipakai buat referensi. Berbeda dengan buku-buku umum yang bisa jadi acuan buat karya tulis atau pas bikin tulisan-tulisan ringan. Alasan ketiga, pengalaman saya baca beberapa buku novel, sangat cepat dibaca. Gak butuh waktu berhari-hari bisa selesai. Dan selesai dibaca, buku itu tergeletak begitu saja. Sayang banget kan? Udah beli mahal-mahal, cuma digituin doang :)

Tapi, ada sentuhan aneh ketika saya membaca dua novel berbeda karya Tere Liye, “Moga Bunda Disayang Allah” dan “Bidadari-Bidadari Surga”. Dua novel ini berhasil menyihir, atau lebih tepatnya membobol, kerasnya hati saya. Inilah novel yang bisa kembali menyadarkan saya tentang arti hidup, kenyataan, mimpi, dan perjuangan. Empat kata yang selama ini menjadi ruh dalam setiap langkah. Kata-kata yang saya yakini, bahwa untuk itulah Allah menjadikan saya ada di bumi ini.

Cinta Itu Memberi, Hidup Itu Berkontribusi

Dua klausa itu, entah kenapa, tiba2 terngiang-ngiang di kepala saya. Klausa pertama, saya temukan di rubrik terakhir majalah Tarbawi, goresan tangan Anis Matta. Bener-bener ngerasa tertampar dan termotivasi. Klausa kedua, diperoleh dari pengalaman tinggal 4 tahun di kampus dan 2 tahun di PPSDMS. Ini lebih ngresep karena dari pengalaman nyata. Pengalaman organisasi. Pengalaman kuliah. Dan juga pengalaman interaksi.

Berarti ketika kita menegasikan dua klausa itu, menjadi “mengambil berarti tidak cinta, mandeg berarti sudah mati”. Wah, saya (kita) ada di posisi mana nih ya? Hmmm…

Alhamdulillah…

Udah lama sih. Tapi daripada tidak sama sekali, kan lebih baik terlambat :) . Alhamdulillah, Allah telah memudahkan jalan saya untuk melanjutkan sekolah lagi di KAUST. Pengumumannya diperoleh dari lulusnya nilai IBT TOEFL yang saya ambil. Sekitar awal Februari lalu lah. Tapi, baru keinget untuk posting di sini sekarang. :)

Saya mengucapkan terima kasih banyak atas dukungan doa teman2 yang memudahkan Allah membukakan banyak pintu rahmat-Nya. Mohon doanya pula supaya Allah melancarkan urusan saya sebelum keberangkatan, saat di sana, dan ketika pulang dari sana. Mudah-mudahan ilmu yang diperoleh bermanfaat buat umat ini seperti apa yang sudah kami ikrarkan. Aamiin…

Perjalanan Cinta (part II)

Alhamdulillah, akhirnya setelah berjuang mengajukan proposal ke sana sini, ada beberapa pihak yang menyanggupi untuk mendanai kelanjutan cerita sebelumnya, khususnya Refi yang sudah memesan isi cerita untuk bagian kedua ini. Hwehehe…

Kisah di bagian ini akan dimulai dari tempat tinggal Refi yang kami singgahi selama kami di Lampung. Setelah menghabiskan hidangan yang disuguhkan, kami ngobrol ngalor ngidul sambil nunggu giliran mandi. Nggak terasa sudah masuk waktu Dzuhur. Kami bareng2 sholat di masjid depan rumah Refi. Karena kami musafir, kami sepakat untuk men-jama’ sholat Dzuhur dan Ashar. Nah, sepulang dari masjid, kami mengobrol dengan bapaknya Refi. Beliau sempat menanyakan mengapa kami tadi sholat dua kali di masjid. Kami menjawab saja bahwa kami melakukan sholat jama’ Dzuhur dan Ashar. Beliau terlihat lega dengan jawaban kami. Beliau khawatir kalo kami termasuk golongan2 aneh yang sering merebak belakangan ini.

Read more »

Perjalanan Cinta (part I)

Sesuai yang saya duga, pas baca judulnya, pasti pikirannya sudah melayang-layang tak tentu arah. (hahaha, sotoy mode: on). Judul tulisan ini mungkin cuma sedikit kaitannya sama isinya. Ntar dilihat aja langsung di isinya. Tapi, tanpa mengesampingkan materi pelajaran bahasa Indonesia tentang pentingnya penentuan judul untuk sebuah tulisan, judul di atas adalah upaya provokatif, hehehe. Ini baru bagian pertama. Yah, sekitar setengah perjalanan lah. Nah, setengahnya lagi ada di bagian II. Biar seru gitu… hehehe…

Jadi sebenarnya di tulisan ini, saya mau menceritakan perjalanan tiga hari ke Lampung dari hari Jumat-Ahad, tanggal 6-8 Agustus. Ini bukan sekedar melancong. Ini juga bukan sekedar refreshing atau sebangsanya. Tapi, perjalanan ini untuk menghadiri resepsi pernikahan seorang teman seasrama di PPSDMS. Zhajang namanya. Alumni FEUI yang ngakunya bekerja sebagai Asisten Wakil Direktur di Danamon Syariah Pusat. Hehehe, tau tuh bener nggak. Nah, si beliau ini berhasil menggaet Ambar, anak Lampung yang sudah lulus dari FIK UI dan sekarang lagi menjalani masa profesi.

Read more »

Next Page »