Archive for the ‘Diary’ Category
Awal di Tanah yang Diberkahi
Tulisan ini, insya Allah, mengawali tulisan-tulisan berikutnya yang akan menceritakan pernak-pernik harian saya di tanah yang diberkahi, Arab Saudi. Dan di bagian ini, saya pengen cerita tentang proses nyampenya saya di sini (Jeddah) dan aktivitas awal sebelum kuliah. Tiket udah dipesen untuk pemberangkatan dari Soekarno Hatta, Jakarta. Secara, gak ada bandara di Tegal!! Masa harus nglemparin tali ke atas biar dikerek ama pesawat??? hahaha… Karena itulah, akhirnya diputuskan untuk transit di Jakarta, sehari sebelum keberangkatan.
Oh ya, sebelumnya harus berjuang keras buat mberesin bawaan. Info pertama yang didapet, maksimal bawaan yang masuk bagasi, 20 kilo. Wah, sampe dibela-belain tuh nimbang di tukang jual besi tua, hahaha… Ternyata beratnya 23,5 kilo. Waduh… berabe nih!!! Mana kelebihan per kilonya kena bayar 48 dolar!! Tapi ternyata, info terakhir yang didapet, maksimal beratnya jadi 30 kilo. Duh, senengnya!!! Gak jadi nombok cing, hahaha…
Risalah Paris (Part IV-Final)
Setiba di Sorbonne, kami langsung mencari “altar suci”, ungkapan yang sering dipakai Andrea Hirata di bukunya. Maka, berjalanlah kami menyusuri trotoar St Michel Boulevard. Sambil melihat peta, kami tengok kanan kiri, barangkali sudah tampak “altar suci”-nya. Setelah kurang lebih 700an meter kami berjalan, di sebelah kiri kami berdiri dengan gagahnya sebuah gereja besar. Dan itulah “altar suci”!! Sebenarnya niat kami mau menjelajah di sekitarnya, tapi apa daya perut nampaknya sudah nggak bisa berkompromi. Karena itu, kami cuma mengambil gambar di sekitarnya. Eh, ternyata ada sosok patung Auguste Comte di sekitar Sorbonne. Kalo nggak salah, beliau ini tokoh dalam sosiologi ya? Udah lupa soalnya, hehe. Mengingat kondisi perut yang sudah mencapai klimaks laparnya, segeralah mencari tempat makan terdekat. Setelah makan, ternyata jam sudah menunjukkan pukul 5an. Sudah sore. Akhirnya, terpaksa kami batalkan rencana singgah di kampus Sorbonne. Kami harus segera ke Notredame!!
Risalah Paris (part II)
Setelah beristirahat sejenak di hotel, kami putuskan untuk segera melancong. Hehehe. Soalnya, besok Minggu sudah dimulai conference-nya. Tujuan awal adalah menara Eiffel. Setelah membaca peta wisata yang diambil dari bandara, lumayan jauh jaraknya dari metro terdekat dari hotel. Ada 10 stasiun metro yang harus dilewati. Stasiun Bir Hakiem, tujuannya. Kami berangkat selepas shalat Dzuhur. Dan waktu Dzuhur di Paris adalah 13.52. Lagi summer soalnya. Ashar malah jam 6 sorean. Hehehe…
Risalah Paris (part I)
Tulisan ini adalah bagian pertama dari empat rangkaian tulisan tentang pengalaman, kesan, dan segala sesuatu yang mengiringi proses perjalanan saya ke Paris (26 Juni-3 Juli). Tujuan keberangkatan ke Paris ini adalah untuk menghadiri suatu conference tentang Knowledge Discovery yang diselenggarakan oleh ACM (Association Computing Machinery). Mengingat adanya niat, tetapi tiadanya biaya, akhirnya kami mengajukan proposal ke KAUST (kampus S2 kami) supaya mau menanggung segala kebutuhan kami menuju ke sana. Proposal diajukan pada akhir April. Dan alhamdulillah, pada pertengahan Mei mendapatkan jawaban lewat email bahwa proposal kami di-approve. Kemudian bersegeralah kami menyiapkan segala sesuatunya, mulai dari pendaftaran, pencarian hotel, visa, asuransi dan segala hal lainnya. Tantangan pertama datang dari prosesi pembayaran untuk registrasi, hotel dan asuransi. Semuanya harus dibayarkan melalui kartu kredit. Alamaaak… mana punya kita kartu kredit. Tabungan aja seada-adanya
Alhamdulillah, Allah membantu dengan mengetuk hati salah seorang keluarga untuk rela meminjamkan kartu kreditnya kami gunakan.
Buat yang Masuk UI
Ada titipan info dari rekan PPSDMS yang jadi anggota Majelis Wali Amanat UI:
“bagi teman2 yg sudah diterima masuk UI melalui jalur SIMAK dan PPKB, jangan khawatir dengan biaya yang dituliskan di web UI. teman2 hanya akan diminta membayar sesuai kemampuan. sehingga angka2 yg ada pada situs adalah angka2 untuk mereka yg penghasilan orang tuanya diatas 77juta per bulan.
hingga hari kmrn, jumlah peserta lulus SIMAK UI yg sudah menyerahkan berkas baru sekitar 50%. sementara berkas sudah harus disetor teakhir pada tgl17april2009. hal ini diantaranya disebabkan informasi pada web UI yg sgt tidak informatif sehingga mengesankan masuk UI hrs membayar UP sebesar 5-25 juta dan BOP per semester 5-7,5juta. padahal sesungguhnya peserta didik hanya diwajibkan membayar sesuai kemampuannya.
Jangan nyerah gitu aja, yah.. ^_^” (Dimas NA, MWA UM UI).
-mohon disebarkan-
Dua Buku
Jarang banget saya membaca novel. Apalagi yang berbau-bau melankolis. Alasan pertama, mungkin karena saya laki-laki. Jadi, hal-hal semacam itu, menurut saya pribadi, terlalu cengeng atau terlalu lembek. Alasan kedua, bacaan novel jarang dipakai buat referensi. Berbeda dengan buku-buku umum yang bisa jadi acuan buat karya tulis atau pas bikin tulisan-tulisan ringan. Alasan ketiga, pengalaman saya baca beberapa buku novel, sangat cepat dibaca. Gak butuh waktu berhari-hari bisa selesai. Dan selesai dibaca, buku itu tergeletak begitu saja. Sayang banget kan? Udah beli mahal-mahal, cuma digituin doang
Tapi, ada sentuhan aneh ketika saya membaca dua novel berbeda karya Tere Liye, “Moga Bunda Disayang Allah” dan “Bidadari-Bidadari Surga”. Dua novel ini berhasil menyihir, atau lebih tepatnya membobol, kerasnya hati saya. Inilah novel yang bisa kembali menyadarkan saya tentang arti hidup, kenyataan, mimpi, dan perjuangan. Empat kata yang selama ini menjadi ruh dalam setiap langkah. Kata-kata yang saya yakini, bahwa untuk itulah Allah menjadikan saya ada di bumi ini.
Cinta Itu Memberi, Hidup Itu Berkontribusi
Dua klausa itu, entah kenapa, tiba2 terngiang-ngiang di kepala saya. Klausa pertama, saya temukan di rubrik terakhir majalah Tarbawi, goresan tangan Anis Matta. Bener-bener ngerasa tertampar dan termotivasi. Klausa kedua, diperoleh dari pengalaman tinggal 4 tahun di kampus dan 2 tahun di PPSDMS. Ini lebih ngresep karena dari pengalaman nyata. Pengalaman organisasi. Pengalaman kuliah. Dan juga pengalaman interaksi.
Berarti ketika kita menegasikan dua klausa itu, menjadi “mengambil berarti tidak cinta, mandeg berarti sudah mati”. Wah, saya (kita) ada di posisi mana nih ya? Hmmm…
Alhamdulillah…
Udah lama sih. Tapi daripada tidak sama sekali, kan lebih baik terlambat
. Alhamdulillah, Allah telah memudahkan jalan saya untuk melanjutkan sekolah lagi di KAUST. Pengumumannya diperoleh dari lulusnya nilai IBT TOEFL yang saya ambil. Sekitar awal Februari lalu lah. Tapi, baru keinget untuk posting di sini sekarang.
Saya mengucapkan terima kasih banyak atas dukungan doa teman2 yang memudahkan Allah membukakan banyak pintu rahmat-Nya. Mohon doanya pula supaya Allah melancarkan urusan saya sebelum keberangkatan, saat di sana, dan ketika pulang dari sana. Mudah-mudahan ilmu yang diperoleh bermanfaat buat umat ini seperti apa yang sudah kami ikrarkan. Aamiin…
Perjalanan Cinta (part II)
Alhamdulillah, akhirnya setelah berjuang mengajukan proposal ke sana sini, ada beberapa pihak yang menyanggupi untuk mendanai kelanjutan cerita sebelumnya, khususnya Refi yang sudah memesan isi cerita untuk bagian kedua ini. Hwehehe…
Kisah di bagian ini akan dimulai dari tempat tinggal Refi yang kami singgahi selama kami di Lampung. Setelah menghabiskan hidangan yang disuguhkan, kami ngobrol ngalor ngidul sambil nunggu giliran mandi. Nggak terasa sudah masuk waktu Dzuhur. Kami bareng2 sholat di masjid depan rumah Refi. Karena kami musafir, kami sepakat untuk men-jama’ sholat Dzuhur dan Ashar. Nah, sepulang dari masjid, kami mengobrol dengan bapaknya Refi. Beliau sempat menanyakan mengapa kami tadi sholat dua kali di masjid. Kami menjawab saja bahwa kami melakukan sholat jama’ Dzuhur dan Ashar. Beliau terlihat lega dengan jawaban kami. Beliau khawatir kalo kami termasuk golongan2 aneh yang sering merebak belakangan ini.
Perjalanan Cinta (part I)
Sesuai yang saya duga, pas baca judulnya, pasti pikirannya sudah melayang-layang tak tentu arah. (hahaha, sotoy mode: on). Judul tulisan ini mungkin cuma sedikit kaitannya sama isinya. Ntar dilihat aja langsung di isinya. Tapi, tanpa mengesampingkan materi pelajaran bahasa Indonesia tentang pentingnya penentuan judul untuk sebuah tulisan, judul di atas adalah upaya provokatif, hehehe. Ini baru bagian pertama. Yah, sekitar setengah perjalanan lah. Nah, setengahnya lagi ada di bagian II. Biar seru gitu… hehehe…
Jadi sebenarnya di tulisan ini, saya mau menceritakan perjalanan tiga hari ke Lampung dari hari Jumat-Ahad, tanggal 6-8 Agustus. Ini bukan sekedar melancong. Ini juga bukan sekedar refreshing atau sebangsanya. Tapi, perjalanan ini untuk menghadiri resepsi pernikahan seorang teman seasrama di PPSDMS. Zhajang namanya. Alumni FEUI yang ngakunya bekerja sebagai Asisten Wakil Direktur di Danamon Syariah Pusat. Hehehe, tau tuh bener nggak. Nah, si beliau ini berhasil menggaet Ambar, anak Lampung yang sudah lulus dari FIK UI dan sekarang lagi menjalani masa profesi.
Comments (10)
Comments (6)
Comments (1)

