Archive for the ‘Tulisan’ Category

KAUST dan Kebangkitan Ilmuwan Muslim

Tepat pada tanggal 23 September 2009, telah diresmikan sebuah universitas baru berskala internasional di Arab Saudi yang dihadiri oleh puluhan perwakilan negara dari berbagai penjuru dunia. Universitas megah ini bernama King Abdullah University of Science and Technology (KAUST). Terletak di dekat laut Merah, kota Thuwal, 80 km di sebelah utara kota Jeddah, KAUST menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dan memiliki laboratorium berkelas dunia di lahan seluas 36 km2. Di kompleks kampus juga tersedia berbagai fasilitas lainnya seperti apartemen dosen dan mahasiswa, tempat hiburan, restoran, kafe, supermarket, pom bensin serta fasilitas olahraga yang lengkap.

Kampus ini adalah realisasi terhadap visi jangka panjang raja Abdullah, raja Arab Saudi saat ini. Beliau ingin menciptakan “Baitul Hikmah” (House of Wisdom) baru. Baitul Hikmah adalah sebuah tempat yang berperan sebagai perpustakaan, pusat riset, dan biro penerjemah di Baghdad pada abad 9 s.d. 13 Hijriah. Dibangun atas kerja keras Harun Ar Rasyid dan Al Ma’mun, tempat itu telah menjadi motor kebangkitan intelektual muslim dan memberikan kontribusi yang sangat besar dalam dunia kedokteran, ilmu pelayaran, pertanian, dan astronomi.

Read more »

Risalah Paris (part III)

Melanjutkan cerita di bagian sebelumnya, kami sudah sampai di stasiun metro. Cukup lengang saat itu, mungkin karena sudah malam, hampir jam 2. Setelah membeli tiket di mesin jual otomatis, kami langsung masuk ke peron. Baru duduk, tiba-tiba ada teriakan dari peron seberang. “Closed”, katanya. Hah?? Waduh, gimana nih?? Mana cuma tau pake kereta doang cara nyampenya. Setelah keluar, akhirnya terpikir untuk memakai taksi. Terpaksa kita jalan ke depan eiffel lagi, karena taksinya banyak ngumpul di situ. Udah coba nyetop di jalan, tapi taksinya gak mau pada minggir. Di depan eiffel, kami dapet nyetop satu taksi. Wah, ribet juga. Sopirnya gak bisa bahasa inggris ^_^ Hmm, akhirnya kami tunjukin aja lokasinya pake peta. Dan ternyata, tuh sopir gak mau. Gak tau deh alasannya. Tapi mungkin kejauhan kali ya. Di ujung selatan soalnya. Dan eiffel ada di hampir ujung barat.

Read more »

Artikel Oktober 08

Ikhtilat Virtual

Tanpa bermaksud mensimplifikasikan, ikhtilat umumnya dipersepsikan dengan berkumpulnya laki-laki dan perempuan dalam satu tempat. Konteks ikhtilat yang digunakan di sini adalah dalam perspektif Islam. Tata bahasa tersebut digunakan untuk mendefinisikan salah satu dari sekian banyaknya aturan Islam tentang bab pergaulan antarlawan jenis.

Dalam Islam pergaulan antara laki-laki dan perempuan memang sangat diperhatikan. Aspek preventiflah yang menjadi landasan kuat perhatian tersebut. Telah jelas disebutkan di dalam kitab sucinya bahwa Islam melarang pemeluknya mendekati zina. Dan dari sekian banyak pintu masuk ke zina, pintu utamanya bernama pergaulan.

Penting untuk dipahami bahwa Islam tidak melarang antara laki-laki dan perempuan untuk bergaul. Agama ini hanya mengaturnya. Menempatkannya dalam proporsi yang seharusnya. Mendefinisikan batasan, mana yang diperkenankan dan mana yang dijauhkan. Dengan demikian, tidak muncul ambiguitas dalam penafsirannya. Ketegasan inilah yang menjadi karakteristik norma agama dibandingkan norma lainnya.

Read more »

Artikel September 08

Mencari Pahlawan Muda Indonesia

Krisis bangsa saat ini memang telah menggurita. Krisis yang diawali dari terpaan badai ekonomi 10 tahun silam. Lantas disusul dengan tersingkapnya krisis politik, budaya, sosial, dan moral. Kita seharusnya tidak terbenam dalam keterpurukan dengan senantiasa mengutuk keberadaan permasalahan bangsa seperti yang terjadi saat ini. Krisis adalah takdir semua bangsa, sebagaimana perjalanan hidup manusia, adakalanya berada dalam kejayaan, dan suatu waktu ia terjatuh dalam keterpurukan.

Hal yang seharusnya kita khawatirkan adalah belum lahirnya sosok-sosok pahlawan dari berbagai krisis multidimensi itu. Krisis identitas bangsa ini 80 tahun silam jauh lebih berat. Namun, generasi saat itu berhasil mengilhami solusi identitas tersebut dengan lahirnya Sumpah Pemuda. Sebuah pernyataan kesepakatan yang menyingkirkan berbagai perbedaan dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa. Atau kita dapat merefleksikan diri pada momentum 10 November di Surabaya, saat fragmen semangat dan keberanian tersinergi dalam perjuangan mengangkat senjata.

Sejarah telah mencatatkan bahwa sosok-sosok pahlawan lahir dari para generasi muda. Berbagai peristiwa bersejarah di Indonesia dan juga di berbagai penjuru dunia lainnya telah membuktikannya. Maka ketika muncul kekeringan sosok pahlawan di negeri ini, berarti ada sesuatu yang keliru dalam diri para pemudanya.
Ada banyak faktor yang mempengaruhinya. Di satu sisi dapat dilihat bahwa telah terjadi distorsi makna kepahlawanan. Bagi beberapa komunitas pemuda, menjadi pahlawan adalah dengan berjuang mendapat wanita pujaannya, meskipun harus beradu fisik dalam perebutannya. Dalam komunitas yang lain, pahlawan adalah mereka yang siap bertarung dengan rekan sekampus lainnya demi gengsi fakultas. Atau bisa jadi, pahlawan adalah mereka yang hidup layak berkecukupan, meskipun untuk menggapainya tak segan main sikut kanan maupun kiri.

Read more »

Artikel Agustus 08

Peduli Apa dengan Pornografi!!

Kalau saya ditanya apakah senang kalau melihat wanita setengah bugil, misalnya cuma berpakaian bikini seperti yang umum terlihat di pantai-pantai, dengan penuh semangat, hati dan kepala saya akan mengiyakan tanda sepakat. Tak perlu berkilah ataupun membantah karena memang kenyataannya naluri kelelakian saya berujar demikian. Apalagi kalau ada di antara wanita-wanita itu yang mau menemani saya jalan-jalan sebentar di mall. Betapa semakin girang bukan main hati saya ini. Mungkin sampai seminggu setelahnya, tiap malam saya akan memimpikan wajahnya.

Demikian juga dengan judi, togel, atau apapun yang secara substantif bermakna seperti itu. Judi sama menariknya sebagaimana wanita karena judi adalah gunung harapan, bukit angan-angan, dan juga mimpi indah masa depan. Di tengah himpitan kepenatan hidup sekarang ini, entitas judi laksana obat mujarab. Dibandingkan mendengarkan luapan janji petinggi negeri yang tak terbukti, betapa sulitnya mencari penghidupan yang layak, serta repotnya mencari biaya untuk membeli baju sekolah anak-anak, ikut andil berjudi membuka harapan solusi dari berbagai problem tersebut. Dan selaku manusia, mari kita jujur pada masing-masing kita sendiri, bukankah harapan itu seringkali lebih menyenangkan dibandingkan kenyataan?

Apalagi tentang khamr (minuman memabukkan), ganja, ekstasi, sabu-sabu, pil koplo. Segala macamnya adalah pelarian dari berbagai nasib buruk kaum papa, golongan marginal, serta ribuan anak-anak yang broken home dari keluarganya. Saat mabuk, mereka merasa telah berada di alam lain. Seolah-olah tetek bengek yang membebani kepalanya itu terpinggirkan, entah di kolong langit sebelah mana, untuk sementara waktu. Dan kemudian muncul perasaan lega, free, merdeka meskipun di dalam relung sanubarinya mereka mengimani sepenuhnya bahwa setelah efek obat-obatan itu habis, mereka akan kembali ke nerakanya. Nyatanya mereka tetap apatis.

Lantas mengapa agama kemudian melarang sesuatu yang menyenangkan seperti itu bagi manusia? Karena agama memang tidak bermain dalam tataran senang ataupun benci. Suka atau tidak suka. Agama adalah kajian teologis yang membingkai manusia dalam kerangka baik dan buruk. Sementara alat ukur kesenangan manusia sendiri adalah nafsu, bukan nilai norma, kultur sosial, boro-boro aturan Ilahiah. Dan di dalam dunia manusia, sesuatu yang menyenangkan nafsu acapkali berada dalam kuadran ketidakbaikan. Begitu pula sebaliknya.

Menjadi produser film porno itu sangat menguntungkan. Tak perlu keluar banyak ongkos untuk kostum dan make-up artisnya, tapi jaminannya berpuluh-puluh lipat keuntungan. Apalagi bagi redaksi, wartawan, agen, artis hingga loper dari majalah, koran dan tabloid porno. Begitu pula aksi goyang ngebor, ngecor, kayang, sanca adalah aktivitas yang bisa menghibur orang sekaligus cara instan memperoleh popularitas dan imbalan yang tinggi.

Jangan tanyakan kepada mereka tentang konsekuensi aktivitas itu dengan potensi perusakan mentalitas anak bangsa atau generasi penerus masa depan negeri ini. Itu urusan keenam ratus lima puluh tiga. Bisa jadi malah sekedar onggokan kertas yang sudah digulung-gulung lantas ditendang-tendang atau dilemparkan ke tong sampah dengan gaya lay up shoot ala Michael Jordan atau Tim Duncan. Prioritas yang paling utama tentu saja seberapa gepok rupiah yang bisa masuk ke kantong atau rekeningnya di luar negeri.

Mungkin suatu waktu Anda iseng bertanya kepada mereka, “Bukankah kalian-kalian ini adalah orang beragama, yang diperintahkan harus mencintai Tuhan dan Nabi kalian? Kok Anda tidak menaati perintah untuk menjaga aurat dan memuliakan kehormatan wanita?”

“Tentu saja kami mencintai Tuhan dan Nabi kami, tapi mbok ya tolong beri dispensasi kami sedikit saja biar tetap bisa goyang ngebor, bikin majalah ataupun film porno. Cuma itu kok…”, jawab mereka.

* tulisan ini dibuat sebagai kado untuk rekan-rekan yang berjuang untuk meluluskan RUU Pornografi

Artikel Juli 08

Pilkada Tegal dan PKS

Sejak Agustus hingga Oktober nanti, kota Tegal sedang punya hajat besar. Sebuah agenda demokrasi pertama bagi masyarakat kota Tegal untuk menentukan sendiri siapa pemimpinnya hingga 2013 nanti. Dalam skala nasional, momentum pilkada ini sangat menarik karena seremoni ini telah menyajikan begitu banyak hal fenomenal dalam perjalanannya. Salah satunya adalah munculnya fenomena PKS sebagai partai medioker yang mampu unggul dalam beberapa pilkada di beberapa daerah. Ketika PKS pun tidak menang dalam proses pilkada tersebut, perolehan suara calon yang diusung tersebut jauh di atas perolehan suara PKS sendiri dalam pemilu 2004 lalu di daerah itu.

Dalam ranah propinsi, tentu masih segar dalam ingatan kita bagaimana calon yang diusung PKS berhasil meraih kursi kepala daerah dengan menggusur calon dari partai besar. Jawa Barat (Jabar) dan Sumatera Utara (Sumut) merupakan bukti nyata keberhasilan PKS. Di Jabar berbekal koalisi dengan PAN, Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf sukses menjadi gubernur Jawa Barat 2008-2013. Perolehan suaranya pun relatif besar yakni 40,5 % suara. Padahal, gabungan suara PKS dan PAN di pemilu 2004 untuk wilayah Jabar tidak lebih dari  30%.

Adapun di Sumut, pasangan Syamsul Arifin dan Gatot Pujonugroho yang diusung koalisi PPP, PKS, PBB dan beberapa partai kecil unjuk gigi dengan kemenangannya. Mereka berhasil mengumpulkan 28,31 % dari total suara yang masuk. Berita yang paling hangat tentunya pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf di propinsi Jawa Timur. Pasangan yang diusung oleh PAN, Partai Demokrat, dan PKS ini mampu meraih posisi puncak dalam pilkada putaran pertama.

Memang tidak semua calon yang diusung PKS mampu memenangkan kompetisi pilkada. Kegagalan di DKI Jakarta dan Jawa Tengah (Jateng) adalah salah satu contohnya. Adang-Dani gagal meraih kursi gubernur DKI Jakarta. Mereka hanya mampu mengumpulkan 42,13% suara. Adapun di Jateng, hanya memperoleh 15,58% suara, berada di peringkat ketiga dari lima kontestan.

Namun, kekalahan di DKI Jakarta bukanlah sesuatu yang mengejutkan mengingat PKS merupakan pengusung tunggal, sedangkan Fauzi-Prijanto diusung oleh koalisi 20 partai. Sehingga muncul kesan bahwa pilkada DKI Jakarta adalah pengeroyokan terhadap PKS oleh partai nonPKS. Bahkan, muncul opini bahwa PKS boleh saja kalah pilkada, tetapi mereka telah berhasil memenangkan hati rakyat DKI Jakarta.

Sebenarnya analisis tentang munculnya kekuatan PKS ini telah terlihat dari pemilu 2004 yang lalu. Ketika itu suara PKS melonjak jauh dibandingkan pada pemilu 1999. Pada pemilu 2004, PKS memperoleh total suara nasional sebanyak 7,34 persen. Banyak pengamat terkejut dengan hasil tersebut. Namun, keterkejutan tersebut tidak lantas usai. Partai Islam ini bahkan mampu membawa kadernya sebagai ketua MPR RI 2004-2009 yaitu Hidayat Nurwahid. Kemudian, kejutan-kejutan tersebut berlanjut dalam berbagai proses pilkada di berbagai daerah.

Dalam konteks pilkada kota Tegal, DPD PKS Tegal telah memberikan rekomendasi untuk mendukung Ikmal Jaya-Habib Ali Zaenal Abidin bersama-sama. Sikap politik ini juga berarti bahwa PKS akan berkoalisi dengan PDIP, PPP, dan Partai Demokrat (PD). Langkah politik PKS ini memang cukup unik. Dalam berbagai kesempatan pilkada, PKS dapat bersanding dengan kelompok politik manapun. Boleh jadi di suatu daerah berkompetisi, tetapi di daerah lain malah berkoalisi.

Menarik pula untuk dicermati apakah calon yang diusung PKS dalam pilkada kota Tegal kali ini akan berbuah kesuksesan. Menurut analisis penulis, kemungkinannya cukup besar. Pertama, mengingat rekan koalisi PKS adalah PDIP, PPP, dan PD. PDIP notabene adalah partai yang memiliki basis massa kuat di Jawa Tengah, termasuk pula kota Tegal. Hal ini dibuktikan dengan kemenangan Bibit-Rustriningsih di kota Tegal. PPP dan PD juga merupakan salah satu kekuatan politik yang cukup diperhitungkan, baik dalam konstelasi perpolitikan daerah maupun nasional.

Kedua, komposisi ketiga partai ini merepresentasikan golongan yang heterogen. PDIP dan PD adalah basis kaum nasionalis. PPP dikenal sebagai lumbung golongan religius, khususnya dari kalangan santri dan ulama NU. Adapun PKS sendiri mewakili kelompok religius progresif yang diwakili oleh kalangan intelektual muda. Heterogenitas ideologi ini merupakan modal berharga untuk mengakomodasi massa pemilih. Apalagi kota Tegal dikenal sebagai kota yang heterogen pula.

Ketiga, adanya tren pemimpin muda yang memenangi pilkada di beberapa daerah. Munculnya kalangan muda untuk tampil sebagai calon kepala daerah dan wakil kepala daerah menjadi harapan baru bagi masyarakat. Meskipun dalam pandangan Adrinoff CH, analis politik Universitas Indonesia, tidak ada jaminan suasana baru yang dikehendaki oleh masyarakat akan terwujud. Namun, paling tidak ada nuansa optimisme yang terbangun di tengah masyarakat.

Namun, PKS tidak semestinya berbangga diri dengan besarnya peluang tersebut. Disadari atau tidak, keberpihakan PKS ini juga memiliki ekses yang perlu diperhatikan oleh para elite PKS. Kader, bahkan konstituen, PKS akan mempertanyakan komitmen terhadap ideologi partai mengingat PDIP dan PD merupakan partai berideologi nasionalis sekuler. Sangat bertolak belakang dengan misi da’wah Islam yang menjadi pondasi PKS. Hal ini bisa menjadi bumerang bagi kader ataupun konstituen yang memilih PKS karena alasan ideologi atau platform.

Sikap politik PKS di pilkada kota Tegal ini memungkinkan munculnya tafsiran bahwa PKS adalah partai yang oportunis. PKS berkoalisi dengan PDIP, PPP, dan PD karena ketiga partai tersebut merupakan partai besar di kota Tegal. Adapun figur Ikmal sendiri dikenal sebagai tokoh yang memiliki kapasitas dana mumpuni. Kedua faktor tersebut tentunya akan memperbesar peluang kemenangan. Ini berarti PKS akan masuk ke dalam lingkaran kekuasaan. Sikap oportunis tersebut dikhawatirkan akan memunculkan stigma bahwa PKS tidak berbeda dengan partai kebanyakan yang haus dengan kekuasaan.

Di luar konteks peluang dan hambatan tersebut, menarik pula untuk dicermati bahwa sikap PKS ini tentu saja akan berpengaruh terhadap peta perpolitikan di kota Tegal. Apalagi pemilu 2009 telah menanti. Kemenangan akan berbuah terhadap terdongkraknya suara. Begitupun sebaliknya, kekalahan akan memperbesar peluang menurunnya jumlah suara dibandingkan pemilu 2004 lalu.

Pilkada kota Tegal masih panjang. Masih banyak ujian yang harus dilalui oleh masing-masing calon. Dan seperti pengalaman di berbagai daerah, perolehan suara pada pilkada tidak selalu mencerminkan perolehan suara pemilu legislatif. Dukungan dana besar juga bukan jaminan bahwa calon tersebut akan memenangkan pilkada. Masyarakat sekarang lebih cerdas. Peluang meraih suara pemilih dari kelima calon walikota dan wakil walikota Tegal masih sangat terbuka lebar. Mudah-mudahan prosesi pilkada akan berlangsung dengan lancar dan akan melahirkan sosok pemimpin amanah yang akan membangun kota Tegal. Aamiin.

Artikel Juni 2008

No Live Without Information Technology

In the past, people used more of theirs powers and nature powers to do many things like farming and sailing. Then, when James Watt invented steam engine in 1769, the world started to change. We called it Industry Revolution. One of the characteristic of this is substituting human role in many fields of work to machine. This steam machine has pushed industrial fields to produce more products. Besides that, it has motivated others people to invent other things, such steam ship, locomotive, and many other machines.

The Industry Revolution has become important milestone in human civilization. The other important milestone is the invention of computer. The computer era started in 1940’s when Dr John Mauchly and Prosper Eckert invented ENIAC (Electronic Numerical Integrator and Calculator). Its weight 30 tons and it needs 140 meters square area. It also needs 130 KW to operate it normally. ENIAC is the first generation of computer.

After that, the development of computer keeps on increasing. Based on Moore’s Law, we know that the number of transistors that can be inexpensively placed on an integrated circuit is increasing exponentially, doubling approximately every two years. So, the ability and capacity of computer increase, but the size of it decrease. Now, there is personal computer (PC) in each home, office, and other places. Or if we are a mobile person so we can not take PC everywhere, we just need laptop to substitute it.

We can use computer to finish our project report and the school task, design layout from poster, make business presentation, calculate and analyze a group of data, and many other things. Nowadays, computer is also equipped with multimedia application as entertainment and education media.

Now, computer is just not as a computer. It can be connected with internet to see what happen in the world in present. Not only for that, internet can facilitate us to chat, send mail, or download and upload photos, files, and others. Internet gives a new color in social interaction pattern and information access. People can communicate with everyone, whenever and wherever they want. They also get easier access to get some information from various website in internet. George Gilder, visionary author of Telecosm, states that bandwidth grows at least three times faster than computer power. This means that if computer power doubles based on Moore’s Law, then communications power doubles every four months. It means that internet user will increase in later years.

Computer and internet are two things that can not be separated from people activities now. IT has influenced in many sectors such as business, education, even the government sector. In business area, IT makes same opportunity for company from America and Indonesia to promote their business. IT also supports many office task, like written before. Disappearing time and space constraints with internet opens new opportunity to distance working. People can do their works from home without need to worry about the traffic jam or take care of the family, for woman. In education, IT creates many innovations such as distance learning, interactive multimedia animation, and online try out (www.sekolah-online.net/tryout). In Indonesia government, IT has not used widely yet. It is still limited in creating a website, communicating in email, or only for some software applications.

Beside the good effect, Linda Wilbanks said her opinion so we have to be careful about IT. She warned us about IT security problem. It is possible if there is an unintended audience reads certain information about our work or personal life. It will disturb us. We can not guarantee if our IT device is stolen or lost, the data will be fine, not used improperly. The other IT problem is related to our personal lives. More people doing more and getting more work done because they have IT personal device connected internet. So, they have decreased our time for themselves and their family. They can not sleep normally again. They seldom play with their child because they always have a deadline works.

The IT use also creates people become more individually. This indication can be seen in many big cities in Indonesia that use IT more in their lives. People seldom have many conversations with their neighbor. Even, they just know few names of their neighbor. In office area, IT push people to work in front of computer all of work time. The employees don’t have time to talk, not about the works, with other people in the same room or division.

But, the bad effects should not make us to decide not using IT. Maybe it is probably too soon to say that we can not live without IT. There is no research about that. But, I want to propose three arguments that support my opinion. First, many sectors use IT as supporting tools to run their activities. It is not only for typing, printing, sending or receiving mail, but also some companies use software application in their systems such payroll system, administration system, and financial (purchase and payment) system. If they leave it, the companies will get many difficulties to operate their activities. It is not only in business sectors. Because IT has become wide, it will be same consequences to other sectors if there is no IT supporting.

Second, IT is a vital part of our life now. You can see that every people have his or her own hand phone and PC or laptops with internet connected. They use it to communicate to each other not only for business, but also for social, family, and personal activities. Sugeng Wibowo said that internet can be helpful media in natural disaster. Internet can play role as communication media, information media, fund collecting, and for looking for lost people. With mailing list or discussion forum, we can share and get information about hobbies and many other things.

Third, IT has proof its effectiveness and efficiency. With IT, activities become faster to do. Works can be finished in short time. We can send document to other office in different province or country with email, no need to come to post office. It doesn’t need many days or weeks. Just wait for five or ten minutes, or faster than that, and the document will come. Any tasks done by IT will keep more precise and accurate so we can say that IT is effective. We can finish our targets well.

I agree with the statement of Michael J Miller that the big question is how we will use technology. IT develops rapidly, both of software and hardware. We can not avoid that. The role that we can do is uses it wisely. We know that we don’t live just in office. We have home and family too. So, we have to arrange our time and works. We also have neighbors, friends, and other communities. We have to interact with them. It doesn’t need to have a conversation all the day. But, it is not because we have hand phone and email address, we have conversation with them in SMS, phone or email. We need to have face to face conversation. We need to visit our neighbors and friends home to know each other deeply.

We must also increase the security when use IT. It is better if we backup our data in computer, laptops, and hand phone. We have to ensure that our IT device has been protected with best security. So, if it is lost or stolen, the data can’t be misused. We must avoid using hand phone or typing messages in SMS or email when we drive a car. It can danger our self and other people. We have to protect our surrounding from porn and other bad contents from internet.

Based on my arguments, I can not imagine if someday there will be no computer, hand phone or other IT device. Maybe we can live because there are still many foods and water. But, we can not “live” actually. We can not send documents to our clients because there is no internet connection in our computer. There is no phone, too. We will feel live in an uncomfortable world.

IT is still in very development progress. Bill Gates said that the power of computing will be ubiquitous. He also predicts that we will be accessing computing capabilities on an ever widening range of devices, often taking advantage of nearby displays and projection surfaces.

That we can do now is to give balance proportional using IT in our lives. The positive and negative effect may still be there. Because of that, the main role is handled by us. If we can control IT use, it will give more benefit to us, and vice versa.

Artikel Mei 2008

If I am a Software Company Owner in Indonesia

We have to admit that awareness of Indonesia people to use legal software is so low. According to data from International Data Corporation, Indonesia with China and Vietnam were known as countries with highest software piracy. The data is stated by Goh Seow Hong, the Director of Asia Software Policy of Business Software Alliance (BSA). He told again that the main factor supporting software piracy in Indonesia is no appreciation for intellectual property right. Because of the piracy, Indonesia has been lost US$ 411 million for 84% piracy rate in 2007.

Our country is still developed country, or exactly poor country. In March 2007, there are 37,17 million people that live under the poverty line. The poverty line used is Rp 166.977,00. It means there are 37,17 million people that their income in a month is under RP 166.977,00. So, it is proper if the computer need is no the primary need for majority people in Indonesia.

I don’t fully agree with the statement that we can’t get profit if we sell software in Indonesia. As a software company, we have to realize the reality in this country. It is still many poor people. It is still many people that don’t appreciate with intellectual property right. I think Indonesia still potential country to sell software. We just need to change our strategy to get more profit.

If I am a software company owner, I have four strategies to make my company still get profit. Maybe, it is not as much as big company profit. But, it is gradual, in years later I hope it will be like that. First, I will bring my company to focus in “work by order”. I realize that my company is not a big software company like Microsoft. I can’t push my company to become like that. If I do that, my company will get loss.

Second, I have to focus about the market objective. I think the potential market in Indonesia is education and government. Education sector needs software to organize teacher and student activity, to organize school database, to improve the learning material, and still many others. The government needs software to organize the payroll, to organize citizen database, and others. We will provide services them to create product or service that can improve performance of the organization.

Third, we have to become creative company. We have to improve that. Our clients want special services from us, something that unique, interesting, and different from others. Example, in education sector we can offer a new learning material combining technology, pedagogy, and interesting design. Fourth, although our product is unique, we won’t sell it in expensive price. Even, they can rent the software from us. The profit is not big, but if we have many customers, the profit is still big.

I am not sure that open source business models in Indonesia will success. The simple argument is Indonesia people still think that models is not different. They still need to spend money to invite them to train. This model will be effective if the people community used to be freeware application, such as Linux, because it will create a paradigm to people. The current situation in Indonesia, freeware like Linux is still not dominant, although it shows good progressive curve.

Artikel April 2008

Televisi dan Seni

Hari Jumat tanggal 9 Mei 2008, tiba-tiba Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mengumumkan 10 tayangan siaran televisi bermasalah dan meminta publik untuk mewaspadainya. Kesepuluh program tayangan tersebut mencakup sinetron serial, variety show, dan tayangan anak-anak (detik.com, 9 Mei 2008). Sebenarnya rekomendasi KPI ini tidak mengherankan. Sudah bukan rahasia umum kalau berbagai tayang televisi di negeri ini memiliki banyak masalah. Dari unsur pornografi, kekerasan, hingga jam tayang pemutaran yang tidak mengindahkan pemirsanya.

Dengan dalih acaranya menghibur dan memiliki rating yang tinggi, para produser tidak menghiraukan berbagai protes yang sudah disampaikan oleh lembaga maupun perorangan. Padahal, jika dilakukan kajian lebih mendalam, argumentasi tersebut sangat lemah. Bagaimana dikatakan menghibur jika di setiap seri sinetron selalu disertai dengan kekerasan? Ironisnya pula, definisi menghibur ini diejawantahkan dengan tampilan acara yang pengisinya berpakaian seronok dan diselingi dengan guyonan menjurus porno serta merendahkan orang lain. Jika memang demikian, berarti rendah benar kualitas hiburan bangsa ini. Sungguh memalukan. Kita mengumbar terang-terangan aib sendiri dan lantas bangga dengan aib itu.

Demikian pula dengan klaim rating yang digembor-gemborkan oleh stasiun televisi. Apakah memang sudah terbukti validitas rating tersebut? Ataukah rating tersebut hanya permainan dari pihak televisi, pemasang iklan dan lembaga rating belaka? Harus diakui memang selama ini tidak pernah ada verifikasi, baik dari pemerintah maupun masyarakat tentang lembaga rating itu sendiri. Hasilnya, institusi ini merajalela, melakukan berbagai macam klaim seenaknya terhadap kualitas suatu acara. Sangat menyedihkan karena ternyata acara-acara yang diklaim memiliki rating tinggi adalah acara-acara sinetron dan reality show.

Pengembangan budaya yang sedang berkembang saat ini berbasiskan televisi. Hampir seluruh kultur masyarakat saat ini dipengaruhi oleh televisi. Kita dapat melihat pengaruh tayangan sinetron di pelosok desa yang sudah seperti kota. Pemuda-pemudinya berpakaian layaknya anak-anak kota sambil membawa handphone di sakunya. Anak-anak kecil sekarang lebih hafal syair lagu Dewa, Gigi dan berbagai band dewasa dibandingkan lagu anak-anak seperti Bintang Kejora.

Menurut penulis, telah terjadi kesalahan interpretasi seni dalam dunia hiburan Indonesia. Seni hanya menjadi entertainment (hiburan). Di negara-negara maju, seni adalah ekspresi hati. Seni merupakan karya agung yang memiliki cipta, rasa dan karsa tinggi. Bahkan, dalam konteks tertentu, seni adalah ekspresi nilai-nilai keagamaan. Di Indonesia, ekspresi seni dibalut dengan kebebasan berekspresi. Yang terjadi adalah ekspresi yang kebablasan. Alih-alih menjadi karya monumental, seni bahkan dikurung dalam tirani eksploitasi tubuh. Maka kita dapat melihat televisi dipenuhi oleh obralan seksualitas, baik yang tersirat maupun tersurat.

Penulis termasuk salah satu orang yang sepakat ketika pemerintah membentuk komisi penyiaran dan merancang undang-undang antipornografi. Tayangan televisi sudah sangat memuakkan. Demikian pula dengan penempatan nilai-nilai seni yang tidak sesuai dengan idealismenya. Penulis meyakini pemerintah tidak bermaksud mengekang kebebasan berekspresi warga negaranya. Kebebasan juga harus bertanggung jawab. Jangan sampai klaim kebebasan mengganggu hak asasi warga negara lainnya. Jangan sampai pula kebebasan tersebut malah memporak-porandakan tata nilai yang sebelumnya telah tertata rapi.

Pengawasan dan evaluasi muatan televisi mutlak menjadi tanggung jawab kita bersama. Dalam kapasitas sebagai orang tua, marilah bersama-sama mengawasi putra-putrinya dalam menyaksikan televisi. Pilihkanlah tayangan yang lebih memiliki nilai edukasi dibandingkan yang menawarkan mimpi. Sebagai insan pertelevisian, marilah kita kurangi ego kapitalisme. Dalam membuat suatu tayangan, jadikan aspek manfaat bagi masyarakat sebagai pertimbangan utama, bukan keuntungan finansial semata. Jika kita memang menginginkan bangsa ini tumbuh menjadi bangsa besar dan maju, mudah-mudahan hal tersebut bukanlah beban yang memberatkan.

Artikel Maret 2008

Pendidikan Ke-Dipimpin-an
( dimuat di buletin BEM Fasilkom edisi Mei 2008 )

Suatu ketika dalam sebuah obrolan dengan teman, saya pernah mengusulkan untuk mengadakan training menjadi pengikut/masyarakat. Rekan ngobrol saya sontak kaget. Lantas saya jelaskan bahwa yang selama ini ada hanyalah training kepemimpinan. Padahal, dalam suatu sistem kepemimpinan, ada yang memimpin dan ada yang dipimpin. Maka, sangatlah tidak adil ketika kita hanya menekankan kepada salah satu sisinya saja. Ibarat orang bilang, timbangannya berat sebelah!

Hasil dari berbagai macam pelatihan, training, atau apapun namanya yang berujung kepada pembentukan karakter pemimpin, dapat dilihat dari negeri kita ini. Mau tidak mau kita harus mengakui, bahwa negeri ini tidak miskin pemimpin. Ada sekian puluh tokoh yang memiliki karakter pemimpin yang luar biasa. Namun, ketika mereka menjadi pemimpin, ternyata tidak terjadi perubahan signifikan di negeri ini.

Lalu, bersama-sama kita menjustifikasi, bahwa memang belum ada sosok pemimpin yang tepat untuk memimpin negeri ini. Atau di lain waktu, kita membela diri bahwa mereka-mereka yang berada di level elite itu berada pada waktu dan tempat yang tidak tepat. Jadi, siapapun orangnya yang memimpin, pasti akan kesulitan mengatasi berbagai masalah kompleks seperti korupsi, mafia peradilan, dan sebagainya.

Seakan-akan beban mengatasi problem bangsa ini hanya ada di pundak mereka, orang-orang elite secara struktural dan fungsional. Bukankah seharusnya kita selaku masyarakat menginstropeksi dirinya sendiri. Sebenarnya, apa yang sudah kita kontribusikan untuk bangsa ini? Sebatas peran kita sebagai masyarakat, sudahkah kita melaksanakan fungsi kita sebagai masyarakat yang baik? Atau jangan-jangan kita memang tidak memahami definisi masyarakat yang baik?

Tidak perlu mencari definisi yang rumit bagaimana rumusnya menjadi masyarakat yang baik. Menurut saya, paling tidak ada tiga hal yang harus dipenuhi. Pertama adalah setia dengan pemimpinnya. Kemudian, mengawasi pemimpinnya. Terakhir, menjalankan perintah pemimpinnya.

Kesetiaan dengan pemimpin menjadi syarat fundamental dalam pembentukan karakter masyarakat. Ini mungkin tidak terlalu sulit bagi mereka yang sejak awal menjadi pendukung pemimpin ini. Akan tetapi, ini tentu bukan hal mudah bagi mereka yang jagoannya tidak menjadi pemimpin. Atau bagi mereka yang tidak menyukai, dengan alasan tertentu, sosok pemimpinnya. Maka, di level inilah perlu namanya pengorbanan, kata yang sering kali diucapkan tapi begitu sulit dilakukan. Kesetiaan sama artinya dengan tidak melakukan hal-hal yang merongrong keadaan, menciptakan instabilitas, atau melahirkan propaganda penelikungan. Akan tetapi, jangan sampai kemudian masyarakat terjebak kepada ke-taqlid-an, suatu kesetiaan yang tidak dilandasi dengan rasionalitas pemikiran.

Oleh karena itulah, masih ada tahap berikutnya yang harus dilalui untuk menjadi masyarakat yang baik. Ia harus mengawasi segala tindak-tanduk pemimpinnya, dari mulai sikap kesehariannya hingga menyangkut kebijakan publik yang dikeluarkannya. Dalam konteks ini, masyarakat tidak berada dalam perspektif mencari kesalahan orang kemudian menelanjanginya di depan publik. Paradigma mengawasi harus ditempatkan dalam konteks sebenarnya yaitu mengingatkan atas kekeliruan atau kekhilafan yang dilakukan oleh para pemimpin. Mengawasi boleh saja diterjemehkan dengan memberikan saran, menyampaikan kritik, bahkan dengan memberikan dukungan. Akan tetapi, harus diingat bahwa semuanya itu harus disampaikan melalui prosedur yang tidak melanggar etika.

Kedua hal di atas akan menjadi sia-sia tatkala masyarakat mengabaikan perintah pemimpinnya. Jika demikian, untuk apa ada pemimpin ketika keberadaan mereka tidak diakui, ketika kebijakannya dianggap sekilas angin lalu, ketika keputusannya tidak lagi diikuti? Masyarakat yang baik akan paripurna kewajibannya ketika mereka menjalankan perintah pemimpinnya. Inilah bukti nyata komitmen seseorang prajurit kepada panglimanya.

Suatu saat bisa saja terjadi keputusan itu terasa tidak sesuai atau mungkin akan merugikan masyarakat. Oleh karena itulah, kedua mekanisme sebelumnya adalah syarat mutlak yang harus dipenuhi sebelum opsi ini. Atau sangat mungkin, meskipun telah dilalui mekanisme penyaringan aspirasi secara baik, tetap saja ada beberapa golongan yang terlihat seolah dirugikan dengan keputusan itu, dan kita termasuk ke dalam kelompok tersebut. Maka, berlakulah kembali hukum pengorbanan sebagai bentuk kepatuhan terhadap keputusan pemimpin. Sekali lagi, pengorbanan memang sulit dipaparkan dalam alinea kalimat karena memang bukan di situ tempatnya. Ia membumi dalam realita, menyingkirkan ego dan hasrat pribadi. Dan seringkali pengorbanan adalah senjata terakhir yang dimiliki oleh masyarakat, dalam segala bentuk pengejawantahannya.

Menciptakan masyarakat dengan karakteristik tersebut tidak mudah. Ia harus tersistemisasi, layaknya membentuk para pemimpin. Entah dalam konteks kenegaraan, korporasi, bahkan di internal kampus sendiri. Mungkin wacana ini terdengar absurd di tengah hegemoni kapitalisasi, di mana parameter kesuksesan diukur dari seberapa besar materi yang dimiliki dan seberapa lebar diameter kekuasaan seseorang.

Tapi, seperti biasa, saya masih istiqomah dengan ide saya ini, meskipun teman saya tadi merespon dengan menertawakannya. Saya yakin bahwa salah satu akar masalah bangsa ini karena belum adanya sistem untuk mendidik masyarakat menjadi masyarakat yang baik. Sebenarnya problem ini tidak hanya dalam konteks bangsa. Bahkan, dalam lingkup kampus kita pun masih banyak mahasiswa yang belum bisa menjadi mahasiswa yang baik, sesuai dengan kriteria yang saya sebutkan sebelummya.

Next Page »