Cinta Itu Memberi, Hidup Itu Berkontribusi
Dua klausa itu, entah kenapa, tiba2 terngiang-ngiang di kepala saya. Klausa pertama, saya temukan di rubrik terakhir majalah Tarbawi, goresan tangan Anis Matta. Bener-bener ngerasa tertampar dan termotivasi. Klausa kedua, diperoleh dari pengalaman tinggal 4 tahun di kampus dan 2 tahun di PPSDMS. Ini lebih ngresep karena dari pengalaman nyata. Pengalaman organisasi. Pengalaman kuliah. Dan juga pengalaman interaksi.
Berarti ketika kita menegasikan dua klausa itu, menjadi “mengambil berarti tidak cinta, mandeg berarti sudah mati”. Wah, saya (kita) ada di posisi mana nih ya? Hmmm…
Alhamdulillah…
Udah lama sih. Tapi daripada tidak sama sekali, kan lebih baik terlambat
. Alhamdulillah, Allah telah memudahkan jalan saya untuk melanjutkan sekolah lagi di KAUST. Pengumumannya diperoleh dari lulusnya nilai IBT TOEFL yang saya ambil. Sekitar awal Februari lalu lah. Tapi, baru keinget untuk posting di sini sekarang.
Saya mengucapkan terima kasih banyak atas dukungan doa teman2 yang memudahkan Allah membukakan banyak pintu rahmat-Nya. Mohon doanya pula supaya Allah melancarkan urusan saya sebelum keberangkatan, saat di sana, dan ketika pulang dari sana. Mudah-mudahan ilmu yang diperoleh bermanfaat buat umat ini seperti apa yang sudah kami ikrarkan. Aamiin…
Perjalanan Cinta (part II)
Alhamdulillah, akhirnya setelah berjuang mengajukan proposal ke sana sini, ada beberapa pihak yang menyanggupi untuk mendanai kelanjutan cerita sebelumnya, khususnya Refi yang sudah memesan isi cerita untuk bagian kedua ini. Hwehehe…
Kisah di bagian ini akan dimulai dari tempat tinggal Refi yang kami singgahi selama kami di Lampung. Setelah menghabiskan hidangan yang disuguhkan, kami ngobrol ngalor ngidul sambil nunggu giliran mandi. Nggak terasa sudah masuk waktu Dzuhur. Kami bareng2 sholat di masjid depan rumah Refi. Karena kami musafir, kami sepakat untuk men-jama’ sholat Dzuhur dan Ashar. Nah, sepulang dari masjid, kami mengobrol dengan bapaknya Refi. Beliau sempat menanyakan mengapa kami tadi sholat dua kali di masjid. Kami menjawab saja bahwa kami melakukan sholat jama’ Dzuhur dan Ashar. Beliau terlihat lega dengan jawaban kami. Beliau khawatir kalo kami termasuk golongan2 aneh yang sering merebak belakangan ini.
Perjalanan Cinta (part I)
Sesuai yang saya duga, pas baca judulnya, pasti pikirannya sudah melayang-layang tak tentu arah. (hahaha, sotoy mode: on). Judul tulisan ini mungkin cuma sedikit kaitannya sama isinya. Ntar dilihat aja langsung di isinya. Tapi, tanpa mengesampingkan materi pelajaran bahasa Indonesia tentang pentingnya penentuan judul untuk sebuah tulisan, judul di atas adalah upaya provokatif, hehehe. Ini baru bagian pertama. Yah, sekitar setengah perjalanan lah. Nah, setengahnya lagi ada di bagian II. Biar seru gitu… hehehe…
Jadi sebenarnya di tulisan ini, saya mau menceritakan perjalanan tiga hari ke Lampung dari hari Jumat-Ahad, tanggal 6-8 Agustus. Ini bukan sekedar melancong. Ini juga bukan sekedar refreshing atau sebangsanya. Tapi, perjalanan ini untuk menghadiri resepsi pernikahan seorang teman seasrama di PPSDMS. Zhajang namanya. Alumni FEUI yang ngakunya bekerja sebagai Asisten Wakil Direktur di Danamon Syariah Pusat. Hehehe, tau tuh bener nggak. Nah, si beliau ini berhasil menggaet Ambar, anak Lampung yang sudah lulus dari FIK UI dan sekarang lagi menjalani masa profesi.
Artikel Oktober 08
Ikhtilat Virtual
Tanpa bermaksud mensimplifikasikan, ikhtilat umumnya dipersepsikan dengan berkumpulnya laki-laki dan perempuan dalam satu tempat. Konteks ikhtilat yang digunakan di sini adalah dalam perspektif Islam. Tata bahasa tersebut digunakan untuk mendefinisikan salah satu dari sekian banyaknya aturan Islam tentang bab pergaulan antarlawan jenis.
Dalam Islam pergaulan antara laki-laki dan perempuan memang sangat diperhatikan. Aspek preventiflah yang menjadi landasan kuat perhatian tersebut. Telah jelas disebutkan di dalam kitab sucinya bahwa Islam melarang pemeluknya mendekati zina. Dan dari sekian banyak pintu masuk ke zina, pintu utamanya bernama pergaulan.
Penting untuk dipahami bahwa Islam tidak melarang antara laki-laki dan perempuan untuk bergaul. Agama ini hanya mengaturnya. Menempatkannya dalam proporsi yang seharusnya. Mendefinisikan batasan, mana yang diperkenankan dan mana yang dijauhkan. Dengan demikian, tidak muncul ambiguitas dalam penafsirannya. Ketegasan inilah yang menjadi karakteristik norma agama dibandingkan norma lainnya.
Short Story from My Trip, In Singapore
Saya mau sharing-sharing pengalaman saat melancong ke Singapura nih selama kurang lebih 4 hari, 7-10 November 2008. Sebenernya tujuan keberangkatan saya ke sana ada dua. Pertama adalah buat wawancara beasiswa KAUST. Kedua adalah menghadiri recognition event para penerima beasiswa KAUST dari asia pasifik. Undangan ke Singapuranya sih udah dari lama, sekitar awal Oktober. Tapi, kepastian berangkatnya baru awal-awal November. Nggak tau kenapa, tapi konfirmasi e-ticketnya baru awal November gitu.
Saya berangkat ke bandara hari jumat jam 3 siang bareng temen dari Fasilkom UI. Sampe bandara Soekarno Hatta sekitar jam 5 sore. Macet banget jalan ke bandaranya. Kami turun di terminal 2, di pintu D2. Sudah menunggu di sana 6 orang teman. Kami sholat ashar dulu. Sebelum masuk boarding, penyakit narsisnya pada muncul. Biasa, foto2 gak jelas di bandara. Hehehe…
Kami berangkat pake pesawat Malaysia Airlines jam 18.30. Transit dulu di Kuala Lumpur buat ganti pesawat, sekitar jam 21.30 waktu setempat. Kita sama Malaysia dan Singapura beda 1 jam. Mereka lebih cepet dari kita. Jadi, kalo WIB jam 8, di sana jam 9. Aneh sih sebenernya karena secara posisi, seharusnya kita lebih awal dari mereka. Entahlah… Akhirnya, kita sampe di Changi Airport Singapura jam 23.30. Udah ditunggu sama perwakilan KAUST yang mau nganterin kita ke hotel.
Artikel September 08
Mencari Pahlawan Muda Indonesia
Krisis bangsa saat ini memang telah menggurita. Krisis yang diawali dari terpaan badai ekonomi 10 tahun silam. Lantas disusul dengan tersingkapnya krisis politik, budaya, sosial, dan moral. Kita seharusnya tidak terbenam dalam keterpurukan dengan senantiasa mengutuk keberadaan permasalahan bangsa seperti yang terjadi saat ini. Krisis adalah takdir semua bangsa, sebagaimana perjalanan hidup manusia, adakalanya berada dalam kejayaan, dan suatu waktu ia terjatuh dalam keterpurukan.
Hal yang seharusnya kita khawatirkan adalah belum lahirnya sosok-sosok pahlawan dari berbagai krisis multidimensi itu. Krisis identitas bangsa ini 80 tahun silam jauh lebih berat. Namun, generasi saat itu berhasil mengilhami solusi identitas tersebut dengan lahirnya Sumpah Pemuda. Sebuah pernyataan kesepakatan yang menyingkirkan berbagai perbedaan dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa. Atau kita dapat merefleksikan diri pada momentum 10 November di Surabaya, saat fragmen semangat dan keberanian tersinergi dalam perjuangan mengangkat senjata.
Sejarah telah mencatatkan bahwa sosok-sosok pahlawan lahir dari para generasi muda. Berbagai peristiwa bersejarah di Indonesia dan juga di berbagai penjuru dunia lainnya telah membuktikannya. Maka ketika muncul kekeringan sosok pahlawan di negeri ini, berarti ada sesuatu yang keliru dalam diri para pemudanya.
Ada banyak faktor yang mempengaruhinya. Di satu sisi dapat dilihat bahwa telah terjadi distorsi makna kepahlawanan. Bagi beberapa komunitas pemuda, menjadi pahlawan adalah dengan berjuang mendapat wanita pujaannya, meskipun harus beradu fisik dalam perebutannya. Dalam komunitas yang lain, pahlawan adalah mereka yang siap bertarung dengan rekan sekampus lainnya demi gengsi fakultas. Atau bisa jadi, pahlawan adalah mereka yang hidup layak berkecukupan, meskipun untuk menggapainya tak segan main sikut kanan maupun kiri.
Punctuation is Powerfull
An English professor wrote the words:
“A woman without her man is nothing” on the chalkboard and asked his students to punctuate it correctly.
All of the males in the class wrote:
“A woman, without her man, is nothing.”
All the females in the class wrote:
“A woman: without her, man is nothing.”
Therefore “Punctuation is powerful”
dikutip dari sebuah milis
Artikel Agustus 08
Peduli Apa dengan Pornografi!!
Kalau saya ditanya apakah senang kalau melihat wanita setengah bugil, misalnya cuma berpakaian bikini seperti yang umum terlihat di pantai-pantai, dengan penuh semangat, hati dan kepala saya akan mengiyakan tanda sepakat. Tak perlu berkilah ataupun membantah karena memang kenyataannya naluri kelelakian saya berujar demikian. Apalagi kalau ada di antara wanita-wanita itu yang mau menemani saya jalan-jalan sebentar di mall. Betapa semakin girang bukan main hati saya ini. Mungkin sampai seminggu setelahnya, tiap malam saya akan memimpikan wajahnya.
Demikian juga dengan judi, togel, atau apapun yang secara substantif bermakna seperti itu. Judi sama menariknya sebagaimana wanita karena judi adalah gunung harapan, bukit angan-angan, dan juga mimpi indah masa depan. Di tengah himpitan kepenatan hidup sekarang ini, entitas judi laksana obat mujarab. Dibandingkan mendengarkan luapan janji petinggi negeri yang tak terbukti, betapa sulitnya mencari penghidupan yang layak, serta repotnya mencari biaya untuk membeli baju sekolah anak-anak, ikut andil berjudi membuka harapan solusi dari berbagai problem tersebut. Dan selaku manusia, mari kita jujur pada masing-masing kita sendiri, bukankah harapan itu seringkali lebih menyenangkan dibandingkan kenyataan?
Apalagi tentang khamr (minuman memabukkan), ganja, ekstasi, sabu-sabu, pil koplo. Segala macamnya adalah pelarian dari berbagai nasib buruk kaum papa, golongan marginal, serta ribuan anak-anak yang broken home dari keluarganya. Saat mabuk, mereka merasa telah berada di alam lain. Seolah-olah tetek bengek yang membebani kepalanya itu terpinggirkan, entah di kolong langit sebelah mana, untuk sementara waktu. Dan kemudian muncul perasaan lega, free, merdeka meskipun di dalam relung sanubarinya mereka mengimani sepenuhnya bahwa setelah efek obat-obatan itu habis, mereka akan kembali ke nerakanya. Nyatanya mereka tetap apatis.
Lantas mengapa agama kemudian melarang sesuatu yang menyenangkan seperti itu bagi manusia? Karena agama memang tidak bermain dalam tataran senang ataupun benci. Suka atau tidak suka. Agama adalah kajian teologis yang membingkai manusia dalam kerangka baik dan buruk. Sementara alat ukur kesenangan manusia sendiri adalah nafsu, bukan nilai norma, kultur sosial, boro-boro aturan Ilahiah. Dan di dalam dunia manusia, sesuatu yang menyenangkan nafsu acapkali berada dalam kuadran ketidakbaikan. Begitu pula sebaliknya.
Menjadi produser film porno itu sangat menguntungkan. Tak perlu keluar banyak ongkos untuk kostum dan make-up artisnya, tapi jaminannya berpuluh-puluh lipat keuntungan. Apalagi bagi redaksi, wartawan, agen, artis hingga loper dari majalah, koran dan tabloid porno. Begitu pula aksi goyang ngebor, ngecor, kayang, sanca adalah aktivitas yang bisa menghibur orang sekaligus cara instan memperoleh popularitas dan imbalan yang tinggi.
Jangan tanyakan kepada mereka tentang konsekuensi aktivitas itu dengan potensi perusakan mentalitas anak bangsa atau generasi penerus masa depan negeri ini. Itu urusan keenam ratus lima puluh tiga. Bisa jadi malah sekedar onggokan kertas yang sudah digulung-gulung lantas ditendang-tendang atau dilemparkan ke tong sampah dengan gaya lay up shoot ala Michael Jordan atau Tim Duncan. Prioritas yang paling utama tentu saja seberapa gepok rupiah yang bisa masuk ke kantong atau rekeningnya di luar negeri.
Mungkin suatu waktu Anda iseng bertanya kepada mereka, “Bukankah kalian-kalian ini adalah orang beragama, yang diperintahkan harus mencintai Tuhan dan Nabi kalian? Kok Anda tidak menaati perintah untuk menjaga aurat dan memuliakan kehormatan wanita?”
“Tentu saja kami mencintai Tuhan dan Nabi kami, tapi mbok ya tolong beri dispensasi kami sedikit saja biar tetap bisa goyang ngebor, bikin majalah ataupun film porno. Cuma itu kok…”, jawab mereka.
* tulisan ini dibuat sebagai kado untuk rekan-rekan yang berjuang untuk meluluskan RUU Pornografi
Renungan Syawal
Entah harus bersikap apa setelah Ramadhan tahun ini selesai. Haruskah sedih? Ataukah bergembira? Sedih karena berpisah dengan bulan yang begitu mulia. Bulan penuh barokah. Bulan yang menjadi latihan terbaik bagi jiwa-jiwa yang mengaku bahwa di dalam hatinya, meskipun cuma sebiji atom, percaya bahwa Allah itu ada beserta segala kekuasaan-Nya. Sedih karena ternyata ternyata ada tuntutan di bulan-bulan berikutnya untuk bisa membuktikan hasil pelatihan Ramadhan.
Apakah tilawah yang dulu berjuz-juz di Ramadhan akan terus berlanjut di Syawal ini? Akankah infaq ataupun shadaqoh itu masih tetap istiqomah? Yakinkah penjagaan diri dari berprasangka itu menjadi salah satu jalan hidup kita? Ataukah semuanya itu cuma sekedar numpang lewat? Cuma sebulan. Hanya ketika Tuhan menjanjikan begitu banyak balasan, sedangkan di bulan lain tidak?
Ah, begitu kapitalisnya kita seandainya demikian. Dengan Tuhan pun kita berhitung. Makhluk macam apa kita jadinya? Kalau begitu, tidak jauh bedalah kita dengan keledai di mana dia terperosok jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Bahkan mungkin kita lebih hina darinya karena ternyata Ramadhan ini bukanlah Ramadhan yang kedua dalam hidup kita. Sudah berkali-kali. Bahkan mungkin berpuluh kali.
Dan bisa jadi pascaRamadhan tahun ini bagi kita adalah kegembiraan. Karena toh, Tuhan masih memberikan kita kesempatan untuk melebur sekian banyaknya dosa yang telah kita lakukan. Karena Tuhan begitu welas asihnya dengan menjadikan kita sempat beramal, mudah-mudahan dengan sebaik-baik amal, di bulan itu. Dan Dia ingin supaya kita dapat membuktikan kepada-Nya bahwa kita akan menjadi hamba yang bisa menerapkan pelajaran Ramadhan di sebelas bulan lainnya.
Kalau kemudian di bulan Syawal ini, aktivitas sebelum Ramadhan kita ternyata tidak ada bedanya dengan sekarang, kemungkinan besar ada yang salah dengan pemahaman kita terhadap Ramadhan itu. Kalau faktanya keseharian kita lebih diisi dengan banyak aktivitas yang tidak bermanfaat, apalagi sia-sia, sepertinya perlu ada evaluasi besar, sebenernya sudah ngapain aja kita di Ramadhan kemaren. Seandainya kualitas kesalehan kita setelah Ramadhan ini masih sebatas pada kesalehan individu dan belum beranjak menuju kesalehan sosial, lupakan saja Ramadhan yang lalu.
Segera perbanyaklah istighfar karena bisa jadi hati kita sudah tertutup. Atau mungkin ditutup. Karena kesombongan di hati kita nampaknya sudah terlalu besar. Menyangka kebahagiaan yang kita terima adalah rahmat. Padahal, Tuhan sedang meng-istidraj-kan kita. Mengulur pelan-pelan. Semakin lalainya kita, semakin diulurlah benang istidraj itu. Dan suatu masa, ditariknyalah semua dalam sekejap. Dan kita hanya terpaku. Terlambat menyadari. Semuanya telah sirna. Astaghfirullah…
Comments (5)
Comments (8)
Comments (9)

