Pengalaman Buruk di RS Hermina Serpong

Melalui tulisan ini, saya bermaksud menyampaikan pengalaman buruk saya selama dirawat di RS Hermina Serpong.

Jadi saya pada hari Minggu, 17 Juli 2016 pada pukul 10.30 di rumah mengalami mual. Awalnya saya kira mual biasa. Habis muntah pertama, berlanjut ke muntah berikutnya hingga dua puluhan kali muntah. Ditambah dengan diare hingga 6 kali. Di rumah, sempat diobati dengan minum obat anti mual, tapi begitu obat masuk, tidak sampe 5 menit dimuntahkan lagi. Begitu juga ketika minum, juga tidak lama ikut dimuntahkan.

Melihat kondisi saya yang sudah sangat lemas, istri segera bertindak dengan membawa saya ke RS terdekat dari rumah, yaitu RS Hermina Serpong. Di IGD, penanganannya tidak sigap. Dokter jaga dan perawatnya terlalu santai. Padahal, cuma ada satu pasien lain selain saya. Dan itupun tidak lama dia pun selesai ditangani.

Setelah diinterogasi dokter, saya diberikan obat antimual melalui injeksi. Karena perut kosong, habis dikuras melalui muntah dan diare, badan saya lebih sensitif terhadap dingin. Sempat minta selimut, tapi tidak diberi karena tidak ada selimut di ruang IGD. Ketika istri tanya, apa bisa dicover BPJS karena kondisi saya seperti itu, dibilang dokter jaganya tidak bisa. Alasannya, diarenya harus lebih dari 20 kali baru bisa dicover BPJS. Wuih, ngeri juga ya. Sehari diare 6 kali aja udah kosong.

Ya sudahlah, dengan kondisi saya yang sangat-sangat lemas, kami terima konsekuensinya dengan membayar biaya RS sepenuhnya dari kantung sendiri. Kemudian saya harus menunggu lama untuk bisa masuk ke kamar kelas 1 yang kami pesan. Baru jam 3 kami bisa masuk. Itupun kondisi kamarnya sangat jauh dari standar kamar kelas 1. AC rusak (tidak bisa nyala), shower kamar mandi mati, airnya mengandung besi/berwarna kekuning-kuningan (tidak layak pakai).

Pihak IGD menjanjikan saya bisa dapat makan siang meskipun saya masuk jam 3. Ternyata, bagian pantry-nya bilang, saya nggak bisa dapat makan siang karena sudah lewat jam makan siang. Waduh, nggak konsisten ini. Atas desakan istri, pantrynya mengusahakan saya bisa dapat makan siang. Ternyata, dia bohong. Makanan yang diantarkan ke kamar baru bisa jam 5 sorean. Ya itu namanya makan malam berarti.

Kekecewaan kami berlanjut Senin malam ketika infus saya habis. Ketika dilaporkan ke perawat jaga, ternyata perawat jaganya sibuk ada operasi. Kami ditelantarkan cukup lama sampai akhirnya perawat itu kembali lagi mengganti infus saya. Bagi kami, RS tidak mampu menyediakan sumber daya untuk penanganan medisnya.

Kemudian, hari Selasa pukul 9.45 saya pencet tombol di kamar, meminta perawat jaga untuk minta rekam medis saya. Saya diabaikan sampai setengah jam. Padahal kondisi pasien di lantai kamar saya tidak terlalu ramai. Juga jarak ruang perawat jaga dengan kamar saya hanya 10 meter saja. Kemudian saya pencet lagi tombol, dan dibalas lewat speaker oleh perawat jaganya. Dia bilang ada yang perlu dibantu. Lha, gimana. Tadi kan saya minta rekam medis. Dijawab untuk menunggu. Saya tunggu sampai 10 menit, kemudian perawat jaganya datang membawa dokumen.

Setelah saya tanyakan beberapa hal, saya minta untuk pulang. Perawatnya bilang akan segera mengurus kepulangan. 10 menit tidak ada respon, saya bermaksud memencet tombol mengundang perawat. Eh, ternyata tombolnya error. Entah disabotase oleh perawat jaga karena saya terlalu sering memencet tombol tersebut selama sejam terakhir. Karena per Selasa pagi, istri sudah meninggalkan rumah sakit karena mau menemani anak masuk hari pertama playgroupnya. Langsung saya bergegas ke ruang perawat jaga sendirian, dengan badan yang masih terpasang infus. Saya duduk di depan perawatnya, bilang saya minta pulang atas pernyataan sendiri saat ini juga. Saya tungguin di kursi depannya sampai seluruhnya selesai setengah jam kemudian. Kalau nggak saya tungguin, mungkin permohonan pulang saya nggak akan diurus-urus.

Ketika saya mau melunasi pembayaran sekitar 11.30, saya kaget karena saya ditagih 3 hari menginap di kamar. Saya terus komplain ke kasir. Kan saya checkout sebelum jam 12, harusnya dihitung 2 hari saja karena masuk Minggu pukul 14.00. Kemudian disodorkanlah aturan biaya inap di RS Serpong terbaru per 8 Juli 2016 berikut

Waduh, kejam betul aturan inapnya. Saya diharuskan bayar 3 hari rawat inap dari saya masuk Minggu, 17 Juli 2016 pukul 14.00 dan keluar Selasa, 19 Juli 2016 pukul 11.30. Kacau! Jadi kalo hari Selasa ini saya keluar kamar jam 7 malam, saya harus bayar 3,5 hari inap. Kacau betul cari uangnya! Normalnya, ya saya hanya dibebankan untuk membayar sejumlah 2 hari rawat inap.

Padahal, sebagai perbandingan, di RS lain ketika rawat DBD anak saya, ketika pulang sebelum jam 12 siang, saya tidak perlu membayar 1 hari inap lagi. Baru RS Hermina yang saya tahu aturannya mencekik konsumen seperti ini.

Tulisan ini saya kirimkan ke YLKI juga selaku lembaga perlindungan konsumen, untuk dijadikan sebagai perhatian juga. Jika memang kebijakan RS Hermina merugikan konsumen, tentu pihak YLKI dapat memberikan teguran, atau peringatan kepada RS terkait.

Dengan pengalaman ini, keluarga kami sepakat untuk tidak merekomendasikan RS Hermina sebagai tempat layanan kesehatan bagi keluarga kami. Cukup sekali ini saja karena kedaruratan kondisi saya saat itu memilih RS Hermina untuk terakhir kalinya. Dengan fasilitas yang jauh dari standar, pelayanan yang tidak sigap, biaya yang tidak masuk akal, sudah lebih dari cukup untuk memastikan RS Hermina Serpong tidak kami pilih kembali.

Infaq Masjid

Kalau ke masjid pas sholat Jumat, saya selalu mendengarkan petugas masjid menyampaikan kondisi kas masjid sebelum khatib naik mimbar. Kayak-kayaknya saya belum pernah mendengar saldo kas masjid bernilai 0 rupiah. Biasanya sih berjuta-juta. Apalagi kalau masjid besar, jauh lebih banyak lagi. Sampai suatu ketika, saya terkejut mendengarkan paparan ustadz Salim A Fillah di salah satu acara di Jerman, tentang pemberdayaan masjid yang dikelola beliau.

Namanya Masjid Jogokariyan. Namanya bukan nama islami seperti masjid-masjid di Indonesia pada umumnya. Namun, menurut beliau, begitulah contoh Rasul memberi nama masjidnya, menggambarkan lokasi medan dakwahnya. Masjid Jogokariyan ya medan dakwahnya di Jogokariyan, Jogja. Bukan daerah lain.

Di masjid ini, pengurusnya justru senang kalau saldonya nol. Beda dengan masjid lain di Indonesia yang berlomba-lomba memperbesar saldonya di corong-corong pengeras suara. Kenapa saldonya bisa sampai nol? Dananya digunakan untuk memastikan di sekitar Jogokariyan nggak ada yang kelaparan, nggak ada yang putus sekolah. Saya sependapat dengan beliau. Karena di situlah seharusnya masjid hadir memberikan solusi nyata persoalan umat di sekitarnya.

Hal unik lainnya adalah dana dakwah masjidnya digunakan untuk membuat peta dakwah umat di sekitar masjid. Jadi masjid tahu dan paham keluarga mana yang sering ke masjid, mana yang jarang, mana yang tidak pernah, mana yang anti terhadap islam, dan sebagainya. Petanya divisualisasikan dengan warna yang berbeda seperti hijau, kuning, dan merah. Dengan peta itu, pola dakwah bisa dibuat lebih tepat dengan pendekatan yang berbeda untuk setiap segmennya.

Pernah suatu waktu, untuk mengundang jamaah Subuhnya, masjid membuat undangan yang keren seperti undangan resepsi pernikahan. Kesannya, event sholat Subuh bener-bener dianggap spesial. Dan memang harusnya demikian. Hasilnya, jamaah sholat Subuhnya sama penuhnya seperti sholat Jumatnya.

Dari cerita beliau, saya mendapat ilmu baru tentang cara memakmurkan masjid. Yang terjadi di tengah masyarakat adalah bagaimana orang berlomba-lomba berinvestasi akhirat dengan memperbanyak membangun masjid dengan kesibukan rehab sana sini, tapi membiarkannya hampa dan abai terhadap permasalahan masyarakat di sekitarnya.

Belum Tentu

Dalam suatu obrolan random lewat telepon dengan Ibu, tiba-tiba saja saya nyeletuk, “Dulu saat anggota keluarga lengkap, kita tinggal di rumah yang kecil. Sekarang saat ibu dan bapak punya rumah yang lebih besar, malah hanya ibu bapak saja yang menempati rumahnya. Anak-anaknya sudah pada entah ke mana”.

Saat saya masih SD sampai SMA, rumah kami lebih kecil dari rumah sekarang, luasnya kira-kira setengahnya. Dengan membaiknya kondisi keuangan keluarga, alhamdulillah ketika saya kuliah masuk tahun ke dua, orang tua menjual rumah lamanya, kemudian dibelilah rumah yang ditinggali saat ini.

Satu waktu saya ingat, waktu masih kuliah pengin kerja dapat duit yang lebih banyak dari ngajar les privat, biar bisa makan lebih enak, jalan-jalan naik kereta atau pesawat. Sekarang saat kondisi kantong lebih baik dari dulu, justru waktu dan kesibukan membuat saya tidak bebas pergi ke mana-mana. Alhamdulillah untuk makanan, masih tidak ada halangan untuk makan makanan pinggir jalan, berkolesterol, dan makanan “jahat” lainnya.

Bukan. Saya tidak sedang mengajari untuk tidak mensyukuri nikmat yang gusti Allah kasih buat saya hari ini. Saya mengingatkan diri saya sendiri, bahwa belum tentu sesuatu yang saya ingini, bisa tercapai mulus. Ada harga yang, terkadang, diambil sebagai gantinya.

Menulis Lagi

Sudah lebih dari setahun saya belum menulis lagi, baik di blog maupun facebook. Sampai-sampai domain blog akhdaafif.com juga ikutan kadaluarsa. Mau diperpanjang lagi, eh ternyata sudah dibeli dan dijual lagi seharga lebih dari seribu dolar. Sayang bener buat beli balik. Ya kembali lagi pakai domain asal gratisan di akhdaafif.wordpress.com.

Blog kayaknya bukan media yang menarik lagi buat banyak orang. Generasi sekarang lebih banyak orang untuk berekspresi instan di twitter, atau posting foto dengan caption ala-ala pakar motivasi di instagram, atau juga edit-edit video di youtube. Tuntutan media sosial memang sudah berubah. Dan wajar sih di tengah tuntutan era instan. Apa-apa maunya cepat.

Saya mau mengawali tulisan saya lagi dengan kisah kegagalan saya di Kaiserslautern. Jadi, saya dikeluarkan dari TU Kaiserslautern. Sesuai aturan pendidikan di Jurusan Ilmu Komputer TU Kaiserslautern, setelah gagal 3 kali ujian di satu mata kuliah, diberikan satu kali ujian lisan. Jika semuanya gagal, maka mahasiswa tersebut dikeluarkan dari kampus dan dilarang kuliah di jurusan yang sama. Jadi walaupun mahasiswa tersebut sudah banyak lulus mata kuliah bahkan skripsi, dan gagal lulus satu mata kuliah, ya tetap dikeluarkan. Saya malu dan depresi setelah kejadian itu. Alhamdulillah, gusti Allah membantu menenangkan saya lewat keluarga, khsusunya istri dan orang tua. Saya sampai berpikir keluar dari kantor karena malu, semalu-malunya. Saya telah mengecewakan keluarga; guru-guru pemberi rekomendasi, Bu Kasiyah, Pak Adila, Pak Yugo; atasan dan teman-teman kantor; juga Kominfo sebagai pemberi beasiswa.

Saya kemudian mengabari pengelola beasiswa, cerita semuanya. Singkat cerita saya pun kembali ke Indonesia, kembali ke kantor lagi. Saya dipanggil pejabat pengelola beasiswa, ditanya ini itu, saya jawab apa adanya. Sempat takut bakal dimarahi habis-habisan. Justru, beliau memberi semangat saya lagi untuk cari beasiswa dan kuliah. Kaget juga. Saya jawab, saat ini mental saya masih down, terima kasih atas saran ibu, saya perlu waktu untuk kembali membangkitkan mental saya.

Yang juga luar biasa lagi adalah respon teman-teman di satuan kerja saya. Semuanya menguatkan dan memenangkan. Saya dilibatkan lagi dalam pekerjaan-pekerjaan. Tidak beda jauh dengan sebelum keberangkatan saya ke Jerman. Ketika bertemu dengan orang yang saya kenal di kantor yang bertanya saya sudah pulang, saya cerita saja apa adanya. Kalau nggak bertanya, ya saya nggak cerita. Responnya ada yang menyayangkan, ada yang melihat dari perspektif lain. Macem-macem. Saya belajar melihat bahwa satu peristiwa bisa disikapi dari berbagai perspektif. Bisa direspon positif, bisa direspon negatif. Ya begitulah hidup. Ada yang menyenangkan, ada kisah sedihnya, ada nangisnya, ada ketawanya. Variasi rasanya. Toh, belum tentu yang menyenangkan itu baik, yang sedih gagal kecewa itu pasti buruk. Gusti Allah Maha Suka-suka. Jangan saya ngatur-ngatur Dia. Makhluk kok ngatur-ngatur gusti Allah. Minta doa supaya diberikan yang terbaik, tapi dikasih gagal yang menurut Gusti Allah terbaik, saya mangkel sama Allah. Yang saya pahami, kalau dikasih yang terbaik itu pasti senang, beruntung, harta banyak, dikabulkan doa-doanya saya. Ya, belum tentu. Nasihat itu bener-bener bikin saya mak jeblug.

Sekarang saya tinggal di rumah mertua di Serpon. Lagi ikhitar beli rumah. Sehari-hari naik KRL Serpong-Tanah Abang. Lama perjalanan kereta antar 40-50 menit sekali jalan. Nggak terlalu lama. Dari situ saya mengamati banyak hal. Misalnya, stasiun Sudimara saya kasih label stasiun neraka. Soalnya, saat pagi penumpang yang naik dari stasiun itu luar biasa jumlahnya. Gerbong yang awalnya kosong atau setengah kosong, langsung penuh sesak di stasiun tersebut. Kemudian, ketika naik kereta pulang dari stasiun Tanah Abang, tipikal penumpang yang naik terlihat dari jurusan akhir keretanya. Saya menamainya penumpang Serpong dan penumpang Parungpanjang Maja. Penumpang Serpong ini adalah penumpang yang tujuan akhirnya stasiun Serpong atau sebelumnya. Penumpang tipe ini tipe penumpang rapi, penumpang kantoran. Adapun penumpang Parungpanjang Maja, mayoritas tipe penumpang orang menengah dan miskin. Berasa banget perbedaan naik dua kereta itu kalau sore. Penumpang Serpong masih wangi-wangi, bawaannya HP HP terbaru, sepanjang jalan asik sendiri dengan gadgetnya. Kalau penumpang Parungpanjang Maja, penuh bau keringat, raut wajah lelah dan terbakar matahari, rame ngobrol dengan bahasa Sunda kasar, badan dan bajunya lebih lusuh daripada penumpang Serpong.

Jagoan kecil kami sudah gede sekarang, sudah bisa cerita macam-macam. Siang atau sore saya berada di kantor, dia kadang telepon kemudian bertanya, “Ayah kok lama?”. Sampai di rumah, juga disambut pertanyaan yang sama, dengan berondongan ceritanya yang macam-macam. Dari mulai main sama teman sebayanya, jalan-jalan ke masjid, cerita ikan di kolam masjid, cerita tentang mainannya. Capek sih habis berdesakan di KRL, tapi melihat jagoan ini antusias mengajak ayahnya bermain, ya jadi ilang capeknya. Ini yang namanya nikmat bernama anak ya. Kalau mengutip bahasa Quran, istri/suami dan anak itu adalah fitnah/ujian/cobaan.

Setiap pagi, seringkali Afifah ini nggak mau melepas ayah bundanya ke kantor. Alasannya macam-macam. Yang paling sering, minta diajak keliling komplek sambil naik motor. Kalau lagi ok, sekali putar mau ditinggal. Kalau lagi rewel, ya putar-putarnya lama. Sepulang kerja, ayahnya diajak main masak-masakan, kuda-kudaan, lompat, lari, sampai dia capai dan minta bobo. Kalau ada dinas luar kota, selalu kangen sama Afifah. Kangen mendengarkan cerita-ceritanya yang beraneka rupa dan pola tingkahnya.

Beberapa waktu lalu, saya mendaftarkan diri ikut program sekolahfiqih.com yang diasuh oleh Rumah Fiqih. Kalau selesai programnya, ada 8 level. Materinya disampaikan secara tertulis juga lewat video. Dari bab 1 yang baru saya ikuti, materinya memuaskan. Apalagi buat saya yang masih awam dan tertarik belajar fiqih, konten yang diberikan lebih dari cukup, menurut saya. Pemaparannya detail, membahas dari banyak sudut pandang, dan mengedepankan toleransi dalam memahami perbedaan pemahaman yang disampaikan oleh para ulama salaf dan kontemporer. Silakan kalau ada yang berminat, buka saja di sekolahfiqih.com. Mungkin suatu waktu akan saya tuliskan di blog ini.

Ternyata, ngalor ngidul juga tulisannya. Hahaha. Cukup sampai di sini nulisnya. Mudah-mudahan bisa nulis lagi di lain kesempatan. Mungkin pekan depan, bulan depan. Belum tahu juga pastinya. Lagi mengondisikan jarang pegang hp atau laptop di rumah. Soalnya anak suka ikut-ikutan. Itu yang kami berdua coba kurangi. Biar si kecil olah fisiknya dulu pada masa tumbuh kembangnya sekarang. Nah, kalau saya bisa nulis sepanjang ini, tandanya saya lagi jauh dari rumah. Hahaha

Catatan dari Kaiserslautern: Akhir yang Baik

Yang saya yakini, salah satu paramater untuk menilai seseorang itu baik atau tidak, lihat saja ketika yang bersangkutan meninggal dunia. Lihat jumlah dan kualitas orang-orang yang berta’ziah, ikut menyolatkan di masjid, juga yang mengantarkan jenazah menuju pemakaman.

Pada hari Sabtu dua pekan lalu, saya menyaksikan sebuah keluarga dan seorang perempuan yang akan meninggalkan Kaiserslautern, kembali ke tanah air. Pada sesi pamitan di grup pengajian, bergantian warga muslim di sini yang memberikan kesan. Seluruh kesan yang disampaikan adalah kesan-kesan kebaikan. Tampak raut sedih, kecewa, juga ada tangisan yang mengiringi.

Sosok keluarga ini menjadi pelopor pengajian Kaiserslautern. Tak hanya itu, mereka juga berperan sebagai kakak dan orangtua bagi anak-anak yang kuliah atau sekolah di Studienkolleg. Berkali-kali direpotkan dengan anak-anak yang datang ke rumah, sekedar minta makan karena malas masak atau nggak punya uang. Mereka juga menjadi tempat curhat, cerita, dan diskusi topik-topik pribadi, hidup di Jerman, hingga politik kenegaraan; dari hal-hal penting hingga remeh temeh. Adapun sosok perempuan ini dikenal sangat ramah. Dari kesan-kesan yang terlontar, tergambar bahwa beliau mau menolong adik-adiknya yang mempersiapkan kuliah di sini, punya referensi tempat makan yang oke punya. Buat saya, beliau luar biasa, sanggup tidak pulang ke Indonesia sejak pertama kali sampai di Jerman, dan sekitar lebih dari 4 tahun. Tidak bertemu fisik dengan keluarga selama itu bukan hal mudah. Hanya orang-orang yang kuat mentalnya yang bisa menjalaninya.

Saat ini, mereka sudah sampai di tanah air dan mungkin sedang melampiaskan rasa kangennya pada banyak hal, pada keluarga, tetangga, sahabat, makanan. Kami-kami yang masih berjuang di sini hanya bisa membantu kepulangannya seadanya, juga memberikan sedikit kenang-kenangan, sebagai bukti ikatan persaudaraan yang semoga tidak luntur meskipun terpisah oleh jarak.

Mereka telah menuai apa yang telah ditanam saat tinggal di sini. Kesan baik, perhatian, tangis tidak bisa diberikan jika tiada manfaat yang mereka berikan untuk orang lain selama ada di Kaiserslautern. Saya yakin begitu juga nanti bagi saya juga Anda. Apa yang kita tanam selama kita hidup, akan terungkap ketika kita meninggalkan dunia ini. Kita tidak tahu jatah umur kita di dunia akan sampai kapan. Kita pun tak tahu akan meninggal dalam kondisi apa kita nanti. Maka, berbekallah. Dan sebaik-baik bekal adalah taqwa (QS Al Baqarah ayat 197).

Belajar Jual Beli

“Setiap orang yang datang di pasar ini (Madinah) harus tahu barang yang halal dan yang haram, sehingga dia tidak berbuat dzolim. Jika tidak, maka dia akan membuat riba dan keharaman, baik sengaja ataupun tidak.” [Khalifah Umar bin Khattab ra]

Memahami fiqih jual beli menjadi suatu kebutuhan bagi umat Islam, karena hampir setiap hari kita melakukan transaksi jual beli. Apalagi bagi pedagang, lebih dianjurkan lagi. Pengertian jual beli itu sendiri adalah tukar menukar harta dengan memberikan kepemilikan kepada salah satu pihak. Rukun jual beli ada 3: ada orangnya, ada akadnya, dan ada objek akadnya.

Syarat orang yang jual beli tidak disyaratkan harus beragama Islam. Rasulullah pernah berjual beli dengan orang Yahudi. Syaratnya, transaksi yang dilakukan dengan nonIslam harus sesuai dengan syariat Islam. Adapun syarat jual beli adalah: baligh, berakal, dan tidak terpaksa. Seseorang dikatakan baligh, bagi laki-laki sudah mimpi basah, bagi perempuan sudah mengalami haid. Nah, bagaimana kalau jual belinya dilakukan oleh anak-anak? Misalnya, anak SD yang beli jajan di kantin sekolah. Apakah sah akad jual belinya? Kalau sah, boleh dong harusnya kalau anak-anak ini beli motor? Kalau tidak sah, berarti anak ini tidak membeli barang, tetapi merampasnya. Ijma’ (kesepakatan) ulama adalah bahwa anak-anak boleh melakukan jual beli sebatas yang dibutuhkan saja. Ulama mengecualikan larangan dari Allah terhadap jual beli yang dilakukan oleh anak-anak yang ada di Al Quran surat An Nisaa ayat 6: “Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya… “.

Syarat berakal, berarti orang tersebut tidak kehilangan akalnya ketika bertransaksi. Maka tidak sah hukumnya jual beli dengan orang gila. Namun, bagaimana dengan jual beli dengan orang mabuk? Ulama membolehkan kita bertransaksi dengan orang yang sedang mabuk. Yang dimaksud dengan rukun jual beli “tidak terpaksa” adalah jika seseorang membeli bukan karena dipaksa oleh penjual, atau menjual bukan karena dipaksa oleh pembeli. Adapun seseorang yang terpaksa menjual tanahnya untuk membayar biaya pengobatan anaknya, tetap sah karena keterpaksaan ini datangnya dari keadaan, bukan dari lawan juga. Keterpaksaan yang dibolehkan adalah jika dilakukan oleh pemerintah yang pemanfaatan pembeliannya bagi kepentingan umum, sebagaimana dicontohkan Umar bin Khattab ra dan Usman bin Affan ra ketika meluaskan Masjidil Haram. Namun, disyaratkan harus diberikan ganti rugi yang adil dari pihak pemerintah dan diberikan secepatnya. Bila tanpa imbalan atau tidak adil gantinya dari pemerintah, maka tidak dibolehkan. Islam tetap menghargai kepemilikan harta perorangan. Penjualan terpaksa lain yang dibolehkan adalah jika diputuskan oleh pengadilan bahwa yang bersangkutan harus menjualkan barangnya untuk melunasi hutang-hutangnya.

Rukun kedua tentang akad maksudnya adalah adanya ijab qobul antara penjual dan pembeli. Ijab artinya penyerahan. Qobul artinya menerima. Apakah harus diucapkan lisan ijab qobulnya sebagaimana ketika ijab qobul nikah? Jumhur ulama sepakat bahwa tidak harus demikian. Contohnya adalah jual beli di supermarket. Pihak supermarket tidak pernah mengucapkan telah menjual suatu barang. Kita selaku pembelinya juga tidak pernah mengucapkan bahwa kita beli susu merk ini dengan berat ini seharga sekian ketika di kasir, cukup ambil susunya, kemudian bayar dan pergi. Namun, kedua belah pihak telah menyepakati adanya akad jual beli. Apa tandanya? Bagi penjual tandanya adalah memberikan label harga di barang jualannya dan memajangnya. Kalau nggak niat menjual, buat apa dilabeli harga? Bagi pembeli, qabul membelinya adalah ridhonya menyerahkan uang di kasir sebagai tanda membeli barang itu.

Ulama yang berbeda tentang tidak sahnya jual beli tanpa akad yang diucapkan lisan adalah Imam Syafii. Menurut beliau, jual beli tanpa akad adalah tidak sah, barangnya rampasan dan uang yang diberikan juga rampasan. Nah, orang Indonesia kan ngakunya mazhab Syafii. Jadi ya harus diucapkan setiap kali transaksi. Pas bayar angkot harus bilang dan supirnya harus bilang juga. Kalau nggak, ya nggak sah bayar angkotnya. Kita naik angkotnya dosa, pak supir dapat duit dari angkotnya juga dosa karena hasil merampas. Hehehe… Apa dalilnya Imam Syafii berpendapat demikian? Allah berfirman di Al Quran surat An Nisaa ayat 29: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu….” Beliau menafsirkan bahwa perniagaan yang suka-sama-suka (saling ridho) harus terucapkan, kalau diam-diam saja belum tentu ada keridhoan di antara penjual dan pembelinya. Jumhur ulama mengatakan bahwa betul Allah menyebutkan tentang harusnya saling ridho dalam perniagaan, tetapi tidak harus diucapkan, keridhoan itu bisa ditampakkan dari perbuatan atau dituliskan, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.

Rukun ketiga adalah objek yang dijualbelikan. Syarat pertama adalah barangnya harus benda suci (bukan najis). Rasul bersabda “Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya telah mengharamkan menjualbelikan khamr, bangkai dan babi”. Maka seluruh najis haram dijualbelikan. Benda najis contohnya kotoran manusia dari qubul dan dubur. Boleh dilakukan bisnis sedot tinja, yang tidak dibolehkan adalah tinja hasil sedotan itu kemudian dijual kepada pihak lain. Menurut Imam Syafii, kotoran ayam, kambing, dan sapi juga termasuk benda najis. Dengan demikian, tidak boleh dijualbelikan. Sedangkan menurut Imam Hambali, benda-benda tersebut tidak najis. Mayoritas ulama menguatkan pendapat Imam Hambali ini. Dalil pendapat Imam Hambali adalah adanya tindakan Rasul yang mengobati penduduk dengan meminum air susu unta dicampur dengan air kencing unta.

Syarat kedua adalah manfaat dari benda tersebut tidak diharamkan. Contohnya, tidak bolehnya menjualbelikan narkotika. Meskipun narkotika bukan benda najis, tetapi penggunaannya diharamkan oleh agama. Yang masih jadi perbedaan pendapat ulama kontemporer adalah tentang rokok. Ulama yang mengharamkan rokok, berarti otomatis haram baginya untuk menjualbelikan rokok. Adapun ulama yang membolehkan, berarti tidak ada masalah untuk berjual beli rokok. Jual beli berhala juga diharamkan meskipun bukan benda najis karena pemanfaatannya untuk menyekutukan Allah SWT.

Syarat ketiga adalah benda tersebut dimiliki terlebih dahulu. Pada poin ini yang banyak dilanggar. Syarat “tidak memiliki” yang dibolehkan adalah menjadi perantara, atau seseorang meminta kita untuk menjualkan suatu barang atau jasa. Meskipun bukan milik penjualnya, tapi adanya akad perintah menjualnya ini yang diperbolehkan. Dalinya adalah larangan Rasulullah kepada Hakim bin Hizam, jangan jual barang yang belum dimiliki. Adapun larangan ini dikecualikan dalam dua akad: salam dan istisna’. Mengapa? Karena ada dalil lain dari Rasulullah yang membolehkan dua akad tadi. Akad salam adalah menjual sesuatu yang telah jelas sifatnya namun belum ada bendanya saat akad, dengan harga yang dibayar di awal transaksi. Dalilnya adalah sebuah hadits Rasulullah ketika datang ke Madinah dan menemukan penduduknya melakukan hal ini pada buah untuk masa satu atau dua tahun, maka beliau bersabda, “Siapa yang melakukan jual beli al-salaf (secara salam), maka hendaklah melakukannya dalam takaran dan timbangan yang jelas (dan) untuk jangka waktu yang jelas pula”. Contoh yang ada sekarang misalnya kita membeli tiket kereta untuk bulan depan. Barangnya belum ada saat itu, baru kita nikmati bulan depan, tetapi sah secara syariat Islam. Istisna’ adalah pesan untuk minta dibuatkan kepada penjual. Contohnya adalah pesanan membangun rumah kepada seorang kontraktor rumah. Dari kaidah fiqih jual beli, terlihat melanggar karena barang yang dijualbelikan tidak ada dan tidak dimiliki oleh penjual. Tetapi, ijma’ ulama memutuskan dibolehkannya jual beli seperti ini.

Syarat keempat adalah bahwa barang dan harganya jelas. Contoh, ada pemilik rumah yang memberitahukan bahwa rumahnya dijual seharga 400 juta jika dibayar tunai di awal, tapi jika dibayar per bulan selama 2 tahun maka menjadi 18 juta per bulan. Si pembeli kemudian masuk dan menempati rumah tersebut sebelum terjadinya kesepakatan apakah akan membeli secara tunai atau secara mencicil. Harus jelas harga mana yang diambil atau disepakati antara penjual dan pembeli sebelum terjadinya akad jual beli. Adapun barang juga harus jelas wujudnya. Caranya dengan melihat langsung atau dengan dijelaskan spesifikasi barangnya oleh penjual. Yang tren sekarang seperti jual beli melalu media BBM atau whatsapp dan website, termasuk ke dalam cara untuk menjelaskan wujud barang. Jika nanti penjual tidak mengirimkan barang sesuai dengan spesifikasinya, maka penjual telah berdosa karena membohongi pembeli.

Syarat kelima adalah tidak adanya gharar dan riba. Gharar adalah jual beli dengan ketidakjelasan, contohnya: saya menjual sepetak tanah dengan harga sekian juta rupiah. Sepetak tanah tidak bisa didefinisikan ukuran dan lokasinya. Jual belinya harus menyertakan berapa ukuran tanahnya dan berada di lokasi mana. Adapun riba adalah jual beli yang meminta tambahan dalam menjual harta tertentu. Contohnya jual beli motor dengan bunga sekian persen. Islam tidak melarang jual beli kredit, dengan syarat harganya disepakati di awal dan tidak ada perubahan harga di tengah-tengah cicilannya. Detail jual beli gharar dan riba ini panjang. Detail fiqih jual beli juga masih lebih panjang. Monggoh ditanyakan detailnya ke ustadz yang faqih atau membaca buku referensi yang shahih.

Semoga bermanfaat ilmunya bagi kita semua. Aamiin…

Referensi:
1. Fiqh Muamalah Jual Beli dalam Islam: http://www.youtube.com/watch?v=BZUyF1spfuc
2. Harta Haram Muamalat Kontemporer karya Dr Erwandi Tarmizi
3. Ushul Fiqih Ringkas karya Ahmad Sarwat, MA
4. Film Seri Umar bin Khattab episode 24: http://www.youtube.com/watch?v=QOUBzzJFX0k
5. Ilmu-ilmu penulis yang didapatkan dari berbagai sumber dan guru

Keberkahan Rezeki

kalau rezeki kita seringnya datang dari rutinitas dan gampang kita duga, mungkin kita belum jadi hamba yang bertaqwa (QS Ath-Thalaaq: 2-3)

Nabi Ibrahim as menggambarkan hubungannya dengan Allah SWT dalam beberapa kalimat yang luar biasa. Detailnya dapat dilihat pada QS Asy Syu’ara ayat 78-82. Salah satunya adalah “dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku”. Kalimatnya sederhana, tetapi memiliki kekuatan iman luar biasa. Kita mengira bahwa satu-satunya jalan rezeki kita adalah angka gaji atau pekerjaan kita. Rezeki itu sangat luas dengan kebaikan-kebaikan yang dijaminkan oleh Allah SWT. Yang keluar masuk menjadi manfaat, namanya rezeki. Disebut rezeki berkah kalau keluar masuknya memberi manfaat sekaligus menguatkan ketaatan dan ibadah kita kepada Allah.

Gambaran hakikat rezeki sudah diajarkan orangtua saat kita masih kecil melalui senandungnya, Cicak-Cicak di Dinding. Kalau kita memosisikan diri sebagai cicak yang bisa berpikir, mungkin kita akan komplain kepada Allah SWT, bahwa Allah SWT sudah salah desain. Kita adalah cicak yang hanya bisa merayap, tetapi Allah SWT ciptakan makanannya berupa nyamuk yang bisa terbang ke mana-mana. Lantas, bagaimana caranya cicak ini bisa makan dengan kondisi demikian. Coba ingat lagi lirik lagunya. Ternyata bukan cicak yang mengejar nyamuk, melainkan nyamuk itu sendiri yang datang kepada cicak. Hap, lalu dimakan😀 Subhanallah!

Rezeki itu bukan yang tertulis di angka-angka gaji. Bagi perempuan yang belum menikah, ketika nanti menyeleksi calon suami, jangan cuma dilihat angka gajinya, lihat juga potensi rezekinya. Ada orang yang gajinya besar, tetapi rezekinya kecil. Kok bisa? Ada laki-laki bergaji 100 juta per bulan, tetapi mau makan gurih, dilarang dokter karena kolesterolnya tinggi. Mau minum manis, ada diabetesnya. Mau makan yang asin, ada hipertensinya. Sebagian dari rezeki itu sudah diambil kenikmatannya oleh Allah SWT.

Jangan juga mengira rezeki itu apa yang dipunya atau bisa dibeli. Di Jogja, ada pengusaha rumah makan yang memilik omzet miliaran per bulan, tidak bisa tidur di kasur karena punggungnya sakit. Tidurnya harus di atas tikar pandan dari Magelang, tidak bisa menggunakan tikar dari daerah lain. Hanya dari tikar itu, dia bisa tidur. Selain itu, nggak bakalan bisa tidur.

Rezeki itu betul-betul karunia Gusti Allah. Makanan lezat dan mahal bisa dibeli, tapi kadang-kadang lezatnya makan dikaruniakan Allah SWT hanya kepada nasi putih dan sambel bawang. Ranjang yang empuk bisa dibeli, tapi nikmatnya tidur kadang dikaruniakan Allah lewat nikmatnya tidur di trotoar beralas koran.

Ada seseorang yang punya penghasilan 5 dirham (sekitar Rp 500.000,00) sehari datang kepada Imam Syafi’i. Dia mengadu kepada Imam Syafi’i, bahwa penghasilannya itu tidak cukup memenuhi kebutuhan rumah tangganya, istrinya selalu mengeluh dan cemberut, anaknya bandel susah diatur, rasanya dunia begitu sempit baginya. Kemudian Imam Syafi’i memberi nasihat, nanti datang ke majikanmu lalu mintalah upah darinya 4 dirham saja sehari.

Beberapa pekan berlalu, datanglah kembali orang ini. Dia menceritakan kepada Imam Syafi’i, dengan upahnya yang 4 dirham sehari, kebutuhan keluarganya ternyata lebih dapat dicukupi, tetapi istrinya masih cemberut dan anak-anaknya masih sering ngeyel. Kemudian Imam Syafi’i memberikan nasihat lagi, kalau begitu nanti datang ke majikanmu dan mintalah upah untukmu hanya 3 dirham saja sehari.

Setelah upahnya hanya 3 dirham sehari, kehidupan rumah tangganya membaik, istrinya semakin banyak senyum, anak-anaknya semakin taat, sholeh, berbakti kepada orang tuanya. Imam Syafi’i menjelaskan penyebabnya: “Sebab jika engkau bekerja dan pekerjaanmu hanya layak dibayar 3 dirham lalu engkau mengambil yang 5 dirham, maka yang 2 dirham itu tidak halal bagimu. Setiap kali yang haram mencampuri yang halal, pasti akan merusaknya. Adapun ketika sesuatu itu bersih dan halal, maka Allah memberkahinya: menjadikannya kecukupan, kebaikan dan kebahagiaan”.

Maka kalau pekerjaan Anda, masuk kantor, absen, baca koran, main pingpong, ngobrol-ngobrol, masuk kantin, ngopi-ngopi, nonton TV lalu digaji oleh rakyat senilai 10 juta sebulan, kedzoliman apa yang sedang Anda masukkan ke dalam diri Anda sendiri? Hanya menyampaikan bahwa hakikatnya demikian: pekerjaan yang layak dibayar tinggi tetapi Anda peroleh rendah, maka Anda sedang menabung kebaikan-kebaikan yang sangat banyak. Tapi pekerjaan yang sangat sepele dan remeh dan tidak ditunaikan dengan baik, sementara gajinya tetap dibayar penuh, Anda sedang menanggung keburukan-keburukan.

Tugas kita selaku manusia adalah bekerja karena bekerja itu hakikatnya adalah ibadah. Di mana Allah letakkan rezeki, semakin banyak kejutannya, mudah-mudahan semakin tanda bahwa kita orang bertaqwa. Ketika Siti Hajar bolak-balik ke Shofa dan Marwa’ sebanyak 7 kali mencari sumber air untuk bayinya yang bernama Ismail as, ternyata sumber airnya memancar di dekat kaki Ismail as. Itulah hakikat rezeki dari Allah SWT. Allah SWT letakkan di manapun dia suka, mudah-mudahan semakin penuh kejutan, itu tanda kita bertaqwa, agar kita lebih mudah bersabar dan bersyukur.

disarikan dari sebagian tausiyah Salim A Fillah di sini